Saling Topang Sentimen Global Domestik Melambungkan IHSG

Saling Topang Sentimen Global Domestik Melambungkan IHSG

IHSG berpotensi menguat didukung sentimen global dan domestik, termasuk pelonggaran moneter The Fed dan aliran modal asing ke pasar Indonesia.

(Bisnis.Com) 13/11/25 18:55 37795

Bisnis.com, JAKARTA – Kombinasi sentimen dari global lewat sinyal pelonggaran moneter Bank Sentral AS (The Fed) hingga kabar baik dari domestik menopang penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk terus bullish.

Walaupun IHSG hari ini, Kamis (13/11/2025), ditutup koreksi, indeks komposit tetap berpeluang menguat seiring adanya potensi aliran modal asing mengguyur pasar domestik.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 0,20% atau 16,56 poin ke 8.371 pada hari ini. Di sepanjang perdagangan hari ini indeks komposit sempat menyentuh 8.418.

Level IHSG saat ini mencerminkan pertumbuhan 3,04% dalam sebulan terakhir, bahkan melonjak 22,83% dalam 6 bulan terakhir.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan sinyal The Fed untuk mengakhiri pengetatan moneter (quantitative tightening/QT) mulai Desember 2025 adalah katalis besar untuk aset-aset berisiko.

Dia menjelaskan, ketika Bank Sentral AS berhenti menyedot likuiditas dan kembali menjadi pembeli obligasi pemerintah, imbal hasil US Treasury cenderung turun, dolar melemah, dan kondisi finansial menjadi longgar. Pola historis menunjukkan bahwa setiap kali The Fed melonggarkan neraca, aliran dana ke emerging markets meningkat karena selera risiko global membaik.

"Untuk IHSG, ini membuka peluang penguatan yang cukup besar. Bukan hanya dari sentimen global, tetapi juga karena timing-nya bersamaan dengan beberapa katalis lokal," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (13/11/2025).

Katalis domestik tersebut, antara lain adalah net buy asing yang sudah mencapai Rp16,65 triliun dalam kurun 1-12 November 2025, teknikal IHSG yang masih berada dalam pola bullish, dan data makro domestik yang solid di mana pertumbuhan PDB kuartal III berada di atas ekspektasi.

Selain itu, PMI manufaktur Indonesia juga masih ekspansif, ditambah indeks keyakinan konsumen (IKK) yang juga meningkat, serta surplus perdagangan selama 65 bulan beruntun, hingga kinerja ekspor impor yang bertumbuh.

"Jika disertai rilis data consumer price index (CPI) AS Oktober yang mendingin dan meningkatkan probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember, maka risk-on global akan makin kuat dan arus dana ke Indonesia cenderung berlanjut," ujarnya.

Liza mengatakan bila aliran modal asing masuk ke pasar, investor mulanya akan selalu masuk ke saham-saham besar, likuid, dan punya bobot indeks besar, terutama emiten bank besar seperti BBCA, BMRI, BBRI dan BBNI. Menurutnya hal ini disebabkan karena sektor perbankan menjadi proxy paling mudah untuk menangkap pemulihan likuiditas global.

Selain itu, Liza menilai sektor konsumsi siklikal dan pemain ritel umumnya turut mendapat dorongan menjelang musim belanja akhir tahun.

Tak hanya itu, sentimen risk-on menurutnya juga mengalir ke saham-saham konglomerasi market cap besar yang sedang berada di jalur katalis positif, misalnya efek MSCI rebalancing.

"Saham-saham yang baru masuk indeks global seperti BREN atau BRMS biasanya menjadi target pertama inflow passive funds karena mereka mampu menampung volume besar. Komoditas tertentu seperti emas dan nikel juga ikut diuntungkan jika dolar melemah pasca sinyal QT berakhir," tandasnya.

Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menjelaskan ketika program QT The Fed berakhir, Bank Sentral akan kembali melonggarkan kebijakan moneter yang mengindikasikan bahwa inflasi sudah jauh lebih jinak dan terkendali meskipun masih di atas dari target The Fed.

Kondisi tersebut menurutnya akan mendorong aliran dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Sehingga, aset berisiko seperti saham berpotensi menguat.

"IHSG pun berpeluang melanjutkan tren positif didorong oleh arus modal asing dan sentimen global yang lebih akomodatif. Saat modal asing masuk, investor cenderung membidik sektor-sektor dengan kapitalisasi besar dan prospek pertumbuhan kuat seperti perbankan, properti, konsumsi, komoditas, serta infrastruktur. Sektor-sektor tersebut dianggap paling likuid dan sensitif terhadap peningkatan likuiditas," ujar Imam.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#ihsg #sentimen-global #sentimen-domestik #bank-sentral-as #the-fed #pelonggaran-moneter #aliran-modal-asing #bursa-efek-indonesia #pertumbuhan-ihsg #net-buy-asing #surplus-perdagangan #consumer-price

https://market.bisnis.com/read/20251113/7/1928640/saling-topang-sentimen-global-domestik-melambungkan-ihsg