Pupuk Indonesia Revitalisasi 7 Pabrik, Genjot Efisiensi Energi dan Bahan Baku

Pupuk Indonesia Revitalisasi 7 Pabrik, Genjot Efisiensi Energi dan Bahan Baku

Pupuk Indonesia revitalisasi 7 pabrik untuk efisiensi energi dan bahan baku, mendukung produksi berkelanjutan dan menjaga pasokan pupuk nasional bagi petani.

(Bisnis.Com) 17/03/26 16:32 167328

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pupuk Indonesia (Persero) menjalankan program revitalisasi terhadap 7 pabrik dalam lima tahun ke depan guna mendorong efisiensi operasional sekaligus meningkatkan kinerja produksi.

Program revitalisasi industri ini didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 sebagai upaya meningkatkan efisiensi energi dan optimalisasi penggunaan bahan baku. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi industri pupuk nasional yang lebih hemat energi dan berdaya saing.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira mengatakan bahwa program revitalisasi tersebut tidak hanya mencakup peremajaan fasilitas produksi lama, tetapi juga pembangunan pabrik baru untuk menggantikan unit yang sudah tidak efisien.Upaya ini ditujukan untuk mengoptimalkan kapasitas produksi sekaligus menekan konsumsi energi dan penggunaan bahan baku.

“Pupuk Indonesia berkomitmen menjalankan mandat pemerintah untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani. Di tengah dinamika geopolitik yang terjadi, kami memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman sehingga petani dapat terus menanam, tanpa perlu khawatir terhadap ketersediaan pupuk,” kata Yehezkiel dalam keterangan resminya, Selasa (17/3/2026).

Dengan kapasitas produksi mencapai 14,8 juta ton per tahun, Pupuk Indonesia menilai efisiensi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri, terutama dalam menghadapi fluktuasi harga energi global.

Revitalisasi pabrik juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi energi secara signifikan, sekaligus memperbaiki utilisasi bahan baku dalam proses produksi.

Secara fundamental, efisiensi ini ditopang oleh ketersediaan bahan baku gas bumi dari dalam negeri yang membuat produksi pupuk urea relatif lebih stabil dan kompetitif.

“Pupuk Indonesia merupakan produsen urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Dengan kapasitas produksi yang kuat tersebut, kami memiliki kemampuan untuk menjaga pasokan pupuk tetap optimal bagi petani Indonesia,” ujarnya.

Selain revitalisasi pabrik, perusahaan juga mengoptimalkan penggunaan bahan baku melalui diversifikasi sumber pasokan, khususnya untuk fosfat dan kalium yang diperoleh dari luar negeri. Strategi ini dilakukan untuk menjaga kesinambungan produksi sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok.

Adapun, pihaknya memperkuat ketahanan rantai pasok melalui diversifikasi sumber bahan baku strategis pupuk yang diimpor. Beberapa bahan baku pupuk memang tidak tersedia secara alami di Indonesia, seperti fosfat (P) dan kalium (K) yang menjadi komponen penting dalam produksi pupuk NPK.

Saat ini, Pupuk Indonesia memperoleh pasokan fosfat (P) dari negara-negara di kawasan Afrika Utara, seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Sementara itu, pasokan kalium (K) diperoleh dari Kanada dan Laos yang berada di luar wilayah konflik Timur Tengah, sehingga risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan.

Bahan baku pupuk lainnya yang berpotensi terdampak langsung oleh eskalasi konflik di TimurTengah adalah sulfur (S). Sulfur (S) merupakan salah satu bahan baku yang digunakan untukmemproduksi asam sulfat, yang menjadi komponen pendukung dalam pembuatan pupuk NPK.

Saat inisebagian pasokan sulfur memang diperoleh dari negara-negara di Timur Tengah, seperti Uni Emirat Arab (UAE), Qatar, dan Kuwait.

Meski demikian, risiko gangguan pasokan relatif dapat dimitigasi karena sulfur juga dapat diperoleh dari negara lain seperti Kanada dan Kazakhstan. Selain itu, sebagian kebutuhan terhadap asam sulfat juga dapat dipenuhi dari sumber-sumber domestik.

Dengan diversifikasi sumber bahan baku tersebut, Pupuk Indonesia mampu menjaga proses produksi tetap berjalan optimal sehingga ketersediaan pupuk bagi petani tetap terjaga.

Penguatan manajemen stok bahan baku juga menjadi bagian dari upaya efisiensi operasional, terutama dalam mengantisipasi potensi lonjakan biaya logistik akibat kenaikan harga minyak dunia.

Dengan revitalisasi tujuh pabrik, efisiensi energi, dan optimalisasi bahan baku, Pupuk Indonesia optimistis dapat meningkatkan kinerja operasional sekaligus menjaga stabilitas pasokan pupuk nasional.“Fokus utama kami tetap memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi dengan optimal,” tuturnya.

#pupuk-indonesia #revitalisasi-pabrik #efisiensi-energi #bahan-baku-pupuk #transformasi-industri-pupuk #kapasitas-produksi-pupuk #pasokan-pupuk-nasional #diversifikasi-bahan-baku #produsen-urea-terbesa

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260317/99/1960983/pupuk-indonesia-revitalisasi-7-pabrik-genjot-efisiensi-energi-dan-bahan-baku