Ada Risiko dari Rencana Pembentukan BUMN Tekstil
Pembentukan BUMN Tekstil berpotensi menjadi pesaing bagi pelaku usaha swasta yang kondisinya saat ini sudah tertekan.
(Bisnis Tempo) 18/01/26 07:11 106147
EKONOM Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai pemerintah harus berhati-hati dengan rencana pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tekstil. Ia berpendapat langkah pemerintah membentuk BUMN tekstil adalah kebijakan yang mengagetkan. Sebab, BUMN masuk ke sektor yang sesungguhnya lebih efisien dikelola swasta.
Wijayanto mengatakan jika pemerintah salah langkah, angka pemutusan hubungan kerja (PHK) berpotensi meningkat. “Jangan sampai BUMN ini justru menjadi pesaing produsen tekstil eksisting yang sudah kembang kempis,” kata Wijayanto ketika dihubungi pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Menurut Wijayanto, kesan state capitalism dalam kebijakan tersebut sangat kentara. State capitalism merupakan sistem ekonomi di mana pemerintah memiliki peran bebas dan aktif dalam kegiatan ekonomi komersial.
Wijayanto menjelaskan jika target kebijakan tersebut adalah untuk melengkapi supply chain industri tekstil demi mengurangi ketergantungan asing, maka pemerintah harus memastikan BUMN tersebut beroperasi secara efisien. “Jangan sampai dia kalah bersaing dan ujung-ujungnya produsen lokal dipaksa membeli produk BUMN dengan harga yang lebih tinggi,” katanya.
Rencana pemerintah membentuk BUMN tekstil diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Dia menyebut rencana tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto saat rapat di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, 11 Januari 2026.
Menurut Airlangga, alasan pembentukan BUMN tersebut adalah karena industri tekstil dan garmen merupakan garda terdepan dalam menghadapi risiko kebijakan tarif Amerika Serikat. "Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali, sehingga pendanaan US$ 6 miliar nanti akan disiapkan oleh Danantara," kata Airlangga dalam acara Indonesian Business Council (IBC) Business Outlook 2026 di Jakarta, Rabu, mengutip Antara.
Airlangga mengatakan saat ini masih ada kelemahan pada rantai nilai (value chain) tekstil, terutama pada produksi benang, kain, dyeing, printing, dan finishing. Ia berharap pembentukan BUMN tekstil baru bisa mendorong modernisasi dan pendalaman industri di sektor tersebut.
#tekstil #bumn #pemutusan-hubungan-kerja-phk #prabowo-subianto #danantara
https://tempo.co/ekonomi/ada-risiko-dari-rencana-pembentukan-bumn-tekstil-2107916