Pisau Bermata Dua atau Transparansi? Risiko di Balik Pembukaan Data UBO Bursa
Transparansi pasar modal Indonesia oleh BEI membuka data pemilik saham besar, meningkatkan kepercayaan investor, namun berisiko memicu efek herding dan manipulasi.
(Bisnis.Com) 17/02/26 13:10 138687
Bisnis.com, JAKARTA – Transparansi pasar modal yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai memiliki risiko yang perlu diantisipasi oleh investor, meski secara keseluruhan langkah ini sangat positif. Seperti diketahui, otoritas bursa akan membuka data Ultimate Beneficial Owner (UBO) pemilik saham di atas 1%, sampai data data shareholders concentration list.
Analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan menilai pembukaan data daftar saham yang terindikasi memiliki pemegang saham terkonsentrasi memang menjadi langkah yang bagus karena investor ritel butuh indikator yang mudah untuk dibaca.
Sementara itu, pembukaan data UBO menurut Ekky membuat publik bisa menilai apakah suatu saham emiten hanya dipegang segelintir pihak atau kepemilikannya lebih merata ke banyak investor. Dengan informasi itu, risiko volatilitas dan risiko saham gorengan bisa diukur lebih masuk akal.
"Di sisi lain, kebijakan ini juga bisa membawa risiko baru. Kalau nama investor utama ikut dibuka, bisa muncul efek herding, ritel jadi ikut-ikutan nama besar dan ini justru bisa menciptakan pola pergerakan yang tidak sehat," kata Ekky, Senin (16/2/2026).
Bahkan, sambung dia, kalau tidak disikapi hati-hati, ini bisa menjadi semacam jalur baru untuk manipulasi, bahwa pihak tertentu bisa memanfaatkan reputasi nama besar untuk memancing arus masuk.
Risiko lainnya, Ekky melihat ada juga investor yang tidak nyaman kalau posisinya terlalu transparan, atau namanya tertulis sebagai pemegang saham utama. Menurutnya hal ini bisa memengaruhi investor tersebut mengurangi eksposur atau keluar dari saham tertentu, dan itu berpotensi menambah tekanan jual di awal implementasi transparansi.
Dari perspektif yang lebih luas, Ekky menilai bahwa semakin transparan pasar biasanya semakin baik dampaknya dalam jangka panjang. Praktik manipulasi cara lama jadi lebih sulit karena pelaku pasar punya alat untuk mendeteksi struktur kepemilikan. Di saat yang sama, keterbukaan seperti ini menurutnya juga bisa jadi nilai plus buat institusi dan investor asing, karena pasar modal Indonesia terlihat lebih investable dan lebih rapi dari sisi governance.
"Jadi saya setuju, kalau ini benar-benar dibuka dan komunikasinya jelas, dampaknya bisa cukup besar bukan cuma ke sentimen harian, tapi bisa mengubah \'meta\' pergerakan pasar ke depan," pungkasnya.
Risiko FOMO Investor Ritel
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi Wafi menilai, meskipun dalam jangka panjang transparansi yang dilakukan BEI bisa mencegah praktik manipulasi harga saham, pembukaan data shareholders concentration list menurutnya dalam jangka pendek bisa memancing investor ritel melakukan panic selling atau Fear of Missing Out (FOMO).
"Jadikan data ini sebagai filter risiko, bukan sinyal beli. Hindari saham dengan konsentrasi kepemilikan lebih dari 80% oleh segelintir pihak. Fokus ke saham dengan distribusi kepemilikan publik yang merata," kata Wafi.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menilai BEI perlu memastikan data yang akan dibuka publik itu mudah dipahami, seperti misalnya persentase kepemilikan pihak terkait, dan terdapat identitas kelompok dan free float secara riil.
"Itu sangat esensial. Syukur-syukur kalau ditambahkan frekuensi transaksi pada konsentrasi tersebut," kata Nafan.
Nafan mengingatkan, saat ini investor saham di Indonesia belum semuanya teredukasi. Bagi yang sudah teredukasi, menurutnya beberapa perubahan penyajian data dan transparansi yang sekarang disiapkan BEI tidak akan jadi masalah.
Berdasarkan data, jumlah investor pasar modal Indonesia per akhir Januari 2026 telah mencapai 21.037.426 single investor identification (SID). Angka ini merupakan penambahan sejumlah 673.218 SID dibandingkan posisi akhir 2025 yang tercatat sebanyak 20.364.208 SID, setelah sepanjang 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 5.492.569 SID.
Sementara itu, jumlah investor saham kini hampir menyentuh angka 9 juta SID, tepatnya 8.980.318 SID. Jumlah tersebut meningkat 367.958 SID dibandingkan akhir 2025 yang berada di level 8.612.360 SID, setelah sepanjang 2025 bertambah sebanyak 2.230.916 SID.
"Kalau yang kurang teredukasi pasti ada potensi FOMO. Pasti mereka akan terjebak di saham yang likuiditasnya rendah. Itu dinamikanya," jelasnya.
Secara umum, Nafan menilai apa yang dilakukan BEI saat ini sangat positif membantu para investor pasar modal. Dengan transparansi, investor ritel dapat dengan mudah membaca informasi secara spesifik dan semakin membuat berhati-hati dalam berinvestasi.
"Bahwa ternyata saham bisa gampang disetir [dipengaruhi sentimen-sentimen]. Ini bisa mencegah mereka masuk ke perangkap saham yang tidak likuid tadi," tandasnya.
Sebelumnya, (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan pembukaan data shareholders concentration list merupakan best practice yang dilakukan banyak bursa efek di negara-negara lain, salah satunya Hong Kong.
Langkah BEI ini menjadi salah satu isi dari proposal yang diajukan kepada Morgan Stanley Capital International (MSCI). Sebagaimana diketahui, lembaga pembuat indeks global ini meminta otoritas bursa Indonesia melakukan perbaikan transparansi pasar agar indeks saham Indonesia tidak turun kasta ke frontier market.
"Tentunya dengan implementasi ini akan lebih meningkatkan transparansi dan integrasi pasar kita ke depan," ujarnya di Kantor BEI, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Ketika dipastikan apakah data shareholders concentration list tersebut akan memuat saham-saham yang diakumulasi konglomerat, Jeffrey menjelaskan output dari data itu memang belum diketahui hasilnya. Saat ini BEI sedang menyusun metodologinya, dan implementasinya ditargetkan mulai akhir Februari atau awal Maret 2026.
"Output-nya itu belum, jadi kita tidak berangkat dari outputnya, tetapi kita berangkat dari metodologinya," kata dia.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#transparansi-pasar-modal #bursa-efek-indonesia #ultimate-beneficial-owner #risiko-investor #saham-gorengan #efek-herding #manipulasi-pasar #investor-ritel #konsentrasi-kepemilikan #pasar-modal-indones