Berkah Imlek dan Ramadan 2026 Diproyeksi Kerek Saham Ritel ERAA hingga MAPI
Imlek dan Ramadan 2026 diprediksi mendorong saham ritel seperti ERAA dan MAPI, dengan peningkatan konsumsi dan penjualan hingga 16% di sektor ritel.
(Bisnis.Com) 09/02/26 16:02 130704
Bisnis.com, JAKARTA — Perayaan Tahun Baru Imlek dan Ramadan pada 2026 yang berdekatan dinilai menjadi katalis musiman yang mengerek performa emiten ritel.
Secara historis, kedua momentum ini kerap memicu peningkatan perputaran uang dan mendorong kinerja sejumlah sektor berbasis konsumsi dan ritel di tengah dinamika daya beli yang masih fluktuatif.
Equity Analyst PT Indopremier Sekuritas Hari Rachmansyah mengatakan sektor consumer staples, khususnya makanan dan minuman (F&B), menjadi salah satu penerima manfaat utama saat momentum musiman ini. Permintaan bahan pangan untuk jamuan makan malam keluarga, seperti ayam, telur, dan beras, cenderung meningkat signifikan menjelang Imlek.
Tak hanya itu, sektor ritel modern juga berpeluang mencatatkan pertumbuhan penjualan seiring kuatnya budaya pemberian hadiah dan belanja pakaian baru.
“Di tengah narasi pelemahan daya beli, sejumlah indikator menunjukkan konsumsi domestik masih relatif bertahan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2025 tercatat di level 123,5, menandakan masyarakat masih berada dalam zona optimistis,” ujarnya, Senin (9/2/2026).
Meski pertumbuhan kredit konsumsi melambat ke level 6,58%, dia menilai belanja pemerintah yang mencapai Rp335 triliun untuk program makanan bergizi gratis atau MBG juga dinilai menjadi bantalan permintaan domestik agar tidak tertekan terlalu dalam. Peran fiskal ini memberi kepastian tambahan bagi sektor-sektor berbasis konsumsi sepanjang awal 2026.
Dalam memanfaatkan momentum musiman ini, dia menyarankan investor tetap selektif mengingat volatilitas pasar yang masih tinggi. Strategi utama meliputi pemilihan emiten dengan fundamental dan valuasi yang solid, termasuk memperhatikan skor ESG guna meminimalkan risiko non-keuangan.
Likuiditas saham juga menjadi faktor krusial. Saham berkapitalisasi besar dengan volume transaksi tinggi atau yang masuk dalam indeks global dinilai lebih aman untuk strategi keluar-masuk.
Dari sisi teknikal, pendekatan buy on weakness pada saham-saham blue chip tetap menjadi opsi defensif untuk menangkap peluang kenaikan musiman tanpa mengabaikan manajemen risiko.
Retail Research Analyst BNI Sekuritas Muhammad Lutfi Permana mengatakan memasuki periode Ramadan, sektor ritel juga termasuk sebagai salah satu sektor yang paling menarik dicermati.
Dia memproyeksikan sektor ritel menunjukkan kinerja lebih agresif pada kuartal IV/2025, dengan pertumbuhan penjualan sekitar 16% secara tahunan, meningkat signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya. Lonjakan ini ditopang oleh meningkatnya trafik pengunjung pusat perbelanjaan serta membaiknya indeks penjualan ritel.
“Katalis jangka pendek dinilai cukup solid, didukung oleh faktor musiman seperti libur akhir tahun Nataru yang kemudian berlanjut pada kuartal I/2026, peningkatan likuiditas, serta harapan membaiknya daya beli masyarakat,” ujarnya.
Lutfi menyebut peluncuran iPhone menjadi katalis penting bagi kinerja PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA), yang mencatatkan pertumbuhan penjualan sekitar 20% secara tahunan. Selain itu PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk. (MAPA) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) juga turut menikmati momentum libur akhir tahun dengan pertumbuhan penjualan dua digit.
Di sisi lain, beberapa emiten ritel masih tertinggal akibat efek basis tinggi dari promosi besar sebelumnya. Meski margin kotor ritel turun tipis akibat faktor musiman dan perubahan bauran produk, stabilnya biaya operasional membuat laba bersih sektor ini justru diperkirakan melonjak hingga 35% secara tahunan.
“ERAA dan MAPA berpeluang mencatatkan kinerja di atas ekspektasi atau outperform, sementara MAPI cenderung sejalan dengan proyeksi pasar,” katanya.
Pasar, lanjutnya, kini menantikan hasil pemulihan daya beli seiring dorongan belanja sosial pemerintah dan faktor musiman yang diharapkan berlanjut hingga kuartal I/2026.
Menurutnya daya tarik sektor ini akan semakin kuat apabila pemulihan konsumsi benar-benar berlanjut. Indikator yang akan menjadi perhatian utama ke depan antara lain Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), tingkat daya beli masyarakat, serta realisasi konsumsi rumah tangga.
Pemulihan sektor ini diperkirakannya berlanjut hingga 2026 dan biasanya menjadi penerima manfaat lebih awal sebelum konsumsi masyarakat bergeser ke barang-barang diskresioner.
“Pada 2026 sektor ritel diperkirakan mencatat pertumbuhan laba yang lebih agresif, yakni sekitar 16%,” lanjutnya.
Adapun saham-saham pilihan utama BNI Sekuritas di sektor ritel, yakni MAPA dan MAPI masih menjadi andalan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#imlek-2026 #ramadan-2026 #saham-ritel #saham-eraa #saham-mapi #saham-mapa #sektor-ritel #daya-beli #konsumsi-domestik #pertumbuhan-penjualan #indeks-keyakinan-konsumen #belanja-pemerintah #momentum-mu