Pemain Internet Pastikan Lonjakan Trafik Data saat WFH Masih Terkendali
Kebijakan WFH satu hari per pekan mulai 1 April 2026 diproyeksikan tidak membebani trafik data operator seluler, berkat peningkatan penetrasi broadband.
(Bisnis.Com) 02/04/26 17:50 180378
Bisnis.com, JAKARTA— Kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) selama satu hari dalam sepekan mulai 1 April 2026 diyakini tidak akan membebani trafik data operator seluler dan pemain internet tetap.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menilai peningkatan trafik saat WFH bukan fenomena baru, mengingat hal serupa telah terjadi pada masa pandemi Covid-19 dengan durasi yang jauh lebih panjang.
Ketua Umum APJII Muhammad Arif meyakini kesiapan penyelenggara layanan internet saat ini jauh lebih baik, seiring peningkatan penetrasi broadband dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut penetrasi yang semakin luas membuat kapasitas jaringan lebih siap menopang kebutuhan tambahan trafik.
“Karena saat ini juga penetrasi broadband sudah jauh lebih baik dan terus meningkat dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Arif kepada Bisnis, Kamis (2/4/2026).
Meski demikian, APJII masih menghitung potensi lonjakan trafik data, mengingat skema WFH saat ini hanya berlangsung satu hari per pekan. Arif memperkirakan peningkatan trafik tidak akan signifikan, meskipun peluang munculnya pengguna baru tetap terbuka.
Di kota-kota besar, sebagian besar rumah tangga disebut telah terhubung dengan layanan fixed broadband. Berdasarkan Survei APJII 2025, penetrasi internet Indonesia mencapai 80,66% atau setara 229,4 juta jiwa dari total populasi 284,4 juta.
Angka ini melanjutkan tren kenaikan sejak 2018 yang berada di level 64,80%, meningkat menjadi 73,70% pada 2020, 77,01% pada 2022, 78,19% pada 2023, dan 79,50% pada 2024.
Dari sisi akses, mayoritas masyarakat masih mengandalkan data seluler dengan porsi 74,27% pada 2025, meningkat dari 68,02% pada 2024. Penggunaan WiFi rumah juga meningkat menjadi 28,43% dari sebelumnya 22,38%. Sementara itu, akses WiFi di kantor, sekolah, dan ruang publik relatif stagnan di kisaran 1%–1,7%, sedangkan penggunaan tethering tercatat sebesar 0,64%.
Adapun pelanggan fixed broadband meningkat signifikan dari 27,40% pada 2024 menjadi 38,70% pada 2025. Meski demikian, mayoritas masyarakat masih belum berlangganan layanan ini. Berdasarkan jenis layanan, koneksi kabel/fiber mendominasi dengan porsi 29,57%, diikuti nirkabel 8,08% dan satelit 1,05%.
Dari sisi operator, PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. menyatakan dukungan terhadap kebijakan tersebut. Perusahaan menilai skema WFH memiliki kemiripan dengan kondisi saat pandemi, ketika trafik data meningkat signifikan.
Head of External Communications XLSmart Henry Wijayanto mengatakan perusahaan telah memiliki pengalaman dalam mengantisipasi lonjakan trafik.
“Kami sudah punya pengalaman menghadapi lonjakan trafik seperti itu, sehingga kami lebih siap dalam mengantisipasinya,” kata Henry.
Seiring proses integrasi perusahaan, XLSmart terus meningkatkan kualitas jaringan, antara lain melalui peningkatan kecepatan unduh dan pengembangan jaringan 5G di sejumlah kota.
Upaya ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menyediakan layanan konektivitas yang andal guna mendukung produktivitas, baik dari kantor maupun rumah.
Sementara itu, Direktur ICT Institute Heru Sutadi menilai dampak WFH saat ini berbeda dibandingkan periode pandemi. Pada masa tersebut, aktivitas bekerja dan belajar dilakukan sepenuhnya dari rumah selama hampir satu pekan, sehingga lonjakan trafik data terjadi signifikan akibat keterbatasan mobilitas.
“Sehingga memang paket data meningkat secara tajam karena ada keterbatasan mobilitas,” kata Heru.
Menurutnya, kebijakan WFH satu hari per pekan hanya akan memberikan dampak terbatas terhadap trafik data. Perubahan diperkirakan terutama berasal dari pekerja, sementara aktivitas sekolah tetap berlangsung normal.
Heru memperkirakan potensi kenaikan trafik hanya sekitar 1%–2% dibandingkan hari biasa. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode libur panjang atau hari raya yang dapat mendorong kenaikan hingga 12%–15%.
Dengan kondisi tersebut, operator dinilai tidak perlu melakukan penambahan kapasitas secara besar-besaran, meskipun tetap perlu melakukan pemantauan pada wilayah dengan lonjakan trafik tertentu.
“Jadi kalau misalnya ada wilayah-wilayah tertentu yang memang ada kenaikan traffic cukup signifikan, itu mungkin perlu juga segera diupgrade. Tapi kalau misalnya masih cukup, mungkin dipastikan saja kualitasnya tetap terjaga, jaringan internetnya juga tetap stabil,” katanya.
#work-from-home #trafik-data #operator-seluler #pemain-internet #penetrasi-broadband #peningkatan-trafik #fixed-broadband #data-seluler #penggunaan-wifi #tethering #xlsmart-telecom #jaringan-5g #konekt