Ancaman Karhutla: Dari Pemadaman Api Menuju Pencegahan Hotspot
Salah satu tantangan kebakaran lahan gambut di Kalimantan adalah, api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, melainkan juga merambat perlahan di bawah tanah.... | Halaman Lengkap
(SINDOnews Ekbis) 02/04/26 16:44 180272
Dr. Ir. Aswin Usup, MScGuru Besar Universitas Palangka Raya
PAGI itu, kabut tipis masih menggantung di atas hamparan rawa gambut di Kalimantan Tengah. Bagi sebagian orang, itu tampak seperti fenomena alam biasa. Namun untuk masyarakat Kalteng yang telah lama bergelut dengan ekosistem gambut, kabut tersebut adalah sinyal peringatan—bahwa api mungkin telah bergerak dalam sunyi di bawah permukaan tanah. Beberapa tahun lalu, bencana kebakaran hutan di Kalimantan mencapai puncaknya.
Pada musim panas 2015 (Juni sampai Oktober), tiga provinsi, yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan terkepung asap. Bahkan beberapa media asing menyebut kebakaran itu sebagai salah satu bencana kebakaran hutan terbesar dalam sejarah Indonesia modern.
Dampaknya, asap tidak hanya “memutihkan” Kalimantan, melainkan juga “menutup” langit Malaysia dan Singapura. Diprediksi lebih dari 28 juta orang terdampak dengan ratusan ribu kasus gangguan pernapasan. Empat tahun berselang, Juni 2019, api kembali melahap Kalimantan Tengah dan beberapa provinsi lainnya. Bila dibuat skala bencana, saat itu terdapat ribuan titik api (hotspot)dalam sehari hingga mengakibatkan penutupan sekolah dan penundaan penerbangan.
Salah satu tantangan kebakaran lahan gambut di Kalimantan adalah, api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, melainkan juga merambat perlahan di bawah tanah. Ia seperti ular yang hidup, bergerak maju, menghanguskan lapisan gambut yang telah terbentuk selama ribuan tahun. Inilah karakter unik sekaligus berbahaya dari kebakaran gambut. Sepintas ancaman tidak kasat mata, lalu setelah muncul, spot api sulit dipadamkanhingga berbulan-bulan.
Berdasarkan penelitian Hooijer bertajuk Current and future CO₂Emissions from Drained Peatlands in Southeast Asia, 2010, ditemukan fakta bahwa kebakaran lahan gambut bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah hasil interaksi kompleks antara faktor ekologis dan aktivitas manusia. Drainase lahan untuk pertanian dan perkebunan telah menurunkan muka air tanah gambut, sehingga mempercepat kering lalu mudah terbakar.
Muka Air Tanah
Akibatnya, saat musim kemarau datang, sedikit percikan saja dapat memicu kebakaran besar. Meski begitu, menyederhanakan masalah ini hanya sebagai akibat dari pembukaan lahan adalah pendekatan yang tidak memadai. Kita harus melihat gambut sebagai sistem hidrologi yang utuh. Ketika keseimbangan air terganggu, seluruh ekosistem menjadi rentan.
Dalam sejumlah penelitian yang penulis lakukan di Universitas Palangka Raya, ditemukan fakta menarik bahwa stabilitas muka air tanah merupakan kunci utama dalam pencegahan kebakaran. Dengan kata lain, gambut yang tetap basah hampir mustahil terbakar.
Di sinilah anomali terjadi, dimana pemerintah selama ini melihat gambut sebagai “api yang harus dipadamkan”. Maka respons pertama ketika api muncul, tim atau Satgas dikerahkan, lalu air dipompa, dan sumber daya difokuskan untuk mematikan api. Sepintas, metode ini tidak salah, namun hanya bersifat reaktif, dengan skala terbatas dan sering kali terlambat. Padahal sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Dayak di Kalimantan sudah memiliki “mekanisme pengendalian” api di lahan garapan yang dikuasai secara tradisional.
Di samping itu, strategi yang lebih efektif adalah pencegahan berbasis ekosistem. Artinya, kita harus memastikan bahwa kondisi gambut tidak memungkinkan terjadinya kebakaran sejak awal.
Salah satu konsep yang penulis kembangkan bersama tim adalah metode rewetting atau pembasahan kembali lahan gambut. Dengan membangun sekat kanal dan mengembalikan fungsi hidrologi alami, kita dapat menjaga kelembapan gambut sepanjang tahun.
Ini bukan solusi instan, tetapi terbukti efektif dalam jangka panjang. Semua upaya itu tidak mungkin dilakukan tanpa keterlibatan masyarakat lokal. Oleh karenanya, dalam setiap riset gambut, kami menempatkan masyarakat bukan sebagai objek, melainkan subjek. Dari mereka kami juga belajar mengenai kearifan lokal dan tradisi. Bila semua itu didukung dengan teknologi, akan menghasilkan inovasi dan perubahan.
Sebaliknya, bila mereka “dilupakan” dalam program ini, maka yang terjadi bukan hanya ancaman api, melainkan juga penurunan kemampuan ekonomi komunitas. Dalam banyak temuan, akibat adanya tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat,mereka dipaksa (kembali) melakukan pembakaransebagai cara termurah untuk membuka lahan.
Oleh karena itu, sisi teknis harus diiringi dengan pendekatan sosial-ekonomi. Sebagaimana ditulis oleh Luca Tacconi, program pemberdayaan masyarakat, seperti pengembangan pertanian tanpa bakar dan diversifikasi mata pencaharian, menjadi elemen penting dalam strategi pengendalian kebakaran. Pasalnya, tanpa alternatif yang layak, larangan semata tidak akan efektif.
Peta Risiko Kebakaran
Faktor berikutnya setelah pelibatan masyarakat, adalah pemanfaatan teknologi. Kemajuan teknologi memberikan kita alat yang sebelumnya tidak tersedia. Sistem pemantauan berbasis satelit, sensor kelembapan tanah, dan model prediksi kebakaran memungkinkan deteksi dini potensi kebakaran.
Namun, teknologi hanyalah alat. Efektivitasnya bergantung pada integrasi dengan kebijakan dan kesiapsiagaan di tingkat lokal. Sistem peringatan dini harus diikuti dengan respons cepat di lapangan. Dalam beberapa proyek kolaboratif, kami mengembangkan model indeks kerentanan kebakaran gambut yang menggabungkan data hidrologi, cuaca, dan penggunaan lahan. Model ini membantu menentukan wilayah prioritas untuk intervensi.
Upaya pengendalian kebakaran gambut tidak dapat dilepaskan dari aspek kebijakan. Fragmentasi kewenangan, lemahnya penegakan hukum, dan konflik kepentingan sering kali menjadi hambatan utama.Kita membutuhkan pendekatan lintas sektor yang terintegrasi.
Pengelolaan gambut harus melibatkan pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat secara simultan. Selain itu, restorasi gambut harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar proyek jangka pendek. Dampaknya tidak hanya pada pencegahan kebakaran, tetapi juga pada mitigasi perubahan iklim melalui pengurangan emisi karbon.
Berikut beberapa langkah teknis yang perlu menjadi prioritas memasuki musim kemarau 2026, Juni-Oktober. Pertama, penajaman peta risiko kebakaran, yaitu dengan memastikan wilayah rawan terbakar pada setiap desa. Termasuk menentukan zona rawan tinggi, sedang, dan rendah. Setelah itu menyusun peta kerja untuk tim lapangan.
Kedua, penganggaran yang berfokus pada pencegahan (bukan pemadaman). Pengalaman penulis melakukan riset gambut bertahun-tahun, sering kali anggaran dihabiskan untuk program pemadaman, padahal opsi pencegahan jauh lebih murah. Pencegahan dimaksud dapat dilakukan dengan pembuatan sekat kanal dan sumur bor,embung dan tandon air, peralatan pemadam desa, operasional patroli, pelatihan masyarakat, hingga insentif relawan desa.
Pelibatan Masyarakat Lokal
Ketiga, pembentukan atau penguatan Masyarakat Peduli Api (MPA). Dalam konteks ini, warga desa harus menjadi garda terdepan pencegahan kebakaran melalui jaringanMPA. Beberapa job desk yang dilakukan MPA di antaranya patroli rutin di kawasan desa masing-masing. Selain itu mereka juga melakukan deteksi dini potensi kebakaran, dan memadamkan api kecil yang tidak diharapkan. Ini langkah yang paling efektif karena mereka tinggal di lokasi kejadian kebakaran.
Keempat, pelatihan MPA dalam mengidentifikasi, membuat peta rawan kebakaran, tata kelola dan teknik patroli, serta teknik pemadaman dini. Kelima, pengadaan sarana dan prasarana desa, dengan menyediakan berbagai peralatan dasar (mesin pompa air, selang, tangki air, sepeda motor patroli, alat komunikasi, menara pantau sederhana, sekat kanal dan sumur bor).
Keenam, patroli rutin MPA dan penjagaan posko desa pada saat musim kemarau. Ketujuh, insentif dan biaya operasional MPA diserahkan ke kepala desa masing-masing, minimal empat bulan selama musim kemarau dalam satu tahun, agar warga yang menjaga hutan dapat manfaat ekonomi secara langsung. Dari semua langkah tersebut, kita sampai pada kesimpulan bahwa musim hujan bukanlah waktu untuk berdiam, melainkan saat krusial membangun sistem pencegahan sebelum munculnya hotspot.
Kita percaya, menghentikan kebakaran lahan gambut bukanlah hal yang mustahil. Kita telah memiliki pengetahuan, teknologi, dan pengalaman yang cukup. Tantangannya adalah bagaimana mengintegrasikan semua elemen tersebut secara konsisten. Sekali lagi, kita harus beralih dari paradigma “memadamkan api” menjadi “mencegah api”. Ini membutuhkan perubahan cara berpikir, komitmen jangka panjang, dan kolaborasi yang kuat.
(poe)
#opini #karhutla #kebakaran-hutan #lahan-gambut #hutan-tropis