Dubes UEA Respons Gencatan Senjata AS-Iran, Harap Hasil Nyata dalam Dua Pekan
Dubes UEA berharap gencatan senjata AS-Iran selama dua pekan dapat mendorong solusi damai, meski Iran menolak usulan tersebut dan ketegangan terus meningkat.
(Bisnis.Com) 09/04/26 10:31 186068
Bisnis.com, JAKARTA — Uni Emirat Arab (UEA) angkat bicara soal gencatan senjata selama dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat untuk meredakan ketegangan geopolitik yang telah mengganggu stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia Abdulla Salem AlDhaheri menegaskan bahwa jeda konflik tersebut harus dimanfaatkan untuk mendorong solusi damai yang berkelanjutan, di tengah dampak perang yang kian meluas ke berbagai sektor.
Menurutnya, UEA bersama negara-negara Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) dan Yordania sejak awal konsisten mendorong de-eskalasi melalui jalur diplomasi, termasuk seruan gencatan senjata.
“Uni Emirat Arab dan negara-negara sahabat di GCC serta Yordania selalu menyerukan de-eskalasi, gencatan senjata, dan dialog melalui jalur diplomatik,” ujarnya dalam pertemuan dengan media di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Dia menilai periode dua pekan tersebut menjadi jendela penting untuk membangun kesepahaman baru yang dapat mengarah pada stabilitas dan pemulihan kawasan.
“Kami sangat berharap ini menjadi momentum yang tepat untuk membahas langkah ke depan, membahas perdamaian dan stabilitas, dan kami berharap dalam dua pekan ke depan akan tercapai hasil yang baik,” katanya.
Abdulla menekankan bahwa konflik yang berlangsung telah menimbulkan dampak luas, tidak hanya di kawasan Timur Tengah, tetapi juga secara global, termasuk gangguan rantai pasok dan lonjakan harga energi.
Dia mengingatkan bahwa gangguan tersebut berpotensi memperburuk kondisi ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia.
Selain itu, konflik juga telah memicu dampak kemanusiaan yang signifikan, mulai dari korban jiwa hingga terganggunya mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.
“Kami telah melihat korban luka, kami telah melihat kematian, kami telah melihat orang kehilangan pekerjaan,” lanjutnya.
Dalam konteks tersebut, UEA menilai bahwa eskalasi konflik hanya akan memperburuk situasi dan tidak memberikan manfaat bagi pihak mana pun.
Dia menegaskan bahwa tidak ada negara yang kebal terhadap dampak konflik, sehingga upaya kolektif untuk menjaga stabilitas menjadi keharusan.
Iran Tolak Usulan
Di sisi lain, Iran menolak dengan tegas usulan gencatan senjata yang disampaikan oleh mediator Pakistan. Dilaporkan dari kantor berita resmi IRNA, Iran disebut telah menolak gencatan senjata dan menolak untuk membuka kembali Selat Hormuz. Iran menyebut bahwa mereka hanya menginginkan pengakhiran perang secara permanen.
Mengutip Channel News Asia, IRNA juga melaporkan bahwa Iran telah mengajukan 10 klausul untuk mengakhiri perang, yang terdiri dari pengakhiran konflik di kawasan tersebut, protokol untuk jalur aman melalui Selat Hormuz, pencabutan sanksi, dan rekonstruksi.
Di tengah konflik yang kian memanas ini, Trump mengancam akan menghujani Iran dengan “neraka” jika tidak mencapai kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital untuk pasokan energi global. Dalam konferensi persnya, Trump mengatakan bahwa Iran dapat “dilenyapkan” dalam satu malam.
Tak hanya itu, Trump juga bersumpah akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran, mengabaikan kekhawatiran bahwa tindakan tersebut akan menjadi kejahatan perang atau mengasingkan 93 juta penduduk Iran.
“Setiap jembatan di Iran akan hancur lebur dan setiap pembangkit listrik di Iran akan gulung tikar, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah digunakan lagi,” tutur Trump, dikutip dari laman Channel News Asia, Rabu (8/4).
Menanggapi ancaman Trump, Komando militer gabungan tertinggi Iran menyebut Trump mengalami delusi dan menilai peringatan Trump sebagai retorika kasar, arogan, dan ancaman tanpa dasar. Selain itu, wakil Menteri Olahraga Iran, Alireza Rahimi juga menyerukan kepada para seniman dan atlet untuk membentuk rantai manusia di pembangkit listrik di seluruh negeri.
“Kita akan bergandengan tangan untuk mengatakan: Menyerang infrastruktur publik adalah kejahatan perang,” tulis Rahimi di akun media sosial X.
#gencatan-senjata #uea-iran #as-iran #konflik-geopolitik #stabilitas-kawasan #solusi-damai #de-eskalasi-diplomasi #gcc-yordania #dampak-perang #timur-tengah #rantai-pasok #harga-energi #dampak-kemanusi