Perusahaan Jepang Borong Kredit Karbon Jelang Peluncuran Pasar Wajib
Perusahaan Jepang borong kredit karbon di Tokyo jelang skema emisi wajib GX-ETS, yang berlaku April, untuk penuhi komitmen iklim dan antisipasi pasar.
(Bisnis.Com) 09/02/26 09:19 130085
Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah perusahaan Jepang dengan tingkat polusi tinggi mulai memborong kredit karbon di pasar sukarela yang dikelola Tokyo Stock Exchange Inc. Aksi ini dilakukan menjelang diberlakukannya skema perdagangan emisi wajib di negara tersebut.
“Kami melihat banyaknya permintaan yang masuk ke pasar. Sebagian permintaan ini didorong oleh antisipasi perusahaan terhadap diperkenalkannya GX-ETS,” kata Natsuko Gunji, General Manager kantor perdagangan karbon bursa tersebut, dikutip dari Bloomberg, Senin (9/2/2026).
Dia menambahkan, sebagian perusahaan juga berlomba untuk merealisasikan penggunaan (retire) kredit karbon mereka dalam tahun fiskal berjalan guna memenuhi komitmen iklim.
Dalam aturan yang diusulkan, pelaku emisi diperbolehkan menggunakan kredit karbon sukarela (voluntary carbon) untuk kompensasi hingga 10% dari emisi yang nantinya diatur dalam pasar kepatuhan Jepang (mandatory market), yang dikenal sebagai GX-ETS, dan mulai berlaku pada April.
Skema ini diperkirakan mencakup sekitar 60% total emisi Jepang dan menjadi pilar utama upaya pemerintah Negeri Sakura dalam memangkas emisi 46% pada 2030 dibandingkan level 2013.
Menurut Bloomberg Intelligence, harga kredit karbon sukarela di TSE dari berbagai kategori mulai menunjukkan konvergensi menjelang implementasi pasar wajib. Kredit karbon yang berasal dari listrik energi terbarukan bahkan diperdagangkan pada level di atas batas harga yang diusulkan untuk pasar kepatuhan.
Harga kredit karbon dari listrik energi terbarukan di Bursa Tokyo sempat menyentuh 6.600 yen (sekitar US$42,12) per ton pada Februari dan April tahun lalu. Namun banderol harga telah turun hampir seperempatnya sejak saat itu. Meski demikian, level tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan batas harga izin emisi sebesar 4.300 yen yang diusulkan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang pada Desember untuk pasar GX-ETS.
Dalam perkembangan lain di pasar karbon global, China, Rusia, dan Turki tercatat sebagai negara yang paling terdampak kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa yang mulai berlaku pada Januari 2026, menurut BloombergNEF. Produk dari ketiga negara tersebut menyumbang hampir sepertiga impor yang tercakup CBAM ke Uni Eropa dan Inggris, dengan komoditas besi dan baja mendominasi nilai perdagangan.
BloombergNEF juga memperkirakan pasar karbon Eropa dan Australia masih akan mencatat tren positif, sementara kredit karbon dan program di Amerika Serikat menghadapi risiko lebih besar pada 2026. Penerapan tarif karbon lintas batas dan peninjauan luas kebijakan pasar karbon di Uni Eropa diperkirakan dapat memperluas cakupan serta memperketat pasokan izin emisi.
Sementara itu, sejumlah negara di kawasan Amerika dan Asia mulai memperkenalkan skema baru serta melakukan reformasi pasar karbon, meskipun ketidakpastian politik masih menjadi tantangan. Harga karbon di Uni Eropa sendiri sempat melonjak setelah dana investasi kembali masuk ke pasar usai aksi jual pada pekan sebelumnya.
#kredit-karbon #pasar-sukarela #perdagangan-emisi #pasar-kepatuhan #gx-ets-jepang #emisi-jepang #energi-terbarukan #harga-kredit-karbon #pasar-karbon-global #cbam-uni-eropa #tarif-karbon #pasar-karbon