Pentingnya Asuransi Bencana Alam dalam Rencana Anggaran Rumah Tangga
Asuransi bencana yang merupakan perluasan perlindungan dari asuransi properti hingga asuransi kendaraan penting untuk dimiliki masyarakat Indonesia.
(Kompas.com) 11/03/26 13:50 161776
JAKARTA, KOMPAS.com - Asuransi bencana yang merupakan perluasan perlindungan dari asuransi properti hingga asuransi kendaraan penting untuk dimiliki masyarakat Indonesia.
Pasalnya, hampir seluruh wilayah Indonesia masuk golongan rawan bencana baik seismik maupun hidrologis.
Perencana keuangan dari Finansialku.com, Melvin Mumpuni mengatakan, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana dapat menyipakan dana untuk menanggung risiko seperti renovasi kecil atau mengunakan asuransi properti dan kendaraan.
SHUTTERSTOCK/PICKADOOK Ilustrasi asuransi rumah."Jika membeli asuransi properti atau kendaraan perlu menambahkan perluasan untuk bencana, misalnya banjir," kata dia kepada Kompas.com.
Masyarakat juga dapat menyiapkan dana tertentu di luar dana darurat yang sudah dimiliki.
Sebagai contoh, masyarakat bisa memanfaatkan dana darurat umum sebesar 6 hingga 12 kali pengeluaran bulanan.
"Ditambah untuk renovasi kecil misalnya Rp 50 juta," ucap dia.
Menurut Melvin, dana darurat dan asuransi properti dengan perluasan bencana alam adalah dua hal yang berbeda.
Dana darurat akan berguna untuk keperluan pengeluaran ketika terjadi risiko bencana.
Sementara itu, asuransi properti berguna untuk melindungi bangunan yang dimiliki.
"Asuransi properti untuk proteksi asetnya," ucap Melvin.
Asuransi properti jadi salah satu langkah menangani risiko
Dok Shutterstock Ilustrasi asuransi.Meskipun memiliki peran yang penting, asuransi properti dengan perluasan bencana alam bukan solusi mutlak untuk menghadpi risiko.
Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi Mike Rini berpandangan, asuransi hanya menjadi salah satu pilihan untuk menghadapi risiko bencana alam pada properti.
Memiliki asuransi menurut Mike berarti mentransfer risiko dengan membeli asuransi kepada perusahaan asuransi.
"Itu namanya mengalihkan risiko (transfer risk)," ungkap dia.
Asuransi yang dapat dimiliki keluarga misalnya adalah asuransi properti yang diperluas dengan pertanggungan bencana alam dan asuransi kendaraan dengan perluasan yang sama.
"Itu kalau kita mau strategi meng-handle risikonya dengan mengalihkan risiko," kata Mike.
Ia menceritakan, untuk memiliki asuransi jenis ini, masyarakat umumnya mengeluarkan dana untuk biaya premi sekitar 0,5 hingga 1 persen dari nilai aset yang dimiliki.
Namun demikian, selain asuransi, Mike mengatakan, masyarakat yang memiliki kemampuan lebih bisa pindah dari kawasan yang rawan bencana tersebut.
"Cuma tidak semua orang punya privilege, punya pilihan itu. But it\'s still a choice gitu ya," ungkap dia.
Selain itu, Mike menjelaskan, dalam rangka mengurangi paparan risiko, keluarga juga bisa memiliki perencanaan yang lebih awal misalnya dengan membuat rumah yang lebih tahan gempa. Strategi ini termasuk dalam risk reduction.
Dengan demikian, harapannya properti tidak mengalami banyak kerusakan ketika ada risiko gempa bumi datang.
"Rumahnya dibikin lebih tahan gempa misalnya, sehingga renovasi rumah menjadi lebih minimum gitu ya," ungkap dia.
SHUTTERSTOCK/REDPIXEL.PL Ilustrasi asuransi.Ia menjelaskan, untuk keluarga yang mengambil pilihan untuk menanggung sendiri seluruh risiko (risk retention), penting untuk memiliki dana cadagan yang lebih besar untuk antisipasi.
Sementara itu, keluarga yang tidak bisa menyediakan dana besar dapat mengkombinasikan tiga strategi antisipasi risiko.
"Kombinasi ya, bisa risk reduction, risk transfer, dan risk retention, sekalgus tuh tiga-tiganya," ungkap dia.
Artinya, keluarga perlu untuk memiliki asuransi properti, menyiapkan bangunan yang lebih kokoh, dan memiliki dana cadangan.
"Jadi memang harus punya strategi utnuk mengelola risiko ya. Namun terlebih dahulu harus kita hitung sebenarnya yang perlu kita persiapkan itu berapa sih," terang dia.
Asuransi dan dana darurat saling melengapi
Perencana keuangan independen Andy Nugroho menjelaskan, kepemilikan dana darurat yang dibarengi dengan asuransi properti tentu akan lebih bagus karena akan saling melengkapi.
Asuransi properti merupakan shortcut untuk maasyarakat mendapatkan perlindungan menyeluruh dan komprehensif atas properti dan seisinya dengan modal premi yang relatif terjangkau.
Sementara itu dana darurat juga diperlukan untuk pemulihan atau pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang harus dilakukan apabila terjadi bencana.
"Yang tidak ter-cover oleh asuransi properti," ujar dia.
Andy menambahkan, rumus sederhana mempersiapkan tabungan untuk merenovasi rumah ataupun perbaikan ketika terjadi risiko, adalah dengan menyiapkan dana darurat.
"Yang rutin kita sisihkan tiap bulannya dengan idealnya 10 persen dari penghasilan," kata dia kepada Kompas.com.
Sebagai tambahan dari tabungan dana darurat tersebut, Andy menyebut, masyarakat bisa menambahkan juga asuransi properti serta asuransi kendaraan bermotor.
SHUTTERSTOCK/PRAPAN MANUCHON Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumahHal tersebut bertujuan untuk menutup kerugian dengan klaim asuransi ketika nominal tabungan belum terlalu banyak, tetapi kerusakan akibat bencananya memakan biaya yang cukup banyak.
"Kedua dengan mengasuransikan properti maupun kendaraan kita maka kita bisa memotong waktu yang diperlukan untuk menyiapkan dana darurat tersebut," imbuh dia.
Perbesar dana darurat di kawasan rawan bencana
Dalam perencanaan keuangan, masyarakat juga perlu menjawab beberapa pertanyaan dasar terkait dengan kesiapannya menghadapi bencana.
Kepemilikan asuransi properti tentu akan membantu pemilik properti pulih tanpa membebani kocek lebih dalam.
Oleh karena itu, Perencana Keuangan Rista Zwestika mengatakan, seseorang harus bisa mengukur apakah ketika rumah rusak total, kondisi keuangan keluarga mampu untuk membangun kembali tanpa asuransi.
Dalam kondisi bencana, keluarga juga harus bisa menjawab apakah keuangan masih tetap aman ketika tidak ada penghasilan salama tiga bulan.
Ia juga meminta keluarga untuk merefleksikan ingin memiliki aset yang besar atau likuiditas yang lebih kuat.
Rista menjelaskan, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana sebaiknya memiliki dana darurat setara 6 hingga 12 bulan dari pendapatan per bulan.
Angka ini lebih besar dibandingkan dengan dana darurat karyawan dalam kondisi normal yakni tiga sampai enam bulan pengeluaran.
"Kenapa lebih besar? karena saat bencana aktivitas kerja bisa berhenti dan bisnis bisa tutup sementara," tutur dia.
Di samping itu, bencana membuat munculnya biaya relokasi hingga biaya perbaikan rumah.
SHUTTERSTOCK/BENOIT DAOUST Ilustrasi renovasi rumah.Tak hanya itu, Rista bilang, harga kebutuhan pokok juga akan naik ketika terjadi bencana.
Rista mengingatkan, dana darurat ini harus likuid, tidak diinvestasikan pada instrumen berisiko.
"Mudah diakses dalam 1-2 hari," ungkap dia.
Indonesia rawan bencana alam, asuransi bencana wajib dimiliki
Direktur Utama PT Reasuransi Maipark Indonesia (MAIPARK), Kocu Andre Hutagalung mengatakan, asuransi bencana alam adalah proteksi finansial yang wajib dimiliki.
Bagi pengusaha, asuransi ini menyelamatkan karena operasional yang terhenti akibat bencana. Sementara bagi masyarakat umum, rumah biasanya adalah aset terbesar mereka.
"Asuransi memastikan masyarakat tidak kehilangan hanya dalam hitungan detik akibat bencana," tegas dia.
Pasalnya, ia menambahkan, polis asuransi kebakaran standar atau KPR dasar biasanya tidak otomatis mencakup bencana alam.
Masyarakat khususnya untuk rumah tinggal dan usaha kecil menengah harus proaktif meminta perluasan jaminan khusus, seperti proteksi Gempa Bumi (EQVET) atau banjir, sesuai risiko di daerah tempat tinggalnya.
"Untuk nilai pertanggungan, nilai yang tepat adalah Biaya Pembangunan Kembali. Artinya, pastikan nilai asuransinya cukup untuk membiayai material dan tukang untuk membangun ulang rumah tersebut dari nol jika hancur total," ucap pria yang karib disapa Kocu itu.
Ia menceritakan, pendapatan premi asuransi bencana alam terus mencatatkan pertumbuhan positif. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat dan pelaku usaha yang mulai meningkat. Rasio klaim industri dan MAIPARK tetap sangat aman dan terkendali.
ANTARA FOTO/Yudi Manar/bar Ilustrasi bencana banjir di Sumatera.Psikolog menjelaskan dukungan emosional dari keluarga dapat membantu seseorang mengelola rasa cemas ketika menghadapi ancaman bencana."Kami memiliki permodalan yang sangat kuat serta dukungan reasuransi global yang solid untuk menanggung risiko-risiko tersebut," terang dia.
Menurut Kocu, Indonesia memang salah satu negara paling rawan bencana di dunia karena posisinya di kawasan Ring of Fire.
Khusus untuk Kalimantan, meskipun secara historis relatif lebih aman dibandingkan Jawa atau Sumatra, wilayah ini memang relatif memiliki kerentanan atas gempa yang lebih rendah.
"Di MAIPARK, kami sudah memasukkan data sesar-sesar di pulau Kalimantan ke dalam sistem permodelan risiko kami (Maipark Catastrophe Modeling) agar potensi kerugiannya bisa dimitigasi dan diukur secara akurat," ungkap dia.
Sementara itu, Riset World Risk Report 2023 menunjukkan, Indonesia menempati peringkat kedua global untuk kerentanan bencana, hanya kalah dari Filipina.
Analisis pakar geologi sekaligus Strategic Planning & Risk Management Group Head, MAIPARK Indonesia, Ruben Damanik, mengatakan interaksi terus menerus antara lempeng-lempeng tektonik memanifestasikan diri menjadi gempa, erupsi, dan ancaman tsunami yang merata dari Aceh hingga Papua.
Data historis 1963-2023 menunjukkan bahwa hampir tidak ada wilayah Indonesia yang benar-benar aman dari potensi gempa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#asuransi-properti #indepth #bencana-alam #asuransi-kendaraan-bermotor #asuransi-bencana #biaya-perbaikan-rumah