Emiten Properti MTLA, CTRA Cs Bidik Pemulihan di Tengah Tekanan Pasar

Emiten Properti MTLA, CTRA Cs Bidik Pemulihan di Tengah Tekanan Pasar

Emiten properti seperti MTLA dan CTRA menargetkan pemulihan pada 2026 di tengah tantangan pasar, dengan fokus pada strategi konservatif dan insentif pemerintah.

(Bisnis.Com) 21/04/26 06:00 197330

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten properti mulai membidik momentum pemulihan pada 2026 di tengah tekanan pasar yang masih membayangi. Sejumlah pengembang memilih memasang target marketing sales secara konservatif, sembari menunggu perbaikan kondisi makroekonomi dan daya beli masyarakat.

Sejak awal tahun, sektor properti masih menghadapi tantangan, mulai dari suku bunga tinggi, pelemahan rupiah, hingga ketidakpastian geopolitik global. Kondisi ini mendorong pelaku industri untuk lebih berhati-hati dalam menyusun strategi bisnis.

Sejumlah pengembang besar menetapkan target yang relatif serupa dengan tahun sebelumnya. PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) menargetkan Rp10 triliun, PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) sebesar Rp9,5 triliun, serta PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) Rp4,3 triliun. Sementara itu, emiten properti lainnya umumnya membidik marketing sales di kisaran Rp1,5 triliun hingga Rp2 triliun.

Kehati-hatian ini tidak lepas dari capaian 2025 yang belum merata. Hanya beberapa emiten seperti BSDE dan PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) yang berhasil melampaui target, masing-masing dengan realisasi Rp10,04 triliun dan Rp5,52 triliun. Adapun CTRA dan PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) masih mencatatkan realisasi di bawah target, masing-masing sekitar 95% dan 83%.

Direktur CTRA Harun Hajadi mengatakan kondisi pasar saat ini masih berada dalam fase pelemahan, sehingga mempengaruhi permintaan properti.

“Tahun ini belum terlihat tanda-tanda membaik karena sentimen pasar yang kurang baik,” kata Harun, Senin (20/4/2026).

Sejauh ini pada kuartal I/2026, CTRA mencatat marketing sales sebesar Rp2,4 triliun atau setara 26% dari target tahun ini. Penjualan didominasi segmen rumah dan kavling dengan kontribusi 88%, diikuti ruko 10%, apartemen 2%, dan perkantoran 0,03%. Sebanyak 54% penjualan berasal dari produk yang memenuhi syarat insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP).

Senada, Presiden Direktur PANI Sugianto Kusuma alias Aguan menyebutkan bahwa penetapan target tahun ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global. Perseroan tetap mengandalkan segmen residensial sebagai motor utama penjualan, ditopang pengembangan kawasan PIK2.

Di tengah tantangan tersebut, PANI tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang, didukung cadangan lahan yang luas serta penguatan infrastruktur kawasan.

Pendekatan serupa juga ditempuh BSDE. Direktur BSDE Hermawan Wijaya menegaskan perseroan memilih memasang target yang terukur untuk menjaga kredibilitas kinerja.

"Target 2026 senilai Rp10 triliun sama dengan tahun 2025. Kami tidak mau yang terlalu bombastis karena tidak ingin merevisi target," kata Hermawan.

Target tersebut, tambah Hermawan ditopang sektor residensial sebesar Rp5 triliun, segmen komersial Rp3,5 triliun, serta penjualan joint venture land lot sekitar Rp1,5 triliun.

Bumi Serpong Damai (BSDE)
Bumi Serpong Damai (BSDE)

Perbaikan Setelah Kinerja 2025

Sementara itu, PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI) dan PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA) juga membidik pemulihan kinerja pada 2026 dengan target marketing sales masing-masing Rp2,8 triliun dan Rp2 triliun.

Direktur Corporate Finance ASRI Edward Tanuwijaya mengatakan target tersebut ditetapkan dengan mempertimbangkan ketidakpastian global.

“Dengan mempertimbangkan ketidakpastian kondisi geopolitik saat ini yang dapat memengaruhi permintaan properti di dalam negeri, kami menetapkan target pertumbuhan marketing sales pada 2026 secara konservatif, yaitu sebesar Rp2,8 triliun,” ujar Edward, dikutip Senin (20/4/2026.

Target tersebut relatif lebih optimistis dibandingkan capaian 2025, ketika pendapatan ASRI turun 14,5% secara tahunan menjadi Rp2,9 triliun. Penurunan dipengaruhi oleh waktu serah terima proyek serta pengakuan pendapatan.

Di sisi lain, MTLA mencatat realisasi marketing sales sebesar Rp400 miliar atau 20% dari target tahun ini. Direktur MTLA Olivia Surodjo menyebut capaian tersebut mencerminkan tantangan yang masih membayangi sektor properti.

Menanti Katalis Pemulihan

Sejumlah analis menilai target yang dipasang emiten properti masih tergolong realistis, meskipun prospek sektor belum sepenuhnya pulih.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan pencapaian target sangat bergantung pada optimalisasi insentif PPN DTP serta fokus pada segmen hunian tapak kelas menengah.

“Target marketing sales relatif realistis, terutama jika didukung oleh insentif pemerintah dan strategi yang tepat di segmen pasar yang masih kuat,” kata Wafi.

Namun demikian, Wafi menilai sektor properti masih menunggu momentum penurunan suku bunga untuk mendorong permintaan secara signifikan.

Senada, Head of Online Trading BCA Sekuritas Achmad Yaki mengatakan emiten saat ini lebih fokus menjaga stabilitas kinerja dibandingkan mengejar pertumbuhan agresif.

“Emiten saat ini lebih fokus menjaga performa agar tetap stabil, meski pertumbuhan cenderung moderat,” jelas Achmad.

Ke depan, prospek sektor properti dinilai masih memiliki peluang, terutama didorong oleh kebijakan pemerintah seperti perpanjangan insentif PPN DTP, program pembangunan 3 juta rumah, serta potensi pelonggaran suku bunga.

Namun, tantangan tetap membayangi, mulai dari suku bunga tinggi dalam jangka panjang, pelemahan rupiah, hingga daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.

Dalam kondisi tersebut, analis menyarankan investor untuk menerapkan strategi selektif, sembari menunggu katalis utama yang dapat mendorong pemulihan sektor properti secara lebih solid.

“Pasar masih menunggu katalis utama, terutama dari arah suku bunga. Sampai saat itu terjadi, pendekatan selektif menjadi kunci,” pungkasnya.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#emiten-properti #pasar-properti #marketing-sales #suku-bunga-tinggi #pelemahan-rupiah #ketidakpastian-geopolitik #bsde-target #ctra-target #pani-target #asri-target #mtla-target #insentif-ppn-dtp #seg

https://market.bisnis.com/read/20260421/192/1968048/emiten-properti-mtla-ctra-cs-bidik-pemulihan-di-tengah-tekanan-pasar