E20 Jadi Strategi Baru, Campuran Etanol untuk Kurangi Impor BBM

E20 Jadi Strategi Baru, Campuran Etanol untuk Kurangi Impor BBM

Pemerintah mulai mengarahkan kebijakan energi ke pengembangan bahan bakar nabati berbasis etanol melalui rencana mandatori E20.

(Kompas.com) 04/05/26 13:00 210281

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah mulai mengarahkan kebijakan energi ke pengembangan bahan bakar nabati berbasis etanol melalui rencana mandatori E20, yakni pencampuran 20 persen etanol dalam bensin.

Langkah ini diposisikan sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak sekaligus membuka peluang ekonomi baru dari sektor pertanian.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan, gagasan E20 lahir dari upaya mencari alternatif pengganti bahan bakar fosil, dengan meniru keberhasilan program biodiesel berbasis sawit.

Tangkap Layar Youtube Himpunan Alumni IPB Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam acara Sinergi Alumni IPB di Jakarta pada Sabtu, (2/5/2026).

“Nah, saya putar otak lagi, bagaimana caranya agar kemudian kita tidak tergantung lagi pada fosil. Kita harus geser ke energi nabati,” ujar Bahlil saat memberikan sambutan pada acara Sinergi Alumni IPB di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).

Menurut dia, jika solar bisa dicampur dengan bahan nabati seperti crude palm oil (CPO), maka bensin juga dapat memiliki substitusi serupa melalui etanol.

“Maka muncullah ide saya waktu itu. Malam-malam saya duduk berpikir, kalau solar kita bisa pakai CPO, kenapa tidak kita pakai lagi nabati lain untuk bensin?” katanya.

E20 sebagai pintu masuk

Bahlil menegaskan, pemerintah akan mendorong penerapan mandatori E20 sebagai tahap awal.

“Itulah kemudian saya lontarkan, bahwa saya akan bikin mandatori atas perintah Bapak Presiden, E20,” ujarnya.

E20 merupakan campuran 20 persen etanol dan 80 persen bensin. Skema ini dinilai lebih realistis sebagai fase awal sebelum menuju tingkat campuran yang lebih tinggi.

SHUTTERSTOCK Ilustrasi BBM.

“Inilah kira-kira cara kita untuk bagaimana mendatangkan dan menuju kepada ketahanan energi kita,” kata Bahlil.

Selain mengurangi impor energi, kebijakan ini juga diarahkan untuk memperluas basis ekonomi domestik melalui pemanfaatan komoditas pertanian seperti tebu, jagung, dan singkong.

“Nah, ini pekerjaan IPB lagi. Karena pasti lahan-lahan pertanian akan dibuka lagi, kan, kira-kira: singkong, jagung, tebu. Untuk apa? Menciptakan pendapatan dan lapangan pekerjaan baru di daerah,” ujarnya.

Peta global: dari E10 hingga E100

Data Kementerian ESDM menunjukkan, kebijakan pencampuran etanol dalam bensin telah diterapkan di berbagai negara dengan tingkat blending yang beragam.

Brasil menjadi salah satu negara dengan tingkat adopsi tertinggi, dengan campuran E27 dan bahkan E100 untuk kendaraan tertentu. Etanol di Brasil berbasis tebu.

Amerika Serikat (AS) menerapkan E10 dan E85 yang keduanya berbasis jagung, sementara Argentina berada di kisaran E12 yang dibuat dari campuran bensin dan jagung serta tebu.

Di kawasan Asia, India telah menerapkan E20 yang berbasis tebu, sejalan dengan target yang kini juga ingin dicapai Indonesia. Thailand menggunakan kombinasi E20 dan E85 yang berbasis jagung dan tebu, sedangkan Filipina, Vietnam, dan China umumnya berada di level E10.

Negara-negara Eropa seperti Jerman dan Perancis juga mengadopsi E10 sebagai standar campuran etanol dalam bensin. Jerman mencampur bensin dengan etanol berbasis jagung dan gandum, sementara Perancis membuat etanol berbasis bit gula dan jagung.

Variasi tingkat blending ini menunjukkan bahwa etanol telah menjadi bagian dari kebijakan energi di berbagai negara, dengan penyesuaian terhadap kondisi ekonomi, teknologi, dan ketersediaan bahan baku masing-masing.

PIXABAY/CHOKNITI KHONGCHUM Ilustrasi etanol.

Belajar dari Brasil: integrasi pertanian dan energi

Dalam merancang kebijakan E20, pemerintah mempelajari pengalaman negara lain, terutama Brasil yang dinilai berhasil mengembangkan etanol sebagai bagian dari sistem energi nasional.

“Berangkatlah saya ke Brasil dan beberapa negara lain. Saya belajar, ternyata di Brasil itu sudah mandatori E30. Bahkan di beberapa negara bagian sudah E100, etanol,” ujar Bahlil.

Data Bank Dunia menunjukkan, Brasil telah memulai program etanol sejak 1970-an untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak.

Program tersebut berkembang menjadi ekosistem terintegrasi yang menghubungkan sektor pertanian, industri pengolahan, distribusi bahan bakar, teknologi kendaraan, serta kebijakan pemerintah.

Saat ini, sektor transportasi Brasil menggunakan sistem bahan bakar fleksibel, di mana bensin secara rutin dicampur dengan etanol dan sebagian besar kendaraan dapat menggunakan berbagai tingkat campuran.

Biofuel bahkan menyumbang lebih dari seperempat konsumsi energi transportasi di negara tersebut.

Keberhasilan ini tidak hanya bergantung pada produksi tebu sebagai bahan baku, tetapi juga pada dukungan sistem yang terkoordinasi, mulai dari produksi skala besar dengan produktivitas tinggi, infrastruktur pengolahan dan distribusi, kebijakan mandatori pencampuran, hingga adopsi kendaraan flex-fuel secara luas.

Pendekatan ini menjadikan sektor pertanian sebagai bagian dari infrastruktur energi. Lahan tebu tidak hanya menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga menjadi sumber energi.

India dan Thailand percepat E20

Selain Brasil, sejumlah negara di Asia juga mulai mengadopsi kebijakan serupa.

Freepik/jcomp Ilustrasi BBM.

India, misalnya, telah mempercepat program pencampuran etanol dan mendekati target nasional E20.

Hingga 2025, tingkat pencampuran etanol dalam bensin di negara tersebut telah mencapai sekitar 18 hingga 19 persen.

Kebijakan ini bertujuan untuk menekan impor minyak, menstabilkan pendapatan petani, serta mendiversifikasi sumber energi. Produksi etanol di India sebagian besar berasal dari molase tebu dan mulai berkembang ke bahan baku lain seperti jagung.

Thailand juga mengembangkan pasar bahan bakar campuran etanol atau gasohol yang telah tersedia luas di dalam negeri.

Pemerintah mendukung pembangunan kilang etanol sekaligus mendorong penggunaan bahan bakar campuran di sektor transportasi.

Bahlil menilai, pengalaman negara-negara tersebut menunjukkan bahwa implementasi E20 bukan hal baru.

“Sudah lolos uji semua ini, termasuk India sudah E20, Thailand, Amerika,” ujarnya.

Ketahanan energi dan risiko global

Dorongan terhadap E20 juga berkaitan dengan dinamika global yang penuh ketidakpastian, terutama terkait pasokan energi.

Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mencatat, kenaikan harga minyak global sebesar 10 persen dapat menekan pertumbuhan ekonomi dunia sekitar 0,1 hingga 0,2 poin persentase.

Sementara itu, banyak negara berkembang masih bergantung pada impor energi. Data Bank Dunia menunjukkan India mengimpor lebih dari 85 persen kebutuhan minyak mentahnya, sementara negara-negara Asia Tenggara lainnya juga memiliki ketergantungan tinggi.

SHUTTERSTOCK/SVEN HANSCHE Ilustrasi kapal tanker.

Kondisi ini membuat sektor transportasi sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak global. Dampaknya tidak hanya pada biaya energi, tetapi juga merambat ke harga pangan, biaya logistik, dan daya beli masyarakat.

Dalam konteks tersebut, kebijakan seperti E20 menjadi salah satu opsi untuk mengurangi eksposur terhadap volatilitas harga minyak.

"Bahan bakar hayati, khususnya etanol yang berasal dari tanaman pertanian, mungkin menawarkan jalur yang kurang dihargai untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dalam transportasi," kata Mohammad Abul Azad, ekonom senior di Development Data Group Bank Dunia.

Tantangan implementasi E20

Azad menjelaskan, meski menawarkan peluang, pengembangan etanol juga menghadapi sejumlah tantangan.

Pertama, ketersediaan lahan dan produktivitas pertanian menjadi faktor penting. Brasil memiliki tingkat produktivitas tebu yang tinggi, sehingga produksi etanol menjadi lebih efisien.

"Negara dengan produktivitas lebih rendah berpotensi menghadapi biaya yang lebih tinggi," tulisnya dalam laman resmi Bank Dunia.

Kedua, terdapat risiko konflik antara kebutuhan pangan dan energi. Produksi etanol dalam skala besar membutuhkan lahan, air, dan input lainnya yang juga digunakan untuk produksi pangan.

Jika tidak dikelola dengan baik, alokasi lahan dapat bergeser dari tanaman pangan ke komoditas energi seperti tebu atau jagung, yang berpotensi menekan pasokan pangan dan meningkatkan harga, terutama di kawasan dengan tekanan populasi tinggi seperti Asia Selatan dan Asia Tenggara.

SHUTTERSTOCK/ZELJKO RADOJKO Ilustrasi tanaman jagung, menanam jagung, budidaya jagung.

Oleh karena itu, perumusan kebijakan perlu mempertimbangkan keseimbangan antara ketahanan energi dan ketahanan pangan.

Pemanfaatan produk sampingan seperti molase atau peningkatan produktivitas pertanian menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi risiko tersebut.

Ketiga, kesiapan sistem pendukung juga menjadi kunci. Pasar etanol membutuhkan kebijakan mandatori yang konsisten, teknologi kendaraan yang kompatibel, serta infrastruktur distribusi yang memadai.

Tanpa dukungan tersebut, industri biofuel akan sulit berkembang dalam skala besar.

Biofuel sebagai solusi transisi

Dalam jangka panjang, biofuel seperti etanol diposisikan sebagai solusi transisi, bukan pengganti tunggal energi fosil.

Energi terbarukan seperti surya dan angin diperkirakan akan mendominasi sektor kelistrikan. Namun, sektor transportasi yang masih bergantung pada bahan bakar cair membutuhkan waktu lebih lama untuk beralih sepenuhnya ke listrik.

Dalam konteks ini, E20 dapat menjadi jembatan transisi dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada.

Bagi Indonesia, kebijakan ini juga membuka peluang untuk mengintegrasikan sektor pertanian ke dalam sistem energi nasional, sebagaimana yang dilakukan Brasil.

Bahlil menegaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menuju kemandirian energi.

“Inilah kira-kira cara kita untuk bagaimana mendatangkan dan menuju kepada ketahanan energi kita,” ujar dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#bahan-bakar-nabati #etanol #indepth #bahlil-lahadalia #ketahanan-energi #e20

https://money.kompas.com/read/2026/05/04/130000026/e20-jadi-strategi-baru-campuran-etanol-untuk-kurangi-impor-bbm