PMI Manufaktur Diproyeksi Tetap Ekspansif, Daya Beli Jadi Penopang

PMI Manufaktur Diproyeksi Tetap Ekspansif, Daya Beli Jadi Penopang

PMI manufaktur Indonesia diproyeksi tetap ekspansif, didukung daya beli domestik dan permintaan ekspor. Stabilitas harga energi dan kebijakan pemerintah penting.

(Bisnis.Com) 02/04/26 14:43 180084

Bisnis.com, JAKARTA — Prospek Purchasing Managers’ Index (PMI) manufakturIndonesia dinilai masih berpotensi bertahan di zona ekspansi meskipun lajunya diperkirakan melambat setelah indeks tersebut turun pada Maret 2026.

Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, menilai arah PMI manufaktur ke depan kemungkinan akan bergerak dalam pola moderasi, yakni tetap berada di atas level ekspansi tetapi tidak kembali ke tingkat pertumbuhan tinggi dalam waktu dekat.

“Kita mungkin tidak akan kembali ke level ekspansi tinggi dalam waktu dekat, tapi juga belum tentu langsung masuk ke kontraksi,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Kamis (2/4/2026).

Menurutnya, terdapat tiga faktor utama yang akan menentukan arah PMI manufaktur dalam beberapa bulan ke depan, yaitu stabilitas harga energi, kekuatan daya beli domestik, serta keberlanjutan permintaan ekspor.

Yusuf menjelaskan kenaikan inflasi harga input menjadi risiko paling krusial bagi sektor industri. Jika tekanan biaya tersebut berlangsung dalam waktu lama, industri akan menghadapi kondisi yang disebut cost-price squeeze, yakni ketika biaya produksi meningkat sementara permintaan tidak cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga.

Dalam situasi tersebut, margin perusahaan akan tertekan sehingga pelaku industri cenderung menahan produksi dan menunda ekspansi usaha.

“Kalau tekanan biaya ini persisten, ekspansi yang sekarang terlihat bisa menjadi semakin rapuh, bahkan berisiko bergeser ke kontraksi,” katanya.

Lebih lanjut, dia menilai pemerintah perlu merespons kondisi tersebut melalui kebijakan yang seimbang, baik dari sisi pasokan, fiskal, maupun moneter.

Dalam jangka pendek, pemerintah perlu memastikan pasokan tetap aman dengan menjaga kelancaran jalur perdagangan serta mencari alternatif sumber impor apabila terjadi gangguan distribusi global. Koordinasi lintas kementerian dinilai menjadi kunci agar tekanan terhadap industri tidak semakin dalam.

Di sisi lain, menjaga daya beli domestik juga menjadi faktor penting untuk menopang aktivitas manufaktur di tengah ketidakpastian global. Menurutnya, konsumsi dalam negeri masih menjadi bantalan utama bagi industri ketika permintaan eksternal melemah.

Dari sisi fiskal, belanja pemerintah dinilai perlu diarahkan lebih tepat sasaran, terutama untuk kelompok masyarakat menengah bawah yang paling rentan terhadap kenaikan harga. Instrumen seperti bantuan sosial, subsidi yang lebih terarah, serta percepatan realisasi belanja negara dapat membantu menjaga stabilitas permintaan.

Selain itu, pemberian insentif kepada sektor industri tertentu juga dinilai relevan agar pelaku usaha tidak langsung menahan produksi atau mengurangi tenaga kerja ketika tekanan biaya meningkat.

Sementara itu, dari sisi moneter, stabilitas nilai tukar dan pengendalian inflasi tetap menjadi faktor krusial bagi keberlangsungan sektor industri. Bank sentral perlu menjaga keseimbangan antara meredam tekanan inflasi, terutama dari komponen energi, tanpa terlalu menekan likuiditas dunia usaha.

“Ruang kebijakan harus tetap fleksibel dan responsif terhadap dinamika global,” ujarnya.

Sementara itu, pemerintah juga menilai fundamental industri manufaktur domestik tetap terjaga, didukung oleh permintaan dalam negeri yang stabil serta optimisme pelaku usaha terhadap prospek ke depan.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menegaskan ketahanan sektor manufaktur mencerminkan kemampuan ekonomi Indonesia dalam menghadapi berbagai tekanan eksternal.

Dia menuturkan, meski melemah, sektor manufaktur Indonesia tetap berada di fase ekspansif. Hal tersebut ditopang oleh permintaan domestik dan kinerja mitra dagang utama yang terjaga.

"Hal ini menegaskan ketahanan fundamental sektor manufaktur nasional dan upaya Pemerintah untuk terus antisipatif terhadap risiko ke depan,” ujar Febrio dikutip dari keterangan resminya.

Dia melanjutkan, sentimen bisnis tetap terjaga seiring dengan prospek permintaan global yang masih positif. Sejumlah negara mitra dagang utama seperti Vietnam, Filipina, Thailand, India, dan Amerika Serikat masih mencatatkan PMI manufaktur pada zona ekspansif.

Bahkan, kawasan Eropa juga mulai menunjukkan perbaikan dengan Eurozone yang kembali ekspansif. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi prospek ekspor manufaktur Indonesia.

Ke depan, Febrio mengatakan pemerintah akan terus mencermati perkembangan geopolitik global serta memperkuat langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Berbagai bauran kebijakan akan terus dioptimalkan, termasuk penguatan iklim investasi melalui percepatan penyelesaian hambatan usaha (debottlenecking) serta penguatan kemandirian energi dan transformasi digital.

"Upaya ini diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks," katanya.

#pmi-manufaktur #manufaktur-indonesia #daya-beli #zona-ekspansi #stabilitas-harga-energi #permintaan-ekspor #kenaikan-inflasi #cost-price-squeeze #kebijakan-fiskal #kebijakan-moneter #daya-beli-domesti

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260402/257/1963921/pmi-manufaktur-diproyeksi-tetap-ekspansif-daya-beli-jadi-penopang