Bos Siantar Top (STTP) Bicara Dampak Perang, Kaji Opsi Naikkan Harga

Bos Siantar Top (STTP) Bicara Dampak Perang, Kaji Opsi Naikkan Harga

Siantar Top menghadapi dampak perang Iran-AS dengan menahan kenaikan harga meski biaya bahan baku melonjak. Menaikkan harga jadi opsi terakhir.

(Bisnis.Com) 31/03/26 14:38 177586

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten produsen makanan ringan, PT Siantar Top Tbk. (STTP) tengah bersiap menghadapi dampak berantai dari perang yang berkecamuk antara Iran-AS. Tidak hanya menaikkan harga bahan baku produksi, perang dinilai bakal turut memanaskan harga plastik packaging sebagai kemasan utama produk Siantar Top.

Direktur Utama Siantar Top Armin memprediksi kenaikan harga pada plastik bakal menjadi aral yang melintang bagi kinerja perseroan pada 2026. Namun, upaya pengendalian biaya berusaha dijalankan perseroan agar menaikkan harga jual menjadi opsi terakhir yang dapat dipilih perseroan.

Data Trading Economics menunjukkan, harga Polyethylene sebagai bahan baku utama kemasan makanan, telah melonjak di atas 9.000 yuan China per ton pada Maret 2026. Angka ini mencerminkan kenaikan 45% sepanjang tahun berjalan 2026 (year-to-date/YtD) dan sekaligus menyentuh level tertinggi sejak 4 tahun terakhir.

”Kami pasti cara mengatasinya itu dengan supplier kami. Kami coba kontrak lebih banyak yang bisa kami dapatkan dan kami cari pemasok yang bisa lebih memasok kami. Itu yang kami lakukan,” katanya saat dihubungi Bisnis, Senin (30/3/2026).

Selain bahan baku kemasan, STTP juga mengkhawatirkan ihwal kenaikan harga bahan baku produksi. Hanya saja, di tengah kondisi yang tidak pasti, Armin menegaskan bahwa pihaknya memilih menahan diri untuk menaikkan harga.

Menurutnya, dalam kondisi perang, semua harga kebutuhan pokok berpotensi naik. Dengan begitu, turut menaikkan harga di tengah daya beli masyarakat yang lesu, berpotensi mendorong lesunya penjualan bagi perusahaan.

”Tinggal kami lihat, dengan naiknya bahan itu, kami lihat dampaknya terhadap profit kami. Ya kalau masih bisa kami bertahan, yang penting tidak dalam, ya kami jalani dulu dengan kondisi ekonomi saat ini. Karena kami tidak bisa semena-mena langsung menaikkan harga, kami juga belum tahu daya beli itu seperti apa nantinya,” katanya.

Salah satu upaya yang dilakukan perseroan adalah menjajaki kontrak baru dengan supplier lain di kawasan Asia. Hal itu dilakukan sembari berharap perang tidak akan berlangsung lebih lama.

Hanya saja, jika perang terjadi dalam jangka waktu yang panjang, Armin menilai bahwa menaikkan harga sebagai strategi bisnis tidak lagi dapat dielakkan.

”Tapi kalau memang situasinya sudah tidak memungkinkan, mau tidak mau ya kami harus adjust harga ya,” katanya.

Armin menilai, peran pemerintah penting dalam kondisi ini. Pemerintah diminta untuk mulai mengatur lonjakan harga yang terjadi pada kemasan berbahan dasar plastik. Pasalnya, sebagian besar industri makanan bergantung pada bahan baku ini.

”Harusnya kalau tidak diatasi oleh pemerintah terhadap material plastik ini, Indonesia bisa collaps. Bayangkan saja, barang makanan apa yang tidak dibungkus dengan plastik? Kalau industri enggak ada bahan, enggak bisa produksi, karyawannya enggak kerja,” katanya.

#siantar-top #sttp #dampak-perang #harga-bahan-baku #harga-plastik #kenaikan-harga #bahan-baku-kemasan #polyethylene-harga #kontrak-supplier #daya-beli-masyarakat #strategi-bisnis #pemerintah-peran #in

https://market.bisnis.com/read/20260331/192/1963326/bos-siantar-top-sttp-bicara-dampak-perang-kaji-opsi-naikkan-harga