Respons Gapki Atas Ancaman Karhutla Dampak Kemarau Ekstrem
Gapki siap cegah karhutla akibat kemarau ekstrem 2026 dengan kebijakan tanpa bakar, penguatan tim pemadam, dan teknologi deteksi dini di Riau.
(Bisnis.Com) 26/04/26 20:59 203305
Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menegaskan kesiapan memperkuat sistem pencegahan secara terintegrasi seiring membesarnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat musim kemarau panjang tahun ini.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa kondisi iklim tahun ini perlu diantisipasi secara serius. Kombinasi curah hujan rendah dan potensi kekeringan ekstrem dinilai meningkatkan kerawanan karhutla, terutama di Riau yang memiliki bentang lahan gambut luas.
“Curah hujan yang rendah dan kondisi gambut yang sangat rentan membuat potensi kekeringan akan meningkat signifikan. Riau menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi, terlebih dengan luas gambut yang mencapai hampir separuh dari total daratan serta keberadaan lebih dari 13.000 kilometer kanal,” ujarnya dalam siaran pers, dikutip Minggu (26/4/2026).
Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh pemangku kepentingan, termasuk dunia usaha, melalui langkah operasional yang terukur dan terkoordinasi guna meminimalkan risiko kebakaran sejak dini.
Merespons hal tersebut, Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono menyatakan bahwa seluruh anggota asosiasi telah menjalankan pendekatan pencegahan berbasis keberlanjutan, termasuk penerapan kebijakan tanpa bakar (zero burning policy).
“Gapki dan seluruh anggota berkomitmen untuk terus memperkuat langkah-langkah pencegahan karhutla secara terintegrasi. Kami tidak hanya memastikan kesiapan internal perusahaan melalui pembentukan dan penguatan tim pemadam kebakaran (fire brigade), tetapi juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat melalui pembinaan Masyarakat Peduli Api (MPA) di wilayah-wilayah rawan,” ujar Mukti.
Selain penguatan sumber daya manusia, perusahaan anggota Gapki juga mengembangkan infrastruktur pencegahan seperti menara pantau, embung air, serta sistem pemantauan berbasis teknologi untuk mendukung deteksi dini titik api.
Mukti menambahkan, asosiasi telah menyusun pedoman penanggulangan kebakaran perkebunan sawit dan menyosialisasikan proyeksi musim kemarau 2026 kepada seluruh anggota sebagai bagian dari mitigasi risiko.
“Gapki telah membuat pedoman penanggulangan kebakaran perkebunan sawit dan menyampaikan surat edaran kepada seluruh anggota terkait prediksi musim kemarau 2026 dan dampaknya bagi perkebunan sawit,” katanya.
Menurutnya, upaya pencegahan karhutla tidak dapat dilakukan secara parsial. Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan langkah mitigasi berjalan efektif dan berkelanjutan.
Partisipasi Gapki dalam apel siaga ini sekaligus mencerminkan pergeseran pendekatan industri sawit dari reaktif menjadi preventif. Dengan memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan sejak awal, potensi karhutla diharapkan dapat ditekan, sekaligus menjaga keberlanjutan sektor dan perlindungan lingkungan di tengah tekanan perubahan iklim.
#karhutla #kebakaran-hutan #kemarau-ekstrem #gapki #pencegahan-karhutla #kebakaran-lahan #riau-gambut #zero-burning-policy #masyarakat-peduli-api #deteksi-dini #mitigasi-risiko #kebakaran-perkebunan-sa