Proyek PSEL Perlu Dukungan Masyarakat, Bagaimana Caranya?
Proyek PSEL butuh dukungan masyarakat untuk sukses. Pemilahan sampah di sumber dapat mengurangi beban TPA hingga 60% dan membantu pengelolaan sampah nasional.
(Bisnis.Com) 22/12/25 12:58 81101
Bisnis.com, JAKARTA – Strategi pemerintah mengelola sampah menjadi energi listrik (PSEL) bergantung pada satu pilar kritis yakni adanya perbaikan sistem pemilahan dan pengelolaan sampah di tingkat hulu.
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University Arief Sabdo Yuwono mengatakan program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang digagas Danantara berada pada jalur yang tepat untuk menangani krisis sampah. Sayangnya, proyek ini perlu dukungan publik.
“Jepang, Jerman, dan negara Eropa lainnya sudah menggunakan insinerator untuk memberikan solusi bagi sampah perkotaan. Itu memang cara efektif untuk menyelesaikan sampah dalam waktu singkat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, pekan lalu.
Arief menekankan bahwa teknologi insinerator atau waste to energy (WtE) tidak bisa berdiri sendiri. Ia menyoroti bahwa pengelolaan sampah di Indonesia masih didominasi sistem kumpul-angkut-buang. Hal ini dianggap membebani anggaran daerah dan menyia-nyiakan potensi nilai ekonomi sampah.
“Jika dilakukan treatment at the source (pengelolaan di sumber), hal itu bisa memberikan kontribusi luar biasa besar, di antaranya membantu mengurangi beban APBD,” ujarnya.
Menurutnya, kombinasi Undang Undang No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah dengan implementasi pengelolaan di sumber berpotensi mengurangi aliran sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sebesar 40%—60%.
Selain itu, Arief menyebutkan sejumlah tantangan mendasar, terutama dalam memenuhi kebutuhan volume sampah untuk fasilitas berkapasitas besar. Kebutuhan pasokan sampah ini memerlukan sistem pengumpulan terintegrasi dan, yang paling krusial, dukungan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
“Tantangan lainnya terkait dengan persepsi masyarakat,” katanya.
Peringatan ini relevan melihat data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pada 2024, dari 38,2 juta ton timbulan sampah di 343 kabupaten/kota, hanya 34,74% yang terkelola.
Di sisi lain, proyeksi Bappenas lebih mengkhawatirkan dengan volume sampah nasional diprediksi naik dari 63 juta ton pada 2025 menjadi 82,2 juta ton pada 2045.
Selain proyek yang diusung Danantara sebagai strategi pengelolaan sampah, Arief berharap ada gerakan di tingkat masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri. Salah satunya dengan mengubahnya menjadi kompos.
Berdasarkan pengalaman itu, ia menegaskan bahwa kunci percepatan pengelolaan sampah terletak pada langkah hulu. Ia mendorong agar rencana Danantara tidak hanya fokus pada pembangunan fasilitas hilir, tetapi juga mendanai dan mendesain sistem pemilahan di sumber yang efektif.
“Usaha Danantara untuk mengelola sampah menjadi energi ini seharusnya bisa memberikan nilai manfaat kepada semua pihak,” pungkasnya.
#psel #pengelolaan-sampah #energi-listrik #dukungan-masyarakat #insinerator #waste-to-energy #pengelolaan-di-sumber #sistem-pemilahan-sampah #pengurangan-sampah #persepsi-masyarakat #pengelolaan-mandir