Hashim Sebut Perdagangan Karbon Internasional di Pasar Sukarela Dibuka Juni 2026
Perdagangan karbon internasional Indonesia dimulai Juni 2026, berpotensi mendatangkan miliaran dolar, dengan fokus pada solusi berbasis alam.
(Bisnis.Com) 03/02/26 19:01 124482
Bisnis.com, JAKARTA — Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo memberi sinyal bahwa perdagangan karbon internasional di pasar sukarela (voluntary market) yang diatur dalam Perpres No. 110 tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional akan mulai diimplementasikan pada Juni 2026. Dibukanya akses pembeli internasional terhadap kredit karbon nasional diperkirakan mendatangkan potensi ekonomi senilai miliaran dolar AS.
“Komunitas karbon di luar negeri sudah menunggu 10 tahun sejak Perjanjian Paris 2025. Sekarang [aturan] sudah dikeluarkan, ini adalah suatu prestasi luar biasa,” kata Hashim saat berbicara dalam ESG Sustainability Forum 2026 yang digelar oleh CNBC Indonesia, Selasa (3/2/2026).
Mengutip Antara, Peraturan Presiden tersebut mengatur kerangka penyelenggaraan nilai ekonomi karbon, termasuk mekanisme perdagangan emisi dan kredit karbon, pencatatan unit karbon dalam Sistem Registrasi Unit Karbon (SRUK), pencegahan penghitungan ganda, serta keterkaitan pasar karbon domestik dan internasional.
Hashim menyampaikan pemerintah saat ini tengah menuntaskan penggabungan sejumlah sistem registrasi karbon agar seluruh transaksi tercatat secara terintegrasi dan akuntabel dalam satu sistem nasional.
Ia menjelaskan integrasi tersebut menjadi prasyarat utama agar pasar karbon Indonesia dapat beroperasi sesuai standar internasional dan memperoleh kepercayaan pelaku global.
“Saya bisa melaporkan bahwa pemerintah sudah menentukan akhir Juni ini semua carbon market akan operasional. Dan Juli kita berharap bahwa perdagangan cukup besar, sudah bisa dihitung dan diestimasi bisa miliaran dolar bisa masuk ke Indonesia,” paparnya.
Hashim berpandangan potensi transaksi jumbo dari pasar karbon ini didorong oleh minat tinggi pembeli internasional terhadap kredit karbon berbasis solusi alam (nature-based solutions/NBS). Indonesia disebutnya memiliki potensi penyerapan karbon alam yang besar dari ekosistem hutan tropis, bakau, laut, hingga padang lamun (seagrass).
“Dan dengan ini semuanya nature based solutions, berarti yang tadi saya sebut pelaku-pelaku karbon internasional sudah betul-betul tertarik. Mereka selama ini tidak begitu tertarik dengan [kredit karbon] yang berdasarkan industri, berdasarkan pabrik-pabrik kimia, atau pabrik semen, PLTU,” katanya.
Merujuk pada banderol harga tinggi karbon di sejumlah pasar, Hashim mengatakan potensi pendapatan yang diperoleh Indonesia bisa mencapai puluhan miliar dolar AS. Sebagai contoh, harga karbon di pasar Uni Eropa bisa mencapai 50–60 euro per ton setara karbon dioksida, sementara di Swedia bisa mencapai 100 euro per ton.
Sementara itu, riset yang dilakukan BloombergNEF memperkirakan bahwa pasar karbon global bakal makin terpolarisasi pada 2026, seiring dengan pergeseran permintaan dari pasar sukarela (voluntary) ke mekanisme kepatuhan (compliance) yang digerakkan regulasi pemerintah.
Ketiadaan regulasi yang jelas di pasar kredit karbon sukarela, ditambah risiko reputasi akibat tudingan greenwashing, membuat perusahaan tidak lagi memiliki insentif kuat untuk mengimbangi emisinya secara sukarela. Namun, mendekati tenggat pencapaian target iklim nasional, pemerintah mulai mendorong perdagangan kredit karbon lintas negara dan domestik untuk memenuhi kewajiban penurunan emisi.
Sepanjang 2025, jumlah kredit karbon yang dipensiunkan (retirement) melalui registri sukarela turun 12% dibandingkan 2024 menjadi 153 juta ton CO₂ ekuivalen, terendah sejak 2021. BNEF memperkirakan permintaan sukarela ini akan kembali menurun pada 2026.
Perjanjian pembelian jangka panjang (offtake) untuk proyek penghilangan karbon memang meningkat dua kali lipat dari 2024 ke 2025 menjadi 57 juta ton. Namun, hampir 90% di antaranya berasal dari Microsoft, sehingga pertumbuhan ini dinilai tidak berkelanjutan.
#perdagangan-karbon #karbon-internasional #kredit-karbon #pasar-karbon #emisi-gas-rumah-kaca #nilai-ekonomi-karbon #sistem-registrasi-karbon #integrasi-pasar-karbon #solusi-alam #penyerapan-karbon #eko