MSCI dan FTSE Coret Saham RI, Momentum Benahi Pasar Modal

MSCI dan FTSE Coret Saham RI, Momentum Benahi Pasar Modal

Pencoretan saham RI dari indeks global dinilai jadi alarm untuk memperkuat transparansi dan kualitas pasar.

(Kompas.com) 18/05/26 10:20 223376

JAKARTA, KOMPAS.com - Gelombang pencoretan saham Indonesia dari indeks global MSCI dan FTSE Russell memunculkan tekanan baru di pasar modal domestik. Namun, di balik gejolak tersebut, langkah dua lembaga indeks dunia itu dinilai dapat menjadi momentum pembenahan kualitas dan kredibilitas pasar saham Indonesia.

Tekanan terhadap pasar muncul setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) lebih dulu mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeks globalnya pada evaluasi Mei 2026. Tak lama berselang, FTSE Russell juga mengambil langkah serupa terhadap saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

“Selama ini, akhir-akhir ini pasar kita ada dalam kondisi ketidakpastian yang sangat tinggi. Dan sumber ketidakpastiannya itu banyak, mulai dari gejolak geopolitik, baik yang terjadi di Timur Tengah, kemudian juga fluktuasi harga komoditas dan mata uang (rupiah). Dan salah satu unsur ketidakpastian itu adalah pasar menunggu keputusan dari MSCI,” ujar Pejabat Sementara Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik saat konferensi pers di gedung BEI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

MSCI mengeluarkan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Selain itu, MSCI juga menghapus 13 saham Indonesia dari MSCI Small Cap Indexes, termasuk PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), hingga PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).

Seluruh perubahan tersebut berlaku setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026 dan efektif mulai 1 Juni 2026.

FTSE Russell Soroti Likuiditas Saham

Di tengah rebalancing MSCI, FTSE Russell juga mengumumkan penghapusan saham Indonesia yang masuk kategori HSC dalam tinjauan indeks Juni 2026.

“FTSE Russell akan menghapus sekuritas yang terdampak (HSC) dengan harga nol pada tinjauan Juni 2026, yang akan efektif pada pembukaan perdagangan Senin, 22 Juni 2026,” tulis FTSE Russell dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).

FTSE Russell menilai langkah tersebut diperlukan untuk menjaga integritas indeks. Lembaga itu menerima masukan terkait potensi penurunan likuiditas saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi yang dapat menyulitkan investor pasif keluar dari saham secara wajar.

Selain menghapus saham HSC, FTSE Russell juga memutuskan tetap menunda penambahan emiten baru, kenaikan bobot free float, dan re-ranking indeks penuh hingga setidaknya September 2026, termasuk bagi emiten hasil initial public offering (IPO).

Meski demikian, FTSE Russell tetap mengapresiasi agenda reformasi pasar modal yang dilakukan otoritas Indonesia dan akan terus memantau efektivitas peningkatan transparansi pasar.

Momentum Evaluasi Pasar

Di tengah tekanan pasar, sejumlah pelaku pasar menilai pencoretan saham Indonesia dari indeks global lebih bersifat teknikal dibanding mencerminkan pelemahan fundamental perusahaan.

“Pelaku pasar seharusnya lebih tenang dan tidak terjebak dalam kepanikan jual. Penghapusan sejumlah emiten dari indeks ini lebih bersifat teknikal terkait metodologi bobot dan likuiditas,” ujar Co Founder PasarDana Hans Kwee melalui keterangannya, Rabu (13/5/2026).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan aksi jual investor asing memang berpotensi terjadi karena fund manager global harus menyesuaikan portofolionya dengan komposisi indeks terbaru.

“Hemat saya outflow ya pasti juga terjadi. Biasanya kalau fund manager yang mereferensikan MSCI standard tentu akan terpaksa menjual saham tersebut untuk menyesuaikan dengan komposisi indeks terbaru,” ujar Nafan.

Meski begitu, Jeffrey menilai keputusan MSCI setidaknya mengurangi salah satu sumber ketidakpastian di pasar saham domestik.

“Oleh karena itu tentu kami melihat dengan apa yang disampaikan oleh MSCI hari ini mengurangi satu unsur ketidakpastian,” paparnya.

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun pun meminta pelaku pasar menjadikan evaluasi MSCI dan FTSE Russell sebagai momentum pembenahan pasar modal nasional.

“Pasar modal yang kuat tidak dibangun hanya dari euforia kenaikan indeks, tetapi dari kredibilitas sistem, kualitas tata kelola, dan kepercayaan investor terhadap integritas pasar,” kata Misbakhun dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Menurut Misbakhun, tekanan IHSG dalam beberapa pekan terakhir lebih dipengaruhi penyesuaian portofolio jangka pendek dibanding pelemahan fundamental ekonomi nasional. Karena itu, investor diminta melihat kondisi pasar dalam perspektif jangka panjang.

Ia juga mendorong penguatan basis investor domestik, peningkatan kualitas emiten, serta pendalaman pasar keuangan agar ketahanan pasar modal Indonesia tidak terlalu bergantung pada arus modal asing jangka pendek. Menurut dia, fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat untuk menopang prospek pasar modal ke depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#jakarta #msci #ftse-russel

https://money.kompas.com/read/2026/05/18/102032726/msci-dan-ftse-coret-saham-ri-momentum-benahi-pasar-modal