Sindiran Tisna Sanjaya Atas Warisan Orba Lewat Aksi 'Mesin Cuci'
Seniman Tisna Sanjaya mengkritik warisan Orde Baru lewat performa di Nadi Gallery, menggunakan simbol keseharian seperti mesin cuci untuk menggambarkan manipulasi sejarah oleh kekuasaan.
(Bisnis.Com) 07/05/26 02:27 213729
Bisnis.com, JAKARTA--Seniman Tisna Sanjaya menghadirkan kritik terhadap warisan Orde Baru melalui sebuah performa dalam pameran ARTi Teddy di Nadi Gallery. Seniman asal Bandung itu beraksi di depan pengunjung dengan penuh penghayatan.
Beraksi di depan karya bertajuk Cleaning Service & Laundry (2026), Tisna memadukan instalasi, aksi performans, dan simbol keseharian untuk membicarakan cara sejarah dipoles dan dibersihkan dari jejak kekuasaan.
Selama hampir tujuh menit, Tisna bergerak di depan instalasi yang terdiri dari mesin cuci, baskom, video, pelantang suara, lampu tali, hingga deretan kaos yang merepresentasikan simbol-simbol kekuasaan Orde Baru.
Aksi dimulai ketika Tisna mencuci kaos-kaos yang digantung di atas mesin cuci. Setelah itu dia mengepel lantai yang basah, menghadirkan suasana seperti ruang kerja domestik yang tenang, namun menyimpan sindiran politik yang kuat.
Bagi Tisna, aktivitas mencuci bukan sekadar tindakan membersihkan benda. Dia menggunakan simbol itu untuk menggambarkan bagaimana sejarah kerap “dibersihkan” atau disederhanakan demi membentuk citra tertentu terhadap tokoh maupun rezim masa lalu.
“Jadi semuanya dicuci bersih. Mesin cuci ini juga bisa menjadi metafora seolah-olah dosa-dosa itu sudah dicuci bersih ketika seseorang dijadikan pahlawan,” kata Tisna.
Melalui karya tersebut, Tisna juga menyinggung bagaimana memori kolektif masyarakat dapat berubah seiring waktu. Simbol-simbol kekuasaan yang dahulu dianggap represif kini perlahan kembali hadir dalam ruang publik dengan citra yang lebih lunak dan romantis.
Pendekatan kritik sosial seperti itu memang telah lama menjadi bagian dari praktik artistik Tisna. Perupa asal Bandung tersebut dikenal sering menggabungkan isu politik, lingkungan, hingga kemanusiaan melalui medium yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam performans di ARTi Teddy, penggunaan mesin cuci dan aktivitas mengepel lantai juga menghadirkan metafora yang mudah dikenali publik. Namun di balik kesederhanaannya, Tisna menyelipkan kritik tentang bagaimana kekuasaan dapat memanipulasi ingatan masyarakat melalui simbol dan narasi sejarah.
Kehadiran karya tersebut juga berkaitan dengan relasi personal Tisna dengan almarhum S. Teddy D. Keduanya pernah mengikuti program residensi di Ludwig Forum for International Art pada awal 2000-an dengan fasilitasi Cemeti Institute.
Tisna mengenang Teddy sebagai figur yang memiliki energi kolektif kuat dalam dunia seni rupa Indonesia pascareformasi. Selama berada di Jerman, keduanya banyak berdiskusi mengenai situasi sosial dan perkembangan seni kontemporer Indonesia.
“Padahal saya waktu itu belum begitu kenal, tapi ketika disatukan di Aachen itu luar biasa. Jadi saling berbagi, karakternya tentu saja beda, tapi karena energi dari dalamnya itu tulus kami jadi akrab,” ujar Tisna.
Kedekatan itu membuat performans Tisna di ARTi Teddy terasa bukan hanya sebagai kritik politik, tetapi juga penghormatan terhadap semangat kebebasan berpikir yang dimiliki Teddy. Semangat tersebut tercermin dalam keberanian menggunakan seni sebagai medium untuk mempertanyakan kekuasaan dan sejarah.
Melalui Cleaning Service & Laundry, Tisna menunjukkan bahwa karya seni tidak selalu harus tampil megah untuk menyampaikan kritik sosial. Dengan simbol sederhana dia justru menghadirkan pertanyaan mendalam tentang bagaimana bangsa ini mengingat, melupakan, dan menafsirkan kembali sejarah Orde Baru.
#seniman-tisna-sanjaya #kritik-kekuasaan #performa-seni #orde-baru #instalasi-seni #simbol-keseharian #sejarah-dipoles #mesin-cuci #sindiran-politik #memori-kolektif #kritik-sosial #medium-sehari-hari #n-a