90% Produk E-Commerce Masih Impor, UMKM Lokal Mengaku Kalah Harga

90% Produk E-Commerce Masih Impor, UMKM Lokal Mengaku Kalah Harga

90% produk e-commerce di Indonesia masih impor, membuat UMKM lokal kesulitan bersaing harga. Penjual berharap dukungan pemerintah untuk memperkuat daya saing.

(Bisnis.Com) 07/02/26 13:13 129055

Bisnis.com, JAKARTA — Pedagang online mengaku kesulitan bersaing dengan barang-barang yang berasal dari impor di platform e-commerce seperti Shopee, TikTok Shop, hingga Lazada.

Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyatakan 90% produk e-commerce masih impor.

Salah satu penjual e-commerce Aldo (30), yang memiliki toko di berbagai platform, mengungkapkan penjualannya mengalami penurunan drastis seiring membanjirnya produk impor dan meningkatnya persaingan dari toko luar negeri, khususnya dari China.

“Seller asing yang buka akun di MP [market Place] Indonesia untuk menangin pasar, produksi barang di China,” ujar Aldo saat diwawancarai Bisnis, Sabtu (7/2/2026).

Penjual yang telah bergelut selama delapan tahun di dunia e-commerce tersebut menilai, untuk dapat bertahan di tengah persaingan saat ini, seller dituntut memiliki modal finansial yang kuat. Hal itu diperlukan untuk memproduksi barang dalam jumlah besar agar mampu bersaing dari sisi harga dengan produk impor yang dijual sangat murah.

Selain itu, Aldo bersama komunitas seller lainnya juga menyoroti praktik cloning produk dari basis data produk terlaris di Indonesia. Cloning produk dimaksud adalah pemanfaatan data produk laris di dalam negeri yang kemudian diolah dan diproduksi kembali di negara asal marketplace untuk menguasai pasar Indonesia.

“Memang produknya tidak sama persis, tapi yang jadi masalah itu harga jualnya,” jelas Aldo.

Para penjual berharap memperoleh keuntungan dari selisih antara harga jual dan harga pokok penjualan (HPP). Namun, HPP di Indonesia cenderung lebih tinggi dibandingkan negara lain, terutama negara yang mendapat dukungan kuat dari pemerintahnya untuk menembus pasar global, seperti China, Vietnam, dan Filipina.

“Seller di Indonesia sudah pasti kalah saing kalau bicara harga jual dengan negara-negara tersebut,” katanya.

Menurut Aldo, titik permasalahan yang dirasakan penjual adalah persaingan harga yang berada di bawah standar. Di tengah kondisi tersebut konsumen cenderung memilih produk yang murah dan berkualitas, sehingga banyak penjual lokal mengalami penurunan pendapatan bahkan terpaksa gulung tikar.

Saat ini, penjual e-commerce juga menghadapi tekanan akibat kenaikan harga bahan baku yang sebagian besar masih bergantung pada impor, seperti bahan baku tekstil. kondisi ini seharusnya mendorong kenaikan harga jual produk ke konsumen.

Namun kenyataannya, harga barang jadi justru terus tertekan akibat ketatnya persaingan dan membanjirnya produk impor murah di pasar domestik.

Selain itu, Aldo juga menyoroti maraknya konten di media sosial yang mengajak masyarakat untuk melakukan impor dengan iming-iming keuntungan besar. Menurutnya, tren tersebut sering kali berujung pada penjualan kelas edukasi impor, yang pada akhirnya justru dapat memperburuk kondisi ekonomi nasional.

Aldo berharap pemerintah dapat memberikan edukasi dan pendampingan kepada pelaku usaha, khususnya UMKM, agar mampu menembus pasar ekspor dan memperkuat perekonomian nasional.

Merujuk pada artikel Bisnis sebelumnya, data Kementerian UMKM mengungkapkan sekitar 90% produk yang beredar di platform e-commerce masih didominasi barang impor berharga murah, termasuk pakaian bekas impor yang dijual Rp600.000 per 20 pcs serta produk jadi dengan harga tidak wajar, seperti kerudung Rp6.997 per pcs dan kemeja Rp20.000 per pcs.

Di sisi lain, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada 2025 masih didominasi skema mikro sebesar 69,8%. Sementara itu, kontribusi UMKM terhadap ekspor nonmigas nasional baru mencapai 15,7% dan partisipasi Indonesia dalam global value chain masih rendah di level 4,1%.

Kondisi tersebut terjadi di tengah struktur UMKM nasional yang 99,71% didominasi usaha mikro, sehingga menjadi tantangan besar dalam memperkuat daya saing produk dalam negeri di pasar domestik. (Nur Amalina)

#e-commerce-impor #produk-impor-murah #umkm-lokal #persaingan-harga-e-commerce #produk-china #penjual-e-commerce-indonesia #harga-jual-produk #bahan-baku-impor #edukasi-umkm #pasar-ekspor-umkm #produk

https://teknologi.bisnis.com/read/20260207/84/1950958/90-produk-e-commerce-masih-impor-umkm-lokal-mengaku-kalah-harga