Banjir Serangan Deepfake dan Bot AI, Infrastruktur Digital RI Hadapi Ujian Baru
Indonesia menghadapi ancaman AI seperti deepfake dan bot canggih, menuntut infrastruktur digital yang lebih kuat untuk melindungi data dan sistem dari serangan siber.
(Bisnis.Com) 23/04/26 19:31 200961
Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan Indonesia menghadapi titik kritis seiring munculnya ancaman berbasis kecerdasan buatan (AI) yang melampaui kapabilitas sistem pertahanan tradisional.
Dalam ajang Dymar Cybersecurity Conference (DCC) 2026, terungkap fakta bahwa korporasi di Indonesia sedang menjadi target utama serangan yang jauh lebih taktis dan sulit dideteksi.
Ancaman paling nyata terlihat dari lonjakan serangan deepfake untuk penipuan transaksi hingga 162% pada 2025. Selain itu, ledakan serangan injeksi digital juga meningkat sebesar 1.151% pada perangkat tertentu pada tahun lalu. Teknik ini memungkinkan pelaku memasukkan video manipulatif langsung ke dalam sistem verifikasi tanpa bisa dicegah oleh filter keamanan biasa.
Situasi semakin mengkhawatirkan dengan munculnya automated bot generasi baru. Berbeda dengan bot statis terdahulu, teknologi ini mampu meniru perilaku manusia dengan sangat akurat, menghasilkan tingkat keberhasilan menembus barikade keamanan konvensional hingga di atas 85%.
Managing Director Dymar Jaya Indonesia Yuliani Kusnadi mengatakan problem utama yang dihadapi banyak perusahaan saat ini adalah ketidaksiapan infrastruktur dalam memantau risiko saat mengadopsi teknologi AI. Tanpa kontrol otomatis dan visibilitas waktu nyata (real-time), penggunaan AI justru menjadi lubang baru bagi kebocoran data sensitif perusahaan.
Kerapuhan juga ditemukan pada sisi aplikasi mobile finansial. Malware canggih kini sanggup mengeksploitasi perangkat yang telah dimodifikasi (root/jailbreak), membuat aplikasi perbankan sangat rentan terhadap manipulasi saat berjalan di latar belakang.
“Pada era di mana ancaman bisa datang dari sisi mana saja, sinergi antara identitas, data, dan aplikasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan,” kata Yuliani dikutip Kamis (23/4/2026).
Sementara itu, Senior Technology Consultant di Sophos Indonesia Sunu Diwangkara mengatakan pentingnya membangun pertahanan siber yang terpadu guna menghadapi ancaman modern yang semakin canggih. Solusi yang ditawarkan berfokus pada ekosistem keamanan siber adaptif yang mengintegrasikan berbagai lapisan perlindungan, mulai dari endpoint hingga jaringan.
Dengan sistem pertahanan yang saling terhubung ini, perusahaan dapat mendeteksi ancaman lebih cepat dan melakukan respons otomatis yang lebih efektif, mengurangi celah keamanan yang sering muncul pada sistem yang terfragmentasi.
DCC 2026 menekankan bahwa strategi "memasang pagar" tidak lagi cukup. Fokus industri kini harus bergeser pada pembangunan ekosistem yang resilien, mulai dari penggunaan Phishing-Resistant MFA (FIDO2) untuk memutus rantai pencurian identitas, hingga enkripsi yang siap menghadapi era komputasi kuantum.
Ketahanan digital saat ini bahkan harus melampaui batas internal perusahaan. Risiko dari pihak ketiga serta siklus hidup data yang tidak terkelola—termasuk penghapusan data yang tidak tersertifikasi—menjadi celah legal dan teknis yang sering terabaikan.
Melalui kolaborasi dengan mitra global seperti Thales, Sophos, dan Blancco, upaya perlindungan kini diarahkan pada sistem pertahanan yang saling terhubung. Tujuannya adalah memperkecil celah pada sistem yang terfragmentasi agar perusahaan dapat mendeteksi serta merespons ancaman secara otomatis sebelum kerusakan fatal terjadi.
#deepfake-serangan #bot-ai #infrastruktur-digital #ancaman-ai #serangan-deepfake #penipuan-transaksi #injeksi-digital #automated-bot #keamanan-konvensional #kebocoran-data #aplikasi-mobile-finansial #p