UNDP: Perang AS-Israel vs Iran Rugikan 6% PDB Kawasan, Ciptakan Jurang Kemiskinan
Perang AS-Israel vs Iran dapat merugikan 6% PDB kawasan, meningkatkan pengangguran dan kemiskinan, serta menurunkan Indeks Pembangunan Manusia.
(Bisnis.Com) 01/04/26 06:25 178220
Bisnis.com, JAKARTA — Badan Program Pembangunan PBB atau United Nations Development Programme (UNDP) memperkirakan perang AS-Israel vs Iran mengakibatkan kerugian ekonomi sebesar 3,7% hingga 6% dari jumlah produk domestik bruto (PDB) kolektif kawasan tersebut.
Berdasarkan laporan terbaru UNDP, kerugian tersebut mencerminkan kehilangan ekonomi yang sangat besar, yaitu US$120 miliar hingga US$194 miliar. Jumlah tersebut melampaui kumulatif pertumbuhan PDB regional pada 2025.
UNDP juga menyebut bahwa perang yang telah memasuki pekan kelima, yang diawali oleh serangan AS-Israel ke Iran, diperkirakan akan membuat tingkat pengangguran melonjak hingga 4%, atau dengan kata lain, hilangnya 3,6 juta lapangan kerja. Lagi-lagi, angka tersebut lebih besar dari keseluruhan lapangan kerja yang diciptakan di kawasan pada 2025.
Badan PBB tersebut pun mengatakan bahwa rentetan kemunduran itu akan mendorong hingga 4 juta orang jatuh ke jurang kemiskinan.
UNDP menyatakan bahwa laporan tersebut mengungkap kerentanan struktural yang ternyata menjadi ciri khas kawasan ini. Artinya, eskalasi serangan militer yang singkat akan menghasilkan dampak sosial dan ekonomi yang mendalam serta luas dan hal itu dapat bertahan dalam jangka panjang.
“Krisis ini membunyikan alarm peringatan bagi negara-negara di kawasan ini untuk mengevaluasi kembali secara fundamental pilihan strategis mereka terhadap kebijakan fiskal, sektoral, dan sosial, yang merupakan titik balik penting dalam lintasan pembangunan di kawasan ini,” ujar Asisten Sekretaris Jenderal PBB dan Direktur Biro Regional untuk Negara Arab di UNDP Abdallah AlDardari.
Menurutnya, temuan pihaknya menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk memperkuat kolaborasi regional untuk mendiversifikasi ekonomi, sehingga tidak bergantung pada pertumbuhan yang didorong oleh hidrokarbon. Terdapat pula kebutuhan untuk memperluas basis produksi, mengamankan sistem perdagangan dan logistik, serta memperluas kemitraan ekonomi untuk mengurangi paparan terhadap guncangan dan konflik.
Temuan-temuan UNDP tersebut menyoroti bahwa dampak dari perang yang terjadi tidaklah seragam, tetapi sangat bervariasi di kawasan tersebut. Hal itu terjadi karena berbagai karakteristik struktural yang berbeda dari subkawasan-subkawasan utamanya.
Perkiraan menunjukkan bahwa kerugian makroekonomi terbesar terpusat di subkawasan Dewan Kerja Sama Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC) dan Levant/Syam. Kedua subkawasan tersebut terpapar kuat oleh gangguan perdagangan dan volatilitas pasar energi yang mendorong penurunan keluaran/output, investasi, dan perdagangan yang signifikan.
Subkawasan GCC dan Levant masing-masing berisiko kehilangan 5,2% hingga 8,5% dan 5,2% hingga 8,7% dari PDB mereka.
Di sisi lain, peningkatan tingkat kemiskinan akibat perang terkonsentrasi di subkawana Levant dan Negara-Negara Arab Kurang Berkembang (least developed countries/LDCs). Kedua subkawasan itu memiliki kerentanan dasar yang tertinggi dan guncangan ekonomi bisa menjadi penyebab penurunan kesejahteraan secara lebih mudah dibandingkan subkwasan lain.
Sementara itu, di Afrika Utara, yang juga dimasukkan ke dalam bagian Timur Tengah oleh UNDP dalam laporan ini, dampak dari perang tetap moderat. Meskipun begitu, secara absolut, dampak yang dirasakan masih signifikan.
Di wilayah Levant, konflik ini diperkirakan akan meningkatkan kemiskinan sebesar 5%, mendorong bertambahnya 2,85 hingga 3,30 juta orang ke dalam kemiskinan. Angka itu menyumbang lebih dari 75% dari lonjakan kemiskinan di seluruh kawasan.
Di seluruh kawasan yang dinilai, pembangunan manusia, yang diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), diperkirakan akan turun sekitar 0,2% hingga 0,4%. Hal itu setara dengan kemunduran kemajuan pembangunan manusia selama sekitar setengah tahun hingga hampir satu tahun penuh.
Penilaian tersebut dilakukan menggunakan pemodelan Keseimbangan Umum yang Dapat Dihitung (Computable General Equilibrium/CGE) untuk menangkap besaran disrupsi yang disebabkan oleh perang selama 4 pekan. Efek yang ada dimodelkan melalui saluran transmisi utama, termasuk peningkatan biaya perdagangan, kerugian produktivitas sementara, dan kehancuran modal lokal.
Laporan ini melakukan lima skenario simulasi yang mewakili tingkat skenario konflik yang meningkat. Skenario dimulai dari “disrupsi moderat”, yaitu ketika biaya perdagangan meningkat sepuluh kali lipat, hingga “disrupsi ekstrem dan guncangan energi”, yaitu ketika biaya perdagangan meningkat seratus kali lipat, yang diperparah dengan berhentinya produksi hidrokarbon. (Laurensius Katon Kandela)
#perang-as-israel #dampak-perang-as-israel-vs-iran #as-israel-vs-iran #perang-israel-vs-iran #dampak-perang-israel-vs-iran #dampak-ekonomi-perang-israel-vs-iran #kerugian-ekonomi-akibat-perang-as-israe