Ekonom: BI perlu perkuat ekosistem pasar valas domestik, dukung rupiah

Ekonom: BI perlu perkuat ekosistem pasar valas domestik, dukung rupiah

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memandang bahwa Bank Indonesia (BI) perlu memperkuat ekosistem pasar valuta asing (valas) domestik untuk mendukung ...

(Antara) 08/04/26 17:48 185461

Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memandang bahwa Bank Indonesia (BI) perlu memperkuat ekosistem pasar valuta asing (valas) domestik untuk mendukung upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.

Josua, saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu, menjelaskan tiga arah kebijakan yang dinilai lebih bijak untuk memperkuat pasar valas domestik.

Pertama, memperkuat peran dealer utama pasar uang dan valas sebagai penyedia likuiditas sekaligus pembentuk harga dua arah agar kedalaman pasar meningkat.

Kedua, memperluas transaksi bilateral dalam mata uang lokal dengan mitra dagang sehingga ketergantungan terhadap dolar berkurang secara bertahap.

Ketiga, tetap menggunakan intervensi BI secara terukur hanya ketika pasar tidak teratur, bukan untuk melawan arah fundamental dalam jangka panjang.

Sebelumnya pada Selasa (7/4) dalam acara Outlook Indonesia, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai cara BI menangani nilai tukar masih konvensional dan terlalu hati-hati di tengah kompleksitas yang meningkat.

Misbakhun mempertanyakan mengapa BI tidak menjadi penyedia likuiditas valas dengan mengamankan pasokan sejak awal melalui kontrak besar serta diplomasi tingkat tinggi agar ketersediaan di pasar tetap terjaga.

Terkait hal tersebut, menurut Josua, pandangan bahwa cara BI masih konvensional dan perlu menjadi penyedia likuiditas valas memiliki semangat yang dapat dipahami, namun kurang tepat apabila dimaknai secara harfiah.

Josua menjelaskan, BI saat ini tidak lagi hanya mengandalkan jalur suku bunga, melainkan aktif menstabilkan rupiah melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, pasar spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) domestik.

Selain itu, BI juga melakukan penyesuaian kebijakan transaksi valas serta menjaga stabilitas melalui struktur instrumen, operasi pro-pasar, pembelian SBN di pasar sekunder, dan pengelolaan likuiditas.

Oleh sebab itu, menurut Josua, menyebut pendekatan BI masih sepenuhnya konvensional menjadi kurang tepat karena kebijakan yang ditempuh sudah bersifat multidimensi.

Ia menambahkan bahwa BI memang telah berperan sebagai penyedia likuiditas valas, namun dilakukan secara terarah dan selektif, bukan sebagai pemasok tanpa batas.

Pendekatan tersebut dinilai lebih bijak, karena jika BI menjadi penjual valas utama untuk seluruh kebutuhan pasar, cadangan devisa berisiko cepat tergerus dan disiplin pasar dapat melemah.

Lebih lanjut, ia menilai diplomasi internasional tetap penting untuk mendukung perdagangan dan kepercayaan investor, namun bukan instrumen utama dalam menjaga stabilitas rupiah harian.

“Penggerak utama rupiah tetap harga minyak, arah dolar global, imbal hasil surat utang Amerika Serikat, aliran modal, dan persepsi risiko terhadap Indonesia,” kata Josua.

Karena itu, Josua menilai pendekatan yang paling relevan adalah bauran kebijakan yang mencakup intervensi BI secara terukur, pendalaman pasar valas domestik, penguatan investor domestik, perluasan transaksi bilateral mata uang lokal, serta koordinasi fiskal dan moneter guna meredam dampak guncangan eksternal.

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

#bi #rupiah #nilai-tukar #stabilisasi-rupiah #moneter #kebijakan-moneter

https://www.antaranews.com/berita/5517704/ekonom-bi-perlu-perkuat-ekosistem-pasar-valas-domestik-dukung-rupiah