Ekonom Ungkap Alasan Industri Tekstil RI Masih Sulit Bangkit
Industri tekstil RI sulit bangkit karena persaingan global ketat, biaya produksi tinggi, dan investasi rendah. Solusi: peremajaan teknologi, insentif, dan kebijakan konsisten.
(Bisnis.Com) 30/01/26 13:10 119688
Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengemukakan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional masih sulit bangkit akibat tekanan persaingan global yang kian ketat serta melemahnya daya saing domestikn
Ekonom CORE Indonesia Yusuf mengatakan bahwa perlambatan industri TPT tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor tunggal. Dari sisi eksternal, persaingan global semakin ketat dengan munculnya negara-negara produsen baru seperti Bangladesh, Vietnam, dan Kamboja yang menawarkan struktur biaya lebih kompetitif.
Dia menjelaskan, negara-negara tersebut memiliki posisi tawar yang lebih baik, terutama dari sisi upah tenaga kerja yang relatif murah dan efisiensi produksi yang tinggi.
"Akibatnya, banyak buyer internasional mengalihkan pesanan ke sana,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Jumat (30/1/2026).
Sementara itu, di dalam negeri, industri TPT justru dibebani kenaikan biaya produksi yang berkelanjutan. Peningkatan upah, mahalnya energi dan logistik, serta ketergantungan pada bahan baku impor yang sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar membuat margin industri semakin tertekan dan ruang ekspansi kian terbatas.
Yusuf menjelaskan, tantangan kebangkitan industri TPT saat ini berada pada dua sisi sekaligus, yakni pasar dan struktur industri. Dari sisi pasar, produk tekstil impor murah—termasuk yang masuk secara ilegal atau melalui praktik undervalued—membanjiri pasar domestik dan membuat produk lokal kalah bersaing.
“Tekanan ini menggerus utilisasi pabrik dan pada akhirnya memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri padat karya,” katanya.
Sementara itu, secara struktural, investasi di sektor TPT dinilai tidak menarik bagi investor. Hal ini karena karakter industri TPT Indonesia yang padat karya dengan tingkat pengembalian relatif tipis serta ketidakpastian regulasi.
Kondisi tersebut diperparah oleh banyaknya mesin produksi yang sudah tua. Hal ini, lanjut Yusuf, membuat produktivitas industri nasional tertinggal dibandingkan negara pesaing.
“Tanpa peremajaan teknologi dan kepastian iklim usaha, investor akan terus ragu masuk ke sektor ini,” ujarnya.
Oleh karena itu, Yusuf menegaskan kebijakan pemerintah untuk menggenjot industri TPT ke depannya tidak dapat dilakukan secara parsial. Dia menjelaskan, pengawasan impor harus diperkuat dan dijalankan secara konsisten. Upaya tersebut mencakup penertiban barang ilegal dan praktik dumping agar pasar domestik tidak terus dibanjiri produk murah yang merusak harga.
Selain itu, pemerintah perlu memberikan insentif nyata untuk mendorong investasi TPT, antara lain melalui fasilitas tax allowance, kemudahan pembiayaan, serta dukungan peremajaan mesin. Dia menambahkan, penurunan biaya logistik dan energi juga menjadi kunci untuk memperbaiki struktur biaya industri agar lebih kompetitif.
“Penguatan kualitas SDM dan integrasi hulu-hilir penting supaya industri tidak terlalu bergantung pada bahan baku impor,” katanya.
Meski menghadapi tantangan besar, Yusuf menilai prospek industri TPT nasional masih terbuka. Dia mengatakan, besarnya pasar domestik menjadi modal utama bagi keberlangsungan industri, terutama jika dibarengi dengan pembatasan barang ilegal dan kebijakan penggunaan produk dalam negeri.
Di sisi lain, Yusuf mengingatkan peluang tersebut hanya akan terwujud jika kebijakan dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan.
“Industri TPT harus bergerak dari sekadar bertahan menjadi lebih produktif, efisien, dan bernilai tambah,” kata Yusuf.
#industri-tekstil #tekstil-indonesia #persaingan-global #daya-saing-domestik #produsen-tekstil #biaya-produksi #bahan-baku-impor #pasar-domestik #produk-tekstil-impor #investasi-tpt #peremajaan-teknolo