Outlook Kuartal II-2026, Berburu Saham Diskon di Tengah Risiko Geopolitik
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai berpeluang bergerak positif pada kuartal II-2026, ditopang kombinasi faktor domestik dan global.
(IDX-Channel) 22/04/26 07:03 198595
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai berpeluang bergerak positif pada kuartal II-2026, ditopang kombinasi faktor domestik dan global.
Dalam laporan yang terbit 21 April 2026, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta Utama menyebut periode April hingga Juli secara historis kerap menjadi fase penguatan pasar saham Indonesia.
Dari sisi katalis positif, puncak musim dividen menjadi salah satu penopang utama. Emiten berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan dan energi, mulai merealisasikan pembagian laba.
“Aliran dana dividen ini biasanya akan diinvestasikan kembali ke pasar sehingga mampu menjaga likuiditas,” tulis Nafan.
Sejalan dengan itu, Mirae Asset juga menyoroti sejumlah saham indeks IDX80 dengan dividend yield (imbal hasil dividen) menarik.
Saham seperti ITMG dan PTBA diperkirakan menawarkan imbal hasil dividen dua digit, masing-masing di kisaran 13-15 persen dan 10,5-12 persen.
Sementara itu, saham perbankan daerah seperti BJTM dan BJBR dinilai stabil dengan yield di kisaran 7-8 persen.
Kemudian, saham big caps seperti ADRO, ASII, hingga UNTR tetap menawarkan yield kompetitif di tengah ekspansi bisnis dan dinamika sektor komoditas.
Selain tema dividen, rilis kinerja kuartal I-2026 akan menjadi penentu arah berikutnya.
Jika emiten mampu mencatatkan pertumbuhan laba dua digit di tengah suku bunga tinggi, kondisi ini dinilai dapat memicu re-rating valuasi ke arah yang lebih optimistis.
Mirae Asset juga menggarisbawahi peluang dari sisi valuasi.
Sejumlah saham dinilai masih berada pada level menarik, baik dalam kategori undervalued, deep value, hingga asset play.
Saham seperti ADRO, INDF, dan PGAS masuk kategori undervalued, sementara AUTO, BBTN, dan BSDE tergolong deep value atau asset play.
Di sisi lain, saham seperti BBRI dan BMRI tetap dikategorikan sebagai blue chip standard, sedangkan CPIN dan PGEO mencerminkan premium growth story.
Nafan juga menyoroti pendekatan value Investing. “Kembali melirik saham yang secara fundamental murah namun memiliki prospek pertumbuhan (undervalued),” kata dia.
Selain itu, Nafan menekankan pentingnya strategi diversifikasi dalam menghadapi volatilitas pasar.
Investor disarankan tidak menempatkan seluruh dana pada satu sektor, melainkan mengombinasikan saham defensif seperti perbankan dan konsumsi non-siklikal dengan saham berbasis pertumbuhan, misalnya sektor pertambangan.
Ia juga mengingatkan agar investor tidak mengalokasikan seluruh dana sekaligus. Dalam kondisi IHSG yang masih berfluktuasi, pendekatan pembelian bertahap (averaging) dinilai lebih bijak.
“Kita tidak pernah tahu di mana posisi ‘bottom’ sebenarnya sampai ia sudah lewat,” kata Nafan.
Faktor lain yang turut diperhatikan adalah peran Danantara dalam mendorong proyek strategis, terutama di sektor hilirisasi mineral dan energi baru terbarukan (EBT).
Kejelasan eksekusi proyek dinilai berpotensi menarik kembali minat investor institusi global ke pasar ekuitas Indonesia.
Di sisi eksternal, keberlanjutan status Indonesia sebagai emerging market oleh MSCI, artinya tidak diturunkan ke frontier market, serta konsistensi reformasi pasar modal juga menjadi katalis penting. Dampaknya dinilai signifikan terhadap aliran dana global, valuasi, dan struktur pasar.
Dari sisi makro, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang berpotensi melampaui 5,39 persen secara tahunan turut menjadi sentimen positif bagi pergerakan IHSG.
Namun demikian, sejumlah risiko tetap membayangi. Ketegangan geopolitik, khususnya terkait konflik Amerika Serikat (AS)-Iran dan penutupan Selat Hormuz, dapat memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi impor.
Selain itu, jika realisasi pertumbuhan ekonomi berada di bawah ekspektasi, sentimen pasar berpotensi berbalik negatif.
Volatilitas nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.000 per dolar AS juga dinilai membuat investor asing cenderung defensif, terlebih dengan prospek suku bunga yang masih tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait daftar konsentrasi kepemilikan saham (high shareholding concentration/HSC) juga berpotensi memicu volatilitas jangka pendek pada saham-saham konglomerasi besar.
Dalam skenario pasar, IHSG diperkirakan menguji kisaran level 8.046 hingga 8.312, dengan area support di 6.744.
Secara sektoral, saham energi, industri, dan siklikal saat ini menjadi pemimpin, sementara sektor keuangan dan non-siklikal masih dominan meski mulai melemah.
Singkatnya, strategi investasi yang disarankan Nafan mencakup fokus pada saham dengan dividen tinggi, pendekatan value investing pada saham undervalued, serta diversifikasi lintas sektor.
Investor juga disarankan melakukan akumulasi bertahap seiring volatilitas pasar yang masih tinggi.
Komoditas dan saham konglomerasi masih akan menjadi motor penggerak indeks, demikian kata Nafan. Namun, ia mengingatkan perlunya kewaspadaan pada sektor perbankan yang masih mencatatkan foreign net sell.
Meski secara valuasi tergolong murah, sektor ini tetap menghadapi risiko, terutama terkait program 3 juta rumah yang berpotensi meningkatkan beban perbankan jika terjadi lonjakan kredit macet. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.