Sudirman Said Ungkap Tiga Faktor yang Mengancam Keamanan Energi
Mantan Menteri ESDM Sudirman Said menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian bagi pasokan minyak dunia, termasuk bagi Indonesia. Konflik... | Halaman Lengkap
(SINDOnews Ekbis) 30/04/26 21:40 208152
JAKARTA - Konflik di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian bagi pasokan minyak dunia. Termasukbagi Indonesia, negeri pengimpor lebih dari satu juta barel minyak per hari. Wanti-wanti itu disampaikan oleh mantan Menteri ESDM Sudirman Said dalam diskusi di kantor DPP PKS di Jakarta Selatan, pada Kamis (30/4/2026)."Ketidakpastiannya ada di tiga isu, yaitu: harga, ketersediaan suplai, dan jalur logistik," kata Sudirman.
Sinyalemen Sudirman itu merujuk pada penilaian dari Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) yang menyebutnya sebagai the largest supply disruption in the history of the global oil market. Oleh karena itu, lanjut dia, ketahanan energi kita pun sangat rentan, terutama karena ketergantungan impor yang tinggi sekali itu.
Sudirman kemudian menjelaskan dampak langsung ketergantungan impor terhadap stabilitas mata uang. Rumusnya adalah, tingginya impor dan kenaikan harga akan menekan kurs rupiah. “Untuk impor, kita harus belanja valas sehari senilai USD100 juta. Itu angka minimalnya," jelas Sudirman.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, total impor migas Indonesia pada 2025 mencapai 55,33 juta ton; nilainya adalah USD32,77 miliar atau sekitar USD89,8 juta per hari. Pada harga brent yang kini berkisar USD96-111 per barel, angka harian tersebut telah melampaui ambang USD100 juta. Pasar langsung meresponsnya.
Pada 29 April 2026, rupiah merosot ke rekor terendah sepanjang masa, yakni Rp17.326 per USD1, tertekan harga brent yang bertahan di kisaran USD111 dolar per barel selama delapan hari berturut-turut. Kombinasi antara mahalnya minyak dunia dan melemahnya rupiah menciptakan tekanan ganda bagi struktur biaya energi dalam negeri.
Namun, apakah itu merupakan ancaman terbesar bagi keamanan energi (energy security) Indonesia? “Bukan. Ancaman terbesar datangnya justru dari dalam negeri, mencakup tiga aspek fundamental,” ungkap Sudirman.
Apakah tiga aspek fundamental itu? "Pertama adalah kesukaan pada short-termism atau pola pikir jangka pendek. Kedua, dominannya politik dan kebijakan populis. Ketiga, maraknya konflik-kepentingan antara pengambil kebijakan dan pelaku usaha yang celakanya makin terang-terangan tanpa malu,” papar Sudirman.
Kombinasi dari ketiga biang kerok masalah itu, imbuh Sudirman, berujung pada satu konsekuensi, yakni kegagalan sistemik dalam mengelola urusan-urusan strategis berdimensi jangka panjang.
"Tiga biang kerok itulah yang membuat kita selalu gagal dalam mengelola urusan-urusan fundamental dan berdimensi jangka panjang. Mulai dari eksplorasi minyak dan gas bumi beserta riset dan pengembangannya, transisi energi, tata-kelola pasokan minyak, dan lain-lain," tukas Sudirman.
Dalam kebijakan transisi energi, Sudirman menyebut ada inkonsistensi yang polanya sama dari dekade ke dekade. "Riuh-rendah transisi energi hanya ada dalam suasana harga minyak ekstrem tinggi. Begitu keadaan normal, kita terninabobokan dan kembali pada mode business as usual," jelasnya.
Sudirman yang kini Rektor Universitas Harkat Negeri itu juga mengingatkan, krisis saat ini seharusnya menjadi momentum titik-balik. “Selama produksi tidak meningkat signifikan, Indonesia akan terus bergantung pada impor, alias selalu rentan terhadap gejolak harga minyak global,” ujarnya.
"Pertanyaan krusial saat ini bukanlah ‘bagaimana kita bertahan melewati krisis’, melainkan ‘mengapa kita selalu saja tidak siap ketika krisis datang’. Kita seperti bukan bangsa pembelajar,” tandas Sudirman.
(shf)
#diskusi #ketahanan-energi #sudirman-said #pks #keamanan-energi