Temuan Cadangan Gas Raksasa Kaltim Diharap Bisa Tekan Impor Energi
Temuan gas besar di Kaltim dinilai bisa tekan impor energi dan dorong hilirisasi, di tengah potensi kenaikan harga BBM nonsubsidi.
(Kompas.com) 21/04/26 19:13 198300
JAKARTA, KOMPAS.com — Temuan cadangan gas raksasa di lepas pantai Kalimantan Timur dinilai menjadi peluang penting bagi Indonesia untuk menekan impor energi dan memperkuat pasokan dalam negeri.
Hasil eksplorasi perusahaan energi Italia, Eni, di sumur Geliga-1, Blok Ganal, Cekungan Kutai menunjukkan adanya cadangan gas sebesar 5 triliun kaki kubik (Tcf). Temuan ini menjadi bagian dari dua penemuan besar di wilayah tersebut, yakni struktur Geliga dan Gula.
“Sekali lagi kita bersyukur kepada Tuhan bahwa (penemuan) ini anugerah yang diberikan. Pemerintah juga terus menerus mengeksplorasi wilayah lain untuk menemukan cadangan minyak dan gas (migas) terbaru,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026).
“Kita harus betul-betul fokus dalam rangka menjalankan perintah Presiden untuk mencari sumber-sumber minyak baru,” lanjutnya.
Bahlil menegaskan, pemerintah terus mendorong eksplorasi guna menemukan sumber energi baru agar ketergantungan terhadap impor bisa ditekan.
Dorong Hilirisasi dan Tekan Impor
Menurut Bahlil, pemanfaatan gas dari temuan tersebut akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus mendukung hilirisasi industri.
“Ini adalah strategi agar bagaimana gas kita tidak impor dari negara lain. Kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri,” jelas Bahlil.
“Gas ini kita akan dorong untuk industri hilirisasi, serta ini akan mengurangi impor crude oil kita dengan penambahan kondensat,” lanjutnya.
Pemerintah menargetkan produksi kondensat mencapai 90.000 per barrel pada 2028, kemudian meningkat menjadi 150.000 per barrel pada 2029-2030.
Sementara itu, Anggota Komisi XII DPR RI Rusli Habibie menilai dua temuan gas di Kalimantan Timur menjadi sinyal positif bagi ketahanan energi nasional.
“Kami mengapresiasi capaian ini sebagai hasil dari konsistensi kebijakan eksplorasi dan penguatan tata kelola sektor hulu migas. Ini menjadi sinyal positif bahwa potensi Cekungan Kutai masih sangat prospektif,” ujarnya, melalui keterangan pers, Selasa (21/4/2026).
Ia menjelaskan, total potensi dari dua temuan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 7 Tcf gas, termasuk tambahan kondensat bernilai ekonomi tinggi.
“Secara teknokratis, tambahan cadangan dalam skala ini akan berkontribusi terhadap peningkatan reserve replacement ratio nasional, sekaligus memperkuat proyeksi pasokan gas domestik dalam jangka menengah,” jelasnya.
Tren Temuan Gas Berlanjut sejak 2024
Sebelumnya, Indonesia juga mencatat temuan cadangan gas besar pada 2024 di South Andaman dan Geng North yang diestimasi hampir separuh dari cadangan gas bumi di Asia Tenggara.
“SKK Migas dan seluruh KKKS terus bekerja sama mengembangkan potensi migas di Indonesia untuk memperkokoh peran industri hulu migas sebagai salah satu pilar ketahanan energi,” ujar perwakilan SKK Migas dalam keterangan pers, Selasa (20/8/2024).
Temuan tersebut dinilai turut meningkatkan minat investor global untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi energi.
Selain itu, SKK Migas mencatat realisasi produksi migas hingga 15 Agustus 2024 mencapai 1.873 ribu barrel setara minyak per hari (BOEPD), atau meningkat sekitar 3,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2023 sebesar 1.811 ribu BOEPD.
Secara bulanan, hingga pertengahan Agustus 2024 produksi minyak dan gas mencapai 1.860 ribu BOEPD atau naik sekitar 3,5 persen dibandingkan 1.797 ribu BOEPD.
“Selain dengan menemukan sumber-sumber baru, kami juga terus mengoptimalkan sumber-sumber yang telah beroperasi,” lanjutnya.
Tantangan Harga BBM Nonsubsidi
Di sisi lain, Bahlil mengungkapkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi masih berpotensi mengalami penyesuaian mengikuti harga minyak dunia.
“Kalau harganya turun, ya enggak naik (harga Pertamax). Tapi kalau harganya begini terus, ya mungkin pasti ada penyesuaian,” ujar Bahlil.
Ia menjelaskan, kenaikan harga Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite merupakan tahap awal penyesuaian yang mengikuti pergerakan harga minyak global.
“Kalau untuk BBM nonsubsidi itu ada penyesuaian harga. Tahap pertama mungkin sekarang dilakukan seperti sekarang. Tahap berikutnya kita lihat penyesuaian,” jelasnya.
Namun, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tetap dijaga hingga akhir tahun.
“Saya katakan, yang pemerintah bisa menjamin untuk harganya tidak naik itu adalah yang bersubsidi,” terang Bahlil.
Rusli menambahkan, pemanfaatan gas domestik perlu dipastikan optimal untuk mendukung kebutuhan industri, kelistrikan berbasis gas, serta agenda hilirisasi.
“Kita perlu memastikan bahwa gas yang ditemukan ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan dalam negeri, sehingga memberikan multiplier effect yang nyata bagi perekonomian nasional,” tegasnya.
Ia juga mendorong percepatan pengembangan lapangan, mulai dari penyusunan plan of development hingga final investment decision, dengan dukungan regulasi dan infrastruktur energi yang memadai.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang