Bank Asing di Indonesia Fokus Incar Nasabah Tajir, Lepas Segmen Ritel

Bank Asing di Indonesia Fokus Incar Nasabah Tajir, Lepas Segmen Ritel

Bank asing di Indonesia mengalihkan fokus dari ritel ke wealth management, seperti OCBC NISP yang mengakuisisi bisnis HSBC.

(Bisnis.Com) 06/05/26 09:56 212722

Bisnis.com, JAKARTA — Segmen nasabah kelas atas atau wealth management kian menjadi fokus bank asing di Indonesia, seiring berkurangnya eksposur mereka di bisnis ritel massal dalam beberapa tahun terakhir.

Perubahan arah ini kembali terlihat dari langkah PT Bank OCBC NISP Tbk. yang mengakuisisi bisnis International Wealth and Premier Banking milik PT Bank HSBC Indonesia. Transaksi tersebut mencakup lebih dari 336.000 nasabah dengan total aset kelolaan sekitar Rp89,8 triliun, yang terdiri dari investasi Rp58,2 triliun, simpanan Rp31,6 triliun, serta kredit ritel Rp3,6 triliun.

Presiden Direktur OCBC Indonesia Parwati Surjaudaja mengatakan akuisisi ini menjadi bagian dari strategi memperkuat bisnis pengelolaan kekayaan.

“Akuisisi ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi kami di segmen wealth management di Indonesia,” ujarnya.

HSBC menyatakan pengalihan bisnis tersebut merupakan hasil dari peninjauan strategis terhadap operasi ritel di Indonesia. “Pengalihan ini merupakan hasil terbaik bagi operasi ritel HSBC Indonesia, pelanggan, dan kolega kami,” tulis perseroan.

HSBC juga menegaskan tetap berkomitmen di Indonesia melalui bisnis corporate and institutional banking yang tidak terdampak oleh transaksi tersebut.

Fenomena ini melanjutkan tren serupa dalam beberapa tahun terakhir. Citibank Indonesia telah menjual bisnis consumer banking kepada UOB Indonesia yang efektif pada 18 November 2023.

Transaksi ini merupakan bagian dari strategi global Citigroup untuk keluar dari bisnis ritel di sejumlah pasar dan fokus pada layanan institusional, serta menghasilkan keuntungan modal sekitar US$1,1 miliar di empat negara Asia Tenggara.

Selanjutnya, OCBC juga telah mengakuisisi Commonwealth Bank pada 2024 dengan nilai transaksi sekitar Rp2,2 triliun dan kini menjadi pemegang 100% saham bank tersebut.

Sementara itu, Standard Chartered memilih melakukan konsolidasi parsial dengan mengalihkan sebagian portofolio kredit ritelnya kepada Bank Danamon Indonesia pada 2023, mencakup kartu kredit, KPR, dan KTA dengan nilai aset lebih dari Rp1 triliun, namun tetap mempertahankan sebagian lini bisnis ritel.

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai tren ini mencerminkan pertemuan antara strategi global dan kondisi domestik.

“Ini bukan soal memilih antara strategi global atau masalah domestik. Keduanya jalan bareng. Dari sisi HSBC, arah restrukturisasi global memang sudah jelas. Mereka sedang merapikan bisnis, menekan biaya, dan memilih pasar mana yang benar benar bisa memberi return optimal,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa struktur pasar domestik membuat persaingan di segmen ritel semakin berat bagi bank asing, terutama karena dominasi bank besar nasional dari sisi dana murah, jaringan, dan digitalisasi.

“Jadi kalau disederhanakan, tekanan dari kantor pusat untuk meningkatkan efisiensi ketemu dengan realitas bahwa untuk tumbuh di ritel Indonesia butuh investasi besar dengan hasil yang belum tentu menarik. Di situ keputusan exit jadi rasional,” katanya.

Menurut dia, meskipun segmen ritel semakin kompetitif, peluang masih terbuka di segmen affluent dan wealth management, yang juga tercermin dari struktur transaksi HSBC yang didominasi aset investasi.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai tren ini menegaskan bahwa bank asing tidak keluar dari Indonesia, melainkan mengubah fokus bisnis.

“Ini menegaskan bahwa bank asing tidak keluar dari Indonesia, tetapi mengalihkan fokus dari segmen ritel massal yang padat modal dan margin tipis, ke segmen bernilai tinggi yang lebih sesuai dengan keunggulan global mereka,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa tekanan kompetisi dari bank domestik, terutama dalam penguasaan dana murah dan ekosistem digital, membuat bisnis ritel menjadi kurang efisien bagi bank asing, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan investasi teknologi.

“Prospek bank asing di Indonesia tetap kuat, tetapi akan semakin tersegmentasi. Mereka cenderung fokus pada corporate banking, trade finance, treasury, dan wealth management,” ujarnya.

#nasabah-kaya #bank-asing #wealth-management #akuisisi-bank #hsbc-indonesia #ocbc-nisp #bisnis-ritel #corporate-banking #investasi-bank #segmen-affluent #strategi-global #pasar-domestik #bank-nasional #n-a

https://finansial.bisnis.com/read/20260506/90/1971709/bank-asing-di-indonesia-fokus-incar-nasabah-tajir-lepas-segmen-ritel