Trump Tak Puas dengan Proposal Iran, Negosiasi Konflik Masih Buntu

Trump Tak Puas dengan Proposal Iran, Negosiasi Konflik Masih Buntu

Presiden AS Donald Trump menilai proposal terbaru Iran belum memadai, menandakan negosiasi masih buntu di tengah ketegangan geopolitik

(Kompas.com) 02/05/26 10:58 209045

KOMPAS.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal terbaru Iran dalam upaya melanjutkan negosiasi konflik yang telah berlangsung sekitar dua bulan.

Dikutip dari Reuters, Sabtu (2/5/2026), pernyataan itu menandakan kebuntuan antara Washington dan Teheran masih berlanjut, meski kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata pada 8 April 2026.

Hingga kini, belum ada kepastian pertemuan lanjutan setelah pembicaraan singkat yang dimediasi Pakistan pada bulan sebelumnya.

Trump mengatakan pihak Iran memang menunjukkan keinginan untuk mencapai kesepakatan, tetapi isi proposal dinilai belum memenuhi harapan Amerika Serikat.

“Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi saya tidak puas dengan itu,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Ia juga menilai kepemimpinan Iran tidak solid dan terpecah ke dalam beberapa kelompok, sehingga menyulitkan proses negosiasi.

Iran buka opsi diplomasi

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa Teheran tetap membuka pintu diplomasi. Namun, ia mensyaratkan perubahan pendekatan dari Amerika Serikat.

Menurut Araqchi, AS perlu menghentikan retorika yang dianggap mengancam serta tindakan provokatif jika ingin mendorong kemajuan perundingan.

Meski demikian, ia menegaskan militer Iran tetap dalam kondisi siaga untuk menghadapi potensi ancaman.

Ketegangan dengan sekutu meningkat

Di tengah kebuntuan tersebut, hubungan Amerika Serikat dengan sekutu tradisionalnya juga menunjukkan tanda-tanda keretakan. Washington mengumumkan rencana penarikan sekitar 5.000 personel militer dari Jerman.

Langkah ini dikaitkan dengan perbedaan pandangan antara Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz, yang sebelumnya mengkritik strategi AS dalam menghadapi Iran.

Seorang pejabat senior Pentagon menyebut pernyataan dari pihak Jerman sebagai “tidak pantas dan tidak membantu”.

Selat Hormuz jadi titik sengketa

Salah satu isu utama yang masih diperdebatkan adalah kendali atas Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Amerika Serikat mengklaim telah memblokade jalur tersebut secara penuh, sementara Iran menuntut penghentian blokade sebagai syarat pembukaan kembali akses pelayaran.

Dalam proposal terbarunya, Iran disebut menawarkan pembahasan terkait pembukaan selat, dengan syarat AS menghentikan serangan dan mencabut blokade.

Harga minyak berfluktuasi

Perkembangan negosiasi turut memengaruhi pasar energi global. Harga minyak sempat mencapai level tertinggi dalam empat tahun sebelum akhirnya terkoreksi.

Minyak mentah Brent tercatat turun sekitar 1 persen ke kisaran 108–109 dollar AS per barel pada perdagangan Jumat (1/5/2026).

Pelemahan ini terjadi seiring pelaku pasar mengurangi posisi sambil menunggu perkembangan terbaru dari konflik.

Trump pilih jalur negosiasi

Meski tidak menutup opsi militer, Trump mengisyaratkan lebih memilih penyelesaian melalui jalur diplomasi.

“Apakah kita ingin menghancurkan mereka sepenuhnya, atau mencoba membuat kesepakatan?” kata Trump.

Ia menambahkan, secara kemanusiaan, dirinya tidak lebih menyukai opsi serangan militer tambahan.

Tekanan ekonomi dan risiko global

Konflik yang dimulai sejak 28 Februari 2026 itu telah menelan ribuan korban jiwa dan memicu kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global.

Blokade terhadap ekspor energi Iran juga memperburuk kondisi ekonomi negara tersebut. Namun, Teheran dinilai masih mampu bertahan di tengah tekanan.

Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei bahkan meminta pelaku usaha untuk menghindari pemutusan hubungan kerja di tengah dampak perang.

Sementara itu, Duta Besar China untuk PBB Fu Cong menekankan pentingnya mempertahankan gencatan senjata dan segera membuka kembali Selat Hormuz.

Ia menyebut isu tersebut berpotensi menjadi agenda utama dalam pembicaraan antara Presiden China Xi Jinping dan Trump jika kondisi belum berubah dalam waktu dekat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#amerika-serikat #donald-trump #harga-minyak #perang-iran #gencatan-senjata #negosiasi-damai #selat-hormuz

https://money.kompas.com/read/2026/05/02/105821526/trump-tak-puas-dengan-proposal-iran-negosiasi-konflik-masih-buntu