Deretan PLTP Penyumbang Pendapatan Terbesar bagi Pertamina Geothermal (PGEO)
PLTP Kamojang menempati posisi pertama sebagai penyumbang pendapatan terbesar bagi Pertamina Geothermal Energy pada 2025
(Bisnis.Com) 11/03/26 16:14 162019
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten energi terbarukan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) mencetak sejarah baru melalui kinerja sepanjang 2025. Entitas dari PT Pertamina (Persero) tersebut mencatat rekor realisasi produksi listrik hijau sebesar 5.095 gigawatt hour (GWh) tahun lalu, tertinggi sepanjang sejarah operasional perusahaan.
Realisasi produksi listrik itu naik 5,55% dibandingkan dengan produksi 2024 sebesar 4,827 GWh. Manajemen mengemukakan pertumbuhan tidak terlepas dari tambahan kapasitas terpasang sebesar 55 megawatt (MW) dari Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi secara komersial pada Juni 2025.
Dengan tambahan tersebut, kapasitas terpasang PGEO kini meningkat menjadi 727 MW dari sebelumnya 672 MW.
Direktur Operasional Pertamina Geothermal Energy, Andi Joko Nugroho mengemukakan bahwa peningkatan produksi listrik terjadi di sejumlah wilayah operasi PGEO. Kontribusi produksi tersebut antara lain berasal dari Kamojang yang diproyeksikan mencapai 1.806 GWh, Ulubelu 1.617 GWh, Lahendong 849 GWh, Lumut Balai 714 GWh, serta Karaha 109 GWh.
Kenaikan produksi ini turut tecermin dalam performa keuangan PGEO sepanjang 2025. Meski laba bersih Perseroan pada 2025 turun 14,2% secara tahunan menjadi US$137,69 juta atau sekitar Rp2,33 triliun pada 2025 (asumsi kurs Jisdor berada di level Rp16.919 per dolar Amerika Serikat AS), pendapatan bersih menorehkan kenaikan 6,29% secara tahunan menjadi US$432,72 juta.
Mayoritas pendapatan usaha ini disumbangkan PLTP area Kamojang sebesar US$155,67 juta. Pendapatan dari PLTP tersebut setara dengan kontribusi sebesar 35,97% dari total pendapatan PGEO pada 2025. Pemasukan ini berasal dari penjualan uap dan listrik ke PT PLN Indonesia Power sebesar US$68,33 juta dan PT PLN sebesar US$81,12 juta.
PLTP Ulubelu menyusul sebagai kontributor pendapatan terbesar kedua dengan nilai US$121,11 juta sepanjang 2025, naik daripada realisasi 2024 sebesar US$119,01 juta. Pendapatan tersebut mencerminkan sumbangan sebesar 27,98% dari total hasil penjualan Perseroan.
Pembangkit di area Lahendong menyusul di peringkat selanjutnya dengan kontribusi sebesar US$83,26 juta, relatif tak banyak berubah dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang bertengger di angka US$83,18 juta.
PLTP Lumut Balai tercatat menyumbang pendapatan sebesar US$62,12 juta sepanjang 2025. Nilai tersebut merefleksikan kenaikan sebesar 48,53% dibandingkan dengan 2024 sebesar US$41,82 juta. Dari sisi kontribusi, terdapat kenaikan dari 10,27% pada 2024 menjadi 14,25% pada 2025.
Terakhir, PLTP Karaha mencetak pendapatan sebesar US$10,55 juta sepanjang 2025, naik daripada US$9,05 juta pada tahun sebelumnya.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan Pertamina Geothermal Energy, Edwil Suzandi, menyampaikan bahwa terdapat empat proyek Perseroan yang masuk dalam Blue Book 2025–2029 oleh Kementerian PPN/Bappenas.
Proyek-proyek ini mencakup Lumut Balai Unit 3, Lumut Balai Unit 4, Gunung Tiga/Ulubelu Extension I, serta Lahendong Unit 7–8 & Binary. Total nilai investasi untuk keempat proyek tersebut mencapai lebih dari US$1,09 miliar.
“Realisasi proyek-proyek ini diproyeksikan menambah 215 MW kapasitas listrik rendah emisi yang direncanakan beroperasi secara bertahap mulai 2029 hingga 2032. Hal ini sekaligus mempertegas komitmen Perseroan dalam mengembangkan potensi 3 GW panas bumi yang dimiliki, ” tutup Edwil.
#pertamina-geothermal #pltp-pertamina #produksi-listrik-hijau #kapasitas-terpasang-pltp #pltp-lumut-balai #pltp-kamojang #pltp-ulubelu #pltp-lahendong #pltp-karaha #pendapatan-pertamina-geothermal #lab