Warteg Jakarta Menjerit: Omzet Anjlok, Harga Pangan Melangit

Warteg Jakarta Menjerit: Omzet Anjlok, Harga Pangan Melangit

Pedagang Warteg di Jakarta menjerit! Penjualan anjlok pasca Idul Fitri akibat daya beli konsumen menurun drastis dan harga bahan pangan melambung tinggi. Mereka terpaksa kurangi porsi.

(Kompas.com) 05/06/26 12:49 240960

JAKARTA, KOMPAS.com - Pedagang Warung Tegal (Warteg) di Jakarta menyebut pembeli menyusut sehingga harus mengurangi volume masakan di tengah kondisi ekonomi yang lesu.

Karyawan Warteg Abimanyu Bahari di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan, Atik (24) menyebut tingkat penjualan di tempatnya bekerja terus berkurang pasca Idul Fitri pada Maret lalu.

Ngerasain (dampak ekonomi lesu), penjualan dari mulai habis Lebaran sampai ke sini tuhkayak berkurang gitu,” kata Atik saat ditemui di warung tempatnya bekerja, Jumat (5/6/2026).

Kompas.com/Disya Shaliha Seorang pengunjung tengah menikmati makanan di sebuah Warteg di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Rabu (3/6/2026)

Menurut Atik, sebelum Lebaran rata-rata omzet harian di warteg tempatnya bekerja bisa lebih dari Rp 5 juta.

Namun, saat ini pendapatan kotor wartegnya terus menyusut.

Pada saat yang bersamaan, harga bahan pangan di pasar semakin mahal.

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada komoditas pangan yang memang kerap bergejolak seperti cabai.

Bahan pangan penting seperti beras, minyak goreng, dan sayuran juga mengalami kenaikan.

Karena kondisi tersebut, pemasukan Warteg semakin rendah sementara tingkat pengeluaran semakin tinggi. “Jadi buat bahan-bahan sayur, cabe itu bener-bener naik banget. Jadi kita mau ngejualnya pun bingung juga,” ujar Atik.

Kondisi yang sama juga dirasakan pemilik Warteg Mba Jum, di Kebon Manggis, Matraman, Jakarta Timur, Dian Fitriah.

Dalam dua tahun terakhir tingkat penjualan di wartegnya juga terus menyusut.

KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Harga Bahan Pokok Naik, Pedagang Warteg di Bekasi Akali Belanja hingga Kurangi Porsi Makanan

“Memang beberapa warteg pun merasakan dampaknya gitu. Emang kita lagi bener-bener nurun bener-bener nurun banget sih,” tutur Dian.

Ia menyebut, pendapatan warteg yang biasanya Rp 2 juta per hari saat ini turun drastis.

Bahkan, untuk mendapatkan pemasukan Rp 1 juta per hari pun wartegnya sulit.

“Malah kadang kita pernah di tahap cuma dapat Rp 700.000 per hari gitu. Akhirnya kan mubazir lauknya kan dibuang lagi,” ucapnya.

Pembeli Menyusut, Dagangan Dikurangi

Baik Atik maupun Dian mengaku sama-sama merasakan pembeli maupun daya beli konsumen di warungnya semakin menyusut.

Atik misalnya, mendapati banyak pelanggannya yang sudah berkurang, tidak lagi datang ke warungnya.

Sementara, pelanggan yang masih datang mengurangi belanja makan mereka.

“Biasanya sekali beli lauk aja ada yang Rp 80 (ribu), ada yang berapa, tapi sekarang berkurang,” kata dia.

Menghadapi kondisi itu, warungnya tidak memiliki pilihan selain mengurangi porsi masakan.

Warungnya juga memilih mengurangi porsi yang didapatkan pelanggan guna menjaga harganya tidak naik.

“Karena takut nanti pelanggannya juga kan kasihan sama orang yang beli, takutnya mereka juga ngerasaian yang sama kan,” ucap Atik.

Sementara itu, Dian merasakan pengunjung di warungnya kian sepi.

Sebelumnya, pada jam-jam istirahat makan siang banyak karyawan kantoran yang makan di wartegnya.

Tidak sedikit anak-anak sekolah juga membeli makan untuk dibungkus sebagai bekal.

“Ini kan enggak ada,” keluh Dian.

KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Warteg Kharisma milik Tolaah di Jalan Ciremai Raya, Kelurahan Kayuringin, Kecamatan Bekasi Selatan tetap menyediakan lauk lengkap di tengah kenaikan harga bahan baku. Rabu (3/6/2026)..

Menurut Dian, kondisi itu juga dirasakan banyak pengusaha Warteg lain.

Saat berbelanja ke pasar, biasanya pedagang Warteg saling berbagi cerita terkait kondisi warung.

Keluarga Dian dari Tegal yang juga membuka Warteg pun merasakan pendapatannya terus merosot.

“Dulu gitu yang biasa kita bisa nyimpen sehari satu atau Rp 500.000 ini untuk mendapatkan omzet yang per harinya Rp 1 juta aja tuh susah banget banget banget gitu,” ucap Dian.

Seperti halnya Atik, ia juga merasakan bahan pangan di pasar seperti daging juga mengalami kenaikan.

Akhirnya, pedagang warteg harus memutar otak dan menyiasati kondisi tersebut.

“Kita juga harus bisa muter gimana caranya pelanggan kita juga enggak lari kayak gitu sih,” kata Dian.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#warteg #harga-pangan-naik #daya-beli-menurun #ekonomi-lesu #penjualan-warteg-anjlok

https://money.kompas.com/read/2026/06/05/124900026/warteg-jakarta-menjerit--omzet-anjlok-harga-pangan-melangit