Pelaku Pasar Buka Suara Soal Target IPO hingga Transaksi BEI 2026

Pelaku Pasar Buka Suara Soal Target IPO hingga Transaksi BEI 2026

Bursa Efek Indonesia menurunkan target IPO dan RNTH 2026 untuk fokus pada kualitas pasar, bukan kuantitas, demi meningkatkan kredibilitas dan stabilitas.

(Bisnis.Com) 29/10/25 18:49 20516

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah rencana Bursa menurunkan sejumlah target pada 2026, pelaku pasar modal tidak memandang hal itu sebagai sikap pesimisme dari Bursa. Melainkan, Bursa dinilai lebih baik fokus pada kualitas pasar modal ketimbang kuantitas target itu sendiri.

Adapun, Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) pada 2026 sebesar Rp14,5 triliun dan jumlah IPO sebanyak 50 emiten. Target RNTH tersebut susut dibandingkan realisasi RNTH tiga bulan terakhir senilai Rp16,5 triliun.

Sementara itu, Bursa pada tahun ini turut mengoreksi target IPO mereka menjadi 45 emiten dari 66 emiten. Dengan begitu, target IPO pada tahun mendatang lebih kecil dibandingkan target awal tahun yang sempat ditetapkan oleh Bursa.

Meskipun begitu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia, menilai bahwa rencana Bursa menurunkan RNTH tidak menjadi sinyal pesimisme Bursa terhadap kondisi pasar modal di tahun mendatang. Melainkan, upaya tersebut merupakan langkah realistis yang diambil oleh Bursa.

“Langkah BEI menurunkan target transaksi dan IPO bukan tanda pesimisme, tapi bentuk realisme terhadap kondisi pasar. Aktivitas memang tinggi, tapi masih banyak ditopang euforia jangka pendek. BEI kini memilih fokus pada kualitas emiten dan tata kelola, bukan sekadar jumlah IPO,” katanya saat dihubungi, Rabu (29/10/2025).

Justru, menurut Liza, Bursa seharusnya lebih berfokus pada pengawasan terhadap saham gorengan dan kualitas IPO. Hal itu dinilai bakal memperkuat kredibilitas Bursa ke depan.

Pasalnya, Liza menilai bahwa pada 2026, kondisi pasar modal Tanah Air akan cenderung positif, meski lebih selektif. Menurutnya, penurunan suku bunga lanjutan dan arus masuk dana asing akibat hal itu, mampu menopang IHSG ke depan.

“Reformasi free float, penguatan pengawasan, dan edukasi investor penting agar pasar makin kredibel dan tak lagi didominasi spekulasi jangka pendek,” kata Liza.

Namun, Liza memprediksi, volatilitas global akan tetap tinggi di tahun mendatang. Hal itu yang dinilai bakal menjadi salah satu tantangan Bursa dalam mengelola pasar modal di 2026.

“Hanya saham berfundamental kuat yang akan menarik,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto, menilai penetapan target RNTH dan IPO yang menyusut dari Bursa, bukan berarti Bursa memandang pesimis kondisi pasar tahun depan. Menurutnya, ada baiknya Bursa menetapkan target yang konservatif.

Artinya, yang lebih penting bagi Bursa adalah memastikan kualitas pasar modal Tanah Air itu sendiri, ketimbang mengejar kuantitas.

“Karena banyak transaksi tapi rugi, akhirnya investor akan kabur juga. Lebih baik wajar tapi investor untung, meskipun tugas Bursa bukan memastikan untung tapi lebih ke wajar, transparan, dan setiap investor punya akses informasi yang sama,” tegas Rudi, Rabu (29/10/2025).

Menurut Rudi, sebab pasar modal Tanah Air masih dibayangi olehnet sellasing, penting bagi Bursa untuk memberikan kenyamanan bagi investor asing dalam berinvestasi di Tanah Air, seperti melalui keterbukaan informasi yang lebih baik.

Rudi memberikan contoh, ihwal keterbukaan informasi bagi pemegang saham yang memiliki lebih dari 5%. Menurutnya, ada baiknya Bursa mempertimbangkan kewajiban keterbukaan informasi bagi pemegang saham yang menggenggam 3–4% saham sebuah emiten.

“Kemudian jika kurang dari 3% namun pemiliknya ternyata 1 pihak dengan total lebih dari 3,4 atau 5%, tetap perlu diungkap,” tegasnya.

Senada, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi, menilai bahwa penyesuaian target yang dilakukan oleh Bursa, merupakan langkah realistis danrisk-awaredi tengah kondisi pasar saat ini.

Alih-alih menilai penyesuaian target tersebut sebagai sikap pesimisme Bursa, Wafi menilai bahwa upaya tersebut merupakan langkah Bursa untuk menjaga kualitas dan stabilitas pasar modal Tanah Air.

“Aktivitas transaksi memang sedang tinggi, tetapi struktur likuiditasnya masih belum merata. Sebagian besar volume masih terkonsentrasi di saham-saham tertentu,” tegas Wafi, Rabu (29/10/2025).

Senada dengan Kiwoom, Wafi mendesak pengawasan Bursa terhadap saham gorengan dan praktikpump and dumpyang perlu diperketat ke depan. Selain itu, menurut Wafi, Bursa perlu untuk memperketat transparansi emiten baru yang melantai di Bursa.

Pasalnya, dia memprediksi bahwa pada tahun mendatang, pasar masih akan positif tetapi cenderung selektif. Artinya, katalis seperti penurunan suku bunga dan stimulus fiskal bisa mendorong optimisme pasar, tetapi tekanan global masih akan membuat volatilitas yang tinggi di pasar modal.

“Penguatan sistem pemantauan transaksi, edukasi investor ritel, dan peningkatan standarcorporate governancejuga penting banget, agar pasar kita makin kredibel dan dipercaya investor global,” tegas Wafi.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#bei-2026 #target-bei #ipo-susut #rnth-menurun #pasar-modal #kualitas-pasar-modal #target-ipo #saham-gorengan #kualitas-emiten #ihsg-2026 #volatilitas-global #investor-asing #keterbukaan-informasi #pum

https://market.bisnis.com/read/20251029/7/1924461/pelaku-pasar-buka-suara-soal-target-ipo-hingga-transaksi-bei-2026