Kemenhub Fasilitasi Pemulangan Pelaut WNI, Menyusul Serangan Misil di Laut Arab
Kemenhub menegaskan bahwa keselamatan pelaut Indonesia merupakan prioritas utama dalam setiap penanganan keadaan darurat di sektor pelayaran.
(Kompas.com) 21/04/26 19:22 198302
JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut memastikan respons cepat dalam menangani pelaut Warga Negara Indonesia (WNI) yang terdampak insiden kapal MV Gold Autumn di perairan Laut Arab.
Upaya yang dilakukan mencakup fasilitasi pemulangan ke Tanah Air sekaligus pemenuhan hak-hak para pelaut. Sebanyak tiga pelaut WNI yang dipulangkan yakni Adhelan Azhiz Fiqih, Robi Andika Saputra, dan Farhan Setio Budi.
Ketiganya telah tiba di Indonesia pada Minggu, 19 April 2026 melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Setibanya di tanah air, para pelaut dijemput langsung oleh perwakilan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.
Proses penjemputan tersebut juga melibatkan perwakilan perusahaan keagenan dan penempatan awak kapal, serta asosiasi pelaut yang turut memberikan pendampingan.
Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Samsuddin, menegaskan bahwa keselamatan pelaut Indonesia merupakan prioritas utama dalam setiap penanganan keadaan darurat di sektor pelayaran.
“Dalam situasi apapun, negara memastikan pelaut Indonesia tidak dibiarkan menghadapi risiko sendiri. Penanganan dilakukan secara cepat, terkoordinasi, dan menyeluruh,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (21/4/2026).
Pasca evakuasi, pelaut WNI yang selamat dibawa ke Karachi, Pakistan, dan mendapat pendampingan dari perusahaan pengelola kapal, yaitu Shanghai Defeng Shipping Co. Ltd.
Seluruh dokumen perjalanan yang hilang akibat insiden tersebut kemudian diterbitkan kembali melalui koordinasi antara perwakilan RI dan pihak terkait guna memastikan kelancaran proses kepulangan ke Indonesia.
Penanganan kasus ini merupakan hasil koordinasi antara Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Perkapalan dan Kepelautan, Kementerian Luar Negeri melalui Direktorat Perlindungan WNI, serta KJRI Karachi, yang berkomitmen dalam proses pemulangan, pemeriksaan kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan dasar pelaut.
Adapun insiden terjadi pada 8 April 2026 pukul 11.00 waktu setempat saat MV Gold Autumn berlayar di Laut Arab. Kapal mengalami serangan misil yang mengenai ruang muat nomor 4 dan memicu kebakaran pada muatan.
Sekitar 15 hingga 20 menit kemudian, terjadi serangan lanjutan yang menyebabkan kerusakan pada area akomodasi serta kebakaran di anjungan.
Situasi yang semakin memburuk mendorong sebagian awak kapal melakukan evakuasi darurat menggunakan sekoci penyelamat, namun sekoci tersebut mengalami gangguan mesin sehingga awak kapal hanyut di laut terbuka.
Para awak kapal akhirnya berhasil ditemukan sekitar pukul 19.30 waktu setempat oleh kapal MV Eunice dan dievakuasi dalam keadaan selamat.
Samsuddin menegaskan bahwa keselamatan pelaut Indonesia merupakan prioritas utama dalam setiap penanganan keadaan darurat di sektor pelayaran.
“Penanganan ini tidak hanya fokus pada evakuasi, tetapi juga memastikan seluruh hak pelaut terpenuhi, mulai dari aspek keselamatan, administrasi, hingga tanggung jawab pihak terkait,” ungkap Samsuddin.
Samsuddin juga menegaskan bahwa Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub juga berkomitmen penuh untuk terus memperkuat perlindungan pelaut Indonesia, khususnya dalam menghadapi dinamika risiko pelayaran di perairan internasional.
“Penguatan sistem perlindungan pelaut Warga Negara Indonesia (WNI) akan terus ditingkatkan melalui pengawasan, koordinasi lintas sektor, serta kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi darurat,” tegasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang