Penyumbang Surplus Dagang Januari 2026, Komoditas Nilai Tambah Rendah Dominan?
Surplus perdagangan Indonesia Januari 2026 mencapai US$0,95 miliar, didominasi komoditas bernilai tambah rendah seperti lemak/minyak nabati dan bahan bakar mineral.
(Bisnis.Com) 02/03/26 15:51 152156
Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan nonmigas menyumbang surplus US$3,23 miliar pada Januari 2026. Kendati demikian, penyumbang surplus dagang tersebut masih didominasi komoditas dengan nilai tambah rendah.
Berdasarkan data BPS, lima komoditas penyumbang surplus perdagangan terbanyak pada Januari 2026 yaitu lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) dengan kontribusi US$3,10 miliar; bahan bakar mineral (HS 27) sebesar US$2,16 miliar; besi dan baja (HS 72) sebesar US$1,52 miliar; nikel dan barang daripadanya (HS 75) sebesar US$1,03 miliar; serta alas kaki (HS 64) sebesar US$0,49 miliar.
Sebaliknya, lima komoditas penyumbang defisit perdagangan terbesar justru didominasi komoditas dengan nilai tambah tinggi seperti mesin dan peralatan mekanis (HS 84) yang mencapai -US$2,23 miliar; mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) mencapai -US$1,39 miliar; plastik dan barang dari plastik (HS 39) mencapai -US$0,73 miliar; instrumen kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) mencapai -US$0,47 miliar; serta serealia (HS 10) mencapai -US$0,36 miliar.
Adapun secara keseluruhan, BPS mengumumkan neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar US$0,95 miliar per Januari 2026, menjadi yang terendah sejak Mei 2025 lalu.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan bahwa Indonesia mencatatkan ekspor Januari 2026 mencapai US$22,16 miliar atau naik 3,39% dibandingkan Januari 2025 (year on year/YoY).
Nilai ekspor migas tercatat sebesar US$0,89 miliar atau turun 15,62%. sementara nilai ekspor nonmigas naik 4,38% dengan nilai pada Januari 2026 US$21,26 miliar.
Ateng menyebut peningkatan ekspor nonmigas didorong oleh beberapa komoditas yaitu lemak/minyak nabati, nikel, dan mesin/perlengkapan elektrik.
Adapun, nilai impor Januari 2026 mencapai US$21,20 miliar atau naik 18,21% dibandingkan Januari 2025 (year on year/yoy). Nilai impor migas Januari 2026 mencapai US$3,17 miliar atau naik 27,52% secara yoy, sedangkan nilai impor nonmigas Januari 2026 mencapai US$18,04 miliar atau naik 16,71% secara yoy.
"Pada Januari 2026, neraca perdagangan barang tercatat surplus sebesar US$0,95 miliar. Neraca perdagangan Indonesia dengan ini telah mencatat surplus selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," kata Ateng pada Senin (2/3/2026).
Surplus pada Januari 2026 lebih ditopang pada surplus komoditas nonmigas yaitu sebesar US$3,22 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utama lemak dan minyak hewani nabati, kemudian bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
#surplus-dagang #neraca-perdagangan #komoditas-nilai-tambah-rendah #lemak-minyak-nabati #bahan-bakar-mineral #besi-baja #nikel-barang #alas-kaki #defisit-perdagangan #mesin-peralatan-mekanis #mesin-per