Sepekan Lebih Ditawarkan, ORI029 Baru Laku Rp5,38 Triliun

Sepekan Lebih Ditawarkan, ORI029 Baru Laku Rp5,38 Triliun

ORI029, SBN ritel perdana 2026, baru terjual Rp5,38 triliun dari target Rp25 triliun. Tenor 3 tahun lebih diminati dengan penjualan Rp4,08 triliun.

(Bisnis.Com) 05/02/26 12:40 126644

Bisnis.com, JAKARTA – Selama lebih dari sepekan diperdagangkan sejak 26 Januari 2026, SBN ritel perdana tahun ini, ORI029 baru mampu menghimpun dana sekitar Rp5,38 triliun.

Dari target penghimpunan dana Rp25 triliun melalui produk ini, realisasi penjualan ORI029 baru mencerminkan 21,52% dari target.

Berdasarkan data PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit) pukul 11.43 WIB, dari dua tenor ORI029 yang ditawarkan pemerintah, produk dengan tenor pendek lebih banyak menghimpun dana investor. ORI029-T3 telah mampu menyerap Rp4,08 triliun dari total Rp15 triliun dana dihimpun lewat produk ini. Artinya, produk ini masih tersisa sekitar Rp10,92 triliun atau mencerminkan 72,9% dari total.

Meskipun begitu, kondisinya jauh lebih baik ketimbang ORI029-T6 yang masih menyisakan Rp8,70 triliun atau 87% dari target dana terhimpun produk ini sekitar Rp10 triliun. Kendati menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi, ORI029-T6 hanya mampu membukukan penjualan hingga Rp1,3 triliun selama 10 hari diperdagangkan.

Adapun periode penawaran SBN ritel perdana 2026 ini dilakukan pada rentang waktu 16 Januari–19 Februari 2026. Dua produk SBN ritel ini memiliki tenor masing-masing 3 dan 6 tahun. Tenor 3 tahun memiliki imbal hasil 5,45% dan tenor 6 tahun dengan imbal hasil 5,8%.

Sepinya minat terhadap surat utang negara juga tampak dari realisasi lelang SUN yang mencatatkan permintaan yang melemah ke level terendah sepanjang tahun berjalan 2026. Berdasarkan data DJPPR Kemenkeu, lelang SUN yang digelar pada Selasa (3/2/2026) mencatatkan penawaran masuk dari investor senilai Rp76,58 triliun atau lebih rendah dari lelang SUN sebelumnya.

Pada lelang SUN perdana 2026 misalnya, pemerintah mampu menghimpun dana hingga Rp90,96 triliun. Pada lelang SUN kedua, Selasa (20/1/2026), dana penawaran yang masuk mencapai Rp82,90 triliun.

Sementara itu, total nominal yang dimenangkan dari kesembilan seri yang ditawarkan pada lelang terakhir adalah Rp36 triliun. Kendati nilai penjualan itu melebihi target indikatif yang ditetapkan pemerintah, data Bloomberg menunjukkan rasio penawaran terhadap target (bid-to-target ratio) turun menjadi 2,32 atau level terendah sejak Januari 2025.

Lesunya pasar surat utang Tanah Air sebetulnya menyusul sentimen kejatuhan pasar saham RI usai pengumuman indeks global MSCI Inc. pekan lalu. Pengumuman itu setidaknya mendorong investor nonresiden membukukan jual bersih senilai Rp3,3 triliun pada Rabu (28/1/2026) dan masih membukukan net sell lagi pada Kamis (29/1/2026) senilai Rp8 miliar.

Adapun, arus keluar asing (foreign capital outflow) di pasar obligasi RI ini merupakan yang terbesar selama dua hari berturut-turut sejak Oktober 2025. Aksi jual tersebut pun membuat nilai jual bersih di surat utang negara sejak awal tahun mencapai Rp8 miliar.

Sementara itu, sentimen di pasar obligasi Indonesia sebenarnya sudah hambar sebelumnya akibat kekhawatiran terhadap arah belanja pemerintah, independensi bank sentral, serta pelemahan rupiah. Hal itu makin diperparah dengan penunjukan seorang kerabat Presiden Prabowo Subianto sebagai wakil gubernur Bank Indonesia.

Berdasarkan data Bloomberg, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun telah naik sekitar 25 basis poin sepanjang tahun ini menjadi sekitar 6,31%.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#ori029 #sbn-ritel #ori029-penjualan #ori029-tenor #ori029-imbal-hasil #surat-utang-negara #lelang-sun #pasar-obligasi-indonesia #obligasi-pemerintah #imbal-hasil-obligasi #pasar-saham-ri #investor-non

https://market.bisnis.com/read/20260205/92/1950410/sepekan-lebih-ditawarkan-ori029-baru-laku-rp538-triliun