Dua Kapal Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Bahlil: Lagi Upaya Diplomasi

Dua Kapal Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Bahlil: Lagi Upaya Diplomasi

Pemerintah dan Pertamina berupaya bebaskan 2 kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Impor minyak dialihkan ke AS agar pasokan energi nasional tetap aman, hadapi gejolak Timur Tengah.

(Kompas.com) 04/03/26 07:19 154180

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Energi dan Sumber Daya (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang terjebak di Selat Hormuz terus diupayakan untuk bisa keluar dari wilayah konflik tersebut.

Menurutnya, pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) tengah menempuh jalur diplomasi untuk mengeluarkan kapal yang mengangkut minyak mentah (crude) tersebut.

"Kami lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan," ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Namun, dalam skenario terburuk jika kedua kapal tidak bisa keluar, maka perlu dilakukan pembelian minyak mentah dari wilayah yang pengirimannya tidak melewati Selat Hormuz.

Langkah ini untuk memastikan pasokan energi nasional tetap aman di tengah gejolak global.

"Andaikan pun itu tidak dikeluarkan, kita sudah cari alternatif untuk mencari sumber crude dari yang lain dan sudah dapat. Jadi saya pikir itu tidak menjadi sesuatu problem, bukan sesuatu masalah yang sangat penting," ucap Bahlil.

Adapun pemerintah berencana mengalihkan seluruh impor minyak mentah dari Timur Tengah ke AS, sebagai upaya mitigasi atas memanasnya konflik antara Israel, AS, dan Iran di kawasan tersebut.

Ia menuturkan, sekitar 25 persen total impor minyak mentah Indonesia selama ini berasal dari kawasan Timur Tengah.

Sementara sisanya dipasok dari negara lain, seperti Angola di Afrika, AS, serta Brasil.

"25 persen dari total crude yang kita pesan dari Middle East itu akan dialihkan (ke AS)," ucap Bahlil.

Pengalihan impor ini sekaligus menjadi bagian dari kesepakatan dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan AS, di mana RI berkomitmen membeli produk energi senilai 15 miliar dollar AS atau sekitar Rp 253 triliun.

Pada kesempatan itu, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan kajian dan menjalin komunikasi dengan berbagai negara terkait dinamika global yang terjadi saat ini.

Ia menuturkan, berdasarkan kajian internal dan informasi intelijen yang diterima, durasi ketegangan di Timur Tengah tersebut sulit untuk diprediksi secara pasti.

Ada kemungkinan konflik bisa selesai dengan cepat atau justru sebaliknya.

"Sekalipun informasi disampaikan bahwa ketegangan ini akan selesai dalam waktu ada yang mengatakan 5 hari, ada 4 minggu. Tapi keyakinan kami, setelah melakukan kajian, ini tidak akan bisa kita ramalkan kapan selesai. Bisa cepat, bisa lambat," jelasnya.

AFP/FADEL SENNA Pelabuhan Al Aqir di Selat Hormuz, difoto dari Ras Al Khaimah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Iran pada 28 Februari menutup Selat Hormuz sebagai respons serangan Amerika-Israel ke Teheran.

PIS terus pantau kapal di Timur Tengah

Sebelumnya, PT Pertamina International Shipping (PIS) memastikan terus memantau intensif seluruh armada dan keselamatan pekerjanya yang berada di Timur Tengah.

Saat ini terdapat 4 kapal PIS yang berada di kawasan tersebut.

Terdiri dari Kapal Gamsunoro yang sedang proses loading di Khor al Zubair - Irak;

Kapal Pertamina Pride yang telah selesai melakukan proses loading dan sekarang sedang berlabuh di Ras Tanura - Arab Saudi.

Kemudian Kapal PIS Rinjani yang saat ini sedang berlabuh di Khor Fakkan - UAE;

serta Kapal PIS Paragon yang sedang discharge berada di Oman.

Adapun dua kapal yang masih berada di dalam area teluk yakni Pertamina Pride dengan Ship Management dari NYK, dan kapal Gamsunoro yang saat ini dikelola oleh Synergy Ship Management.

Pjs Corporate Secretary PIS Vega Pita menyatakan, sembari memantau perkembangan situasi selama 24 jam penuh, perusahaan mengupayakan agar kedua kapal tersebut dapat segera keluar dari area Teluk.

"Saat ini, tim armada kami tengah menjalin komunikasi intens dengan pihak pengelola untuk koordinasi dan memastikan keselamatan para kru dan kapal," ujar Vega dalam keterangan tertulis, Senin (2/3/2026).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#konflik-timur-tengah #kapal-pertamina-selat-hormuz #pasokan-energi-nasional #pengalihan-impor-minyak

https://money.kompas.com/read/2026/03/04/071903826/dua-kapal-pertamina-terjebak-di-selat-hormuz-bahlil-lagi-upaya-diplomasi