Dompet Kering usai Lebaran, Tren 'Makan Tabungan' Bisa Tekan Laju Ekonomi
Usai Lebaran 2026, tren "makan tabungan" akibat lonjakan konsumsi dapat menekan pertumbuhan ekonomi jangka menengah, dengan risiko perlambatan konsumsi rumah tangga.
(Bisnis.Com) 01/04/26 15:54 178948
Bisnis.com, JAKARTA — Tren fenomena dissaving atau “makan tabungan” usai terjadinya lonjakan konsumsi masyarakat periode Lebaran 2026 berisiko menekan laju pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah.
Data Mandiri Spending Index (MSI) menunjukkan belanja masyarakat pada pekan ketiga Ramadan 2026 naik 0,9% secara mingguan (WoW) menjadi 123,5, lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya sebesar 0,6%. Secara tahunan, pertumbuhan belanja mencapai 7,7% (YoY), meningkat dari 7,2% pada periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, Mandiri Saving Index mencatat tabungan kelompok bawah meningkat ke level 73,6 dari 72,8 pada Februari, sementara kelompok menengah naik ke 102,1 dari 100,4. Sebaliknya, kelompok atas justru mengalami penurunan tabungan ke level 89,7 dari 94,3.
Seiring dengan hal ini, Direktur PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) Ganda Raharja Rusli menilai kombinasi kenaikan konsumsi dan penurunan tabungan tersebut menjadi sinyal yang perlu dicermati.
“Pertumbuhan belanja 7,7% secara tahunan terlihat positif. Namun, jika kenaikan tersebut lebih dipengaruhi oleh inflasi pangan dan energi, maka itu tidak mencerminkan peningkatan volume konsumsi atau kesejahteraan,” ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, pola tabungan yang terjadi saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan penguatan kondisi keuangan masyarakat.
“Penurunan tabungan pada kelompok atas di periode THR merupakan sinyal yang perlu dicermati. Kelompok ini biasanya memiliki bantalan keuangan yang kuat. Jika mulai menggunakan tabungan untuk kebutuhan musiman, berarti biaya hidup telah melampaui pertumbuhan pendapatan,” katanya.
Sementara itu, kenaikan tabungan pada kelompok menengah dan bawah dinilai bersifat sementara, seiring adanya tambahan pendapatan dari THR yang belum sepenuhnya dibelanjakan.
Lebih lanjut, Ganda menilai pola konsumsi yang ditopang oleh pengurasan tabungan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah, mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50% terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Jika tren ini berlanjut dalam 6 sampai 12 bulan ke depan, konsumsi rumah tangga berisiko melambat dari kisaran 5% menjadi sekitar 4% sampai dengan 4,5%,” ujarnya.
Setelah periode Lebaran dan dana THR habis, masyarakat dinilai akan kehilangan bantalan keuangan, sehingga lebih rentan terhadap tekanan harga maupun guncangan ekonomi.
Kondisi tersebut juga berisiko menekan sektor riil, mulai dari perlambatan penjualan ritel hingga penundaan ekspansi dan investasi oleh pelaku usaha.
#dompet-kering #makan-tabungan #laju-ekonomi #pertumbuhan-ekonomi #lonjakan-konsumsi #belanja-masyarakat #mandiri-spending-index #mandiri-saving-index #penurunan-tabungan #inflasi-pangan #inflasi-energ