Purbaya Belum Buka Opsi APBNP,  Klaim Fondasi Fiskal Solid

Purbaya Belum Buka Opsi APBNP, Klaim Fondasi Fiskal Solid

Menkeu Purbaya belum buka opsi APBNP meski harga minyak naik, klaim fondasi fiskal solid dan masih ada ruang antisipasi kenaikan harga minyak.

(Bisnis.Com) 11/03/26 16:04 161991

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa belum membuka opsi untuk merevisi anggaran kendati harga minyak dan rupiah sempat melebar dari nilai fundamental yang menjadi acuan penyusunan APBN 2026.

Purbaya menjelaskan bahwa saat ini realisasi harga minyak masih berada di level US$68 dolar per barel sehingga masih berada di bawah asumsi makro APBN 2026 yakni US$70 per barel.

"Berdasarkan estimasi kami, realisasi ICP dan average year to date hingga 1 Maret 2026 sekitar US$68 per barel ini sudah memasukkan kenaikan US$120 [per barel] sementara itu ya," terang Purbaya pada konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 di kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Oleh sebab itu, Purbaya menyebut saat ini masih ada ruang fiskal untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak yang bisa memicu lonjakan belanja subsidi BBM.

"Banyak yang tanya harga minyak [sempat menyentuh] US$100 per barel, apakah pemerintah akan mengubah APBN-nya? Belum, karena dari sini sampai kemarin masih US$68 per barel," paparnya.

Di sisi lain, Purbaya juga memastikan pemerintah bakal memenuhi target lifting migas supaya impor migas bisa ditekan.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu memaparkan bahwa otoritas fiskal terus memantau perkembangan terkait dengan dampak perang terhadap harga minyak.

"Kami terus akan pantau seperti sering dijelaskan, APBN terus kami kelola dari sisi penerimaan bagus sekali pertumbuhannya dalam dua bulan pertama 2026 dan juga belanja akan selalu kami kelola sedemikian rupa," paparnya.

Harga Mulai Fluktuatif

Harga minyak dunia bergerak fluktuatif setelah beredar kabar bahwa International Energy Agency (IEA) mengusulkan pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar untuk meredam lonjakan harga akibat perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (11/3/2026), harga minyak jenis Brent pengiriman Mei naik 0,4% menjadi US$88,16 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April menguat 0,7% menjadi US$84,00 per barel.

Harga Brent sempat melonjak hingga 3,7% sebelum mengurangi kenaikannya, sementara WTI bergerak di sekitar US$84 per barel di tengah volatilitas ekstrem pekan ini—setelah harga sempat menembus US$100 per barel pada Senin.

Pelepasan cadangan yang diusulkan IEA diperkirakan akan melampaui 182 juta barel yang sebelumnya dilepas negara anggota IEA pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima arus perdagangan minyak global, memaksa sejumlah produsen besar di Teluk memangkas produksi dan mendorong kenaikan harga minyak mentah, gas alam, serta produk turunan seperti diesel.

Lalu lintas kapal tanker di jalur tersebut dilaporkan menyusut drastis, sementara pelaku pasar terus memantau kemungkinan dimulainya kembali aktivitas perdagangan secara normal.

Menurut laporan The Wall Street Journal yang mengutip pejabat terkait, negara anggota IEA diperkirakan akan memutuskan proposal pelepasan cadangan darurat tersebut pada Rabu. Kebijakan itu dapat langsung diberlakukan jika tidak ada negara anggota yang mengajukan keberatan, meski protes dari satu negara saja berpotensi menunda rencana tersebut.

#apbn-2026 #harga-minyak #purbaya-yudhi-sadewa #revisi-anggaran #realisasi-harga-minyak #asumsi-makro-apbn #ruang-fiskal #subsidi-bbm #target-lifting-migas #strategi-ekonomi-fiskal #dampak-perang-harga

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260311/10/1959696/purbaya-belum-buka-opsi-apbnp-klaim-fondasi-fiskal-solid