Kisah Pendiri LEGO Bangkit dari Krisis dengan Strategi Fokus pada Produk Mainan

Kisah Pendiri LEGO Bangkit dari Krisis dengan Strategi Fokus pada Produk Mainan

LEGO bangkit dari krisis 2000an dengan fokus pada balok mainan inti, restrukturisasi produk, dan kolaborasi dengan franchise besar, meningkatkan penjualan dan menjadi perusahaan mainan terbesar.

(Bisnis.Com) 07/03/26 05:50 157631

Bisnis.com, JAKARTA — LEGO berhasil bangkit dari krisis keuangan pada awal 2000an dengan kembali fokus pada produk inti berupa balok mainan sederhana yang menjadi dasar kesuksesan perusahaan.

Pada masa tersebut, perusahaan sempat mengalami tekanan finansial serius akibat ekspansi bisnis yang terlalu luas dan biaya produksi yang membengkak.

Pada awal 2000an, LEGO menghadapi krisis keuangan yang cukup berat setelah mengalami kerugian harian dan menanggung utang besar akibat ekspansi ke berbagai sektor bisnis non-inti.

Perusahaan sempat masuk ke industri pakaian, media, hingga taman hiburan, namun langkah tersebut justru membuat operasional menjadi tidak efisien dan mengganggu fokus bisnis utama.

CEO baru LEGO, Jørgen Vig Knudstorp, menilai bahwa krisis perusahaan disebabkan oleh terlalu banyaknya variasi produk yang membuat operasional menjadi tidak efisien dan tidak lagi selaras dengan kebutuhan pasar.

Dia kemudian melakukan restrukturisasi dengan memangkas sekitar 30% lini produk serta menekan biaya operasional melalui pengurangan jumlah karyawan.

Perusahaan kemudian melakukan penyederhanaan sistem produksi dengan mengurangi lebih dari 7.000 variasi komponen balok menjadi jumlah yang lebih efisien. Langkah ini membuat proses produksi menjadi lebih cepat, biaya operasional lebih rendah, serta membantu LEGO kembali memproduksi set mainan yang lebih sesuai dengan selera pasar.

Strategi tersebut juga diikuti dengan cara baru dalam memahami pasar dan penggemar. LEGO mulai melibatkan komunitas penggemar dewasa serta menjalin kerja sama dengan berbagai waralaba populer untuk memperkuat daya tarik produk.

Salah satu terobosan terbesar adalah kerja sama dengan franchise besar seperti Star Wars dan Harry Potter. Kolaborasi ini membuat produk LEGO memiliki nilai cerita yang lebih kuat, sehingga meningkatkan minat beli konsumen.

Jørgen juga menilai bahwa kekuatan cerita dalam produk menjadi salah satu faktor penting yang mendorong peningkatan minat beli konsumen dan memperkuat daya tarik merek.

“Storytelling menjual lebih banyak produk dibandingkan hanya menjual mainan tanpa narasi,” ujarnya dikutip dari akun Instagram @businessdrivendream, Rabu (4/3/2026).

Strategi tersebut terbukti berhasil mendorong pertumbuhan bisnis secara signifikan, di mana pada tahun 2010 penjualan berada di bawah 1 miliar dolar atau sekitar Rp15 triliun dan meningkat menjadi sekitar 2,03 miliar dolar atau sekitar Rp30–31 triliun pada 2014.

Pada 2015, posisi LEGO semakin kuat setelah resmi menjadi perusahaan mainan terbesar di dunia berdasarkan nilai penjualan.

Kesuksesan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak selalu harus berinovasi dengan menambah produk, tetapi dapat tumbuh dengan menyederhanakan dan memperkuat produk inti yang sudah ada.

#lego #krisis-keuangan #produk-inti #balok-mainan #ekspansi-bisnis #utang-besar #industri-pakaian #taman-hiburan #restrukturisasi-lego #pengurangan-karyawan #sistem-produksi #komunitas-penggemar #kerja

https://entrepreneur.bisnis.com/read/20260307/52/1958312/kisah-pendiri-lego-bangkit-dari-krisis-dengan-strategi-fokus-pada-produk-mainan