Target Kemenpar Undang 17,6 Juta Wisman ke Indonesia Hadapi Tantangan
Target wisman ke Indonesia pada 2026 yang ditargetkan sebanyak 17,6 juta diperkirakan menghadapi sejumlah tantangan.
(Bisnis.Com) 02/04/26 11:20 179841
Bisnis, JAKARTA — Target ambisius 17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2026 kian teruji oleh tekanan global dan belum pulihnya kinerja pariwisata pascapandemi. Hal ini memunculkan keraguan atas realisasi sasaran tersebut.
Kementerian Pariwisata tetap mematok target 16 juta hingga 17,6 juta wisman tahun ini dengan menyiapkan strategi mitigasi, mulai dari pergeseran pasar ke Asia Tenggara, Asia Timur, dan pasar medium-haul hingga penguatan promosi digital dan kerja sama maskapai.
Langkah ini ditempuh di tengah gangguan global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada konektivitas penerbangan dan minat perjalanan jarak jauh.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan pemerintah perlu bergerak adaptif untuk menjaga kinerja sektor ini.
“Diversifikasi pasar, penguatan promosi, dan optimalisasi wisata nusantara menjadi kunci agar sektor pariwisata tetap menjadi penggerak ekonomi nasional,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah mendorong insentif penerbangan, kebijakan bebas visa, penambahan kapasitas kursi, serta penguatan anggaran promosi guna menjaga daya saing destinasi Indonesia.
Namun, ekonom menilai target tersebut tidak mudah dicapai. Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menyebut capaian 17 juta wisman berpotensi meleset bahkan tanpa tekanan geopolitik.
Menurutnya, pemulihan pariwisata pascapandemi masih belum kembali ke level prapandemi, sementara kondisi global justru makin menantang.
“Untuk 17 juta itu sendiri tanpa perang sudah susah, dan dengan adanya kondisi perang tentu saja itu akan mempengaruhi juga pencapaian target, lebih susah lagi,” ujarnya.
Faisal menekankan bahwa persoalan utama bukan sekadar penetapan target, melainkan eksekusi strategi di lapangan. Kesiapan destinasi, efektivitas promosi, hingga kualitas kebijakan menjadi faktor penentu yang tidak bisa dicapai dalam waktu singkat.
Dia juga menyoroti pentingnya kepemimpinan lintas level, baik nasional maupun daerah, untuk memastikan daya tarik destinasi tetap kompetitif.
Di sisi lain, peluang tetap terbuka dari pergeseran rute perjalanan global. Wisatawan yang menghindari kawasan konflik berpotensi mengalihkan destinasi ke Asia, termasuk Indonesia. Namun, peluang ini dibayangi ketatnya persaingan dengan negara seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Singapura.
Selain kompetisi, kerja sama antarnegara juga dinilai penting mengingat tren wisatawan yang cenderung melakukan perjalanan multi-destinasi di kawasan.
Dari sisi kinerja, data Badan Pusat Statistik menunjukkan kunjungan wisman pada Februari 2026 mencapai 1,16 juta, turun 2,42% secara bulanan, tetapi naik 13,37% secara tahunan.
Secara kumulatif Januari–Februari 2026, jumlah kunjungan mencapai 2,35 juta atau tumbuh 7,77% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut capaian ini merupakan yang tertinggi sejak 2021.
Meski demikian, laju pertumbuhan tersebut masih perlu dijaga secara konsisten untuk mendekati target tahunan.
Di sisi legislatif, Ketua Komisi VII DPR RI Saleh P. Daulay mengapresiasi langkah mitigasi pemerintah, tetapi meminta penguatan konektivitas dan pergerakan wisatawan domestik.
Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan menyoroti perlunya penyesuaian kebijakan terhadap perubahan perilaku wisatawan akibat pergeseran pasar.
"Jangan ada ego sektoral lagi, kami mendukung Ibu Menteri harus memimpin pemberian bebas visa oleh pemerintah bagi wisatawan terutama Tiongkok dan Australia,” katanya.
#wisatawan-mancanegara #target-pariwisata #pariwisata-indonesia #promosi-digital #strategi-pariwisata #kebijakan-bebas-visa #insentif-penerbangan #wisata-nusantara #daya-saing-destinasi #pasar-asia-ten