Berkah Semu Pariwisata dari Depresiasi Rupiah

Berkah Semu Pariwisata dari Depresiasi Rupiah

Depresiasi rupiah meningkatkan daya tarik pariwisata Indonesia bagi wisatawan asing, namun menekan industri lokal dan daya beli domestik. Pemerintah dan pelaku usaha perlu strategi promosi dan pengemb

(Bisnis.Com) 02/06/26 08:35 237153

Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai membuat pariwisata Indonesia menjadi lebih menarik bagi pasar global, karena harga yang lebih kompetitif khususnya untuk wisatawan mancanegara. Namun, situasi ini cenderung semu lantaran diiringi kenaikan biaya operasional industri pariwisata dan penurunan daya beli wisatawan domestik.

Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menyampaikan bahwa depresiasi mata uang garuda justru dapat meningkatkan daya tarik Indonesia di mata wisatawan asing. Menurutnya, pemerintah berupaya memanfaatkan momentum tersebut melalui promosi, sales mission, hingga partisipasi dalam berbagai pameran internasional.

“Kami melihat ini menjadi satu peluang bagi Indonesia, bahwa ini akan membuat Indonesia memiliki daya tarik yang lebih bagi wisatawan,” kata Ni Luh di Badung, Bali, Sabtu (30/5/2026).

Dia menyampaikan bahwa tren kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari–Maret 2026 juga menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kumulatif, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisman mencapai 3,44 juta pada tiga bulan awal tahun ini, alias meningkat 8,62% secara tahunan (YoY).

Ni Luh lantas berharap bahwa momentum tersebut dapat berlanjut pada kuartal II/2026. Tak hanya dari segi kunjungan wisman, dia berekspektasi bahwa devisa yang dihasilkan dari sektor pariwisata juga dapat terus bertumbuh.

“Jadi, saya rasa bahwa situasi yang ada ini menjadi satu peluang bagi Indonesia, bahwa Indonesia menjadi memiliki daya tarik yang lebih untuk dikunjungi dengan lama tinggal yang bisa lebih lama dari biasanya,” ujar Ni Luh.

Salah satu destinasi pariwisata Indonesia
Salah satu destinasi pariwisata Indonesia

Dari kacamata pelaku usaha pariwisata, depresiasi nilai tukar rupiah secara teoretis dipandang lebih relevan dengan peluang kunjungan pelancong asing.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Budijanto Ardiansjah memandang bahwa biaya perjalanan pariwisata ke Tanah Air akan menjadi lebih terjangkau. Namun, faktor nilai tukar tersebut dinilai bukan satu-satunya penentu pergerakan wisatawan global.

“Dengan melemahnya rupiah terhadap USD sebenarnya memberikan peluang yang bagus untuk inbound, karena harga menjadi lebih murah,” katanya kepada Bisnis.

Di sisi lain, dia lantas mengingatkan bahwa calon wisatawan masih menunda perjalanan internasional akibat ketidakpastian geopolitik global beserta rentetan dampaknya. Oleh karena itu, dia menilai pemerintah perlu mengambil langkah promosi yang tepat sasaran.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengamini bahwa pelemahan rupiah memang cenderung menguntungkan wisatawan mancanegara dari segi biaya perjalanan. Akan tetapi, kondisi tersebut berpotensi memunculkan tekanan baru bagi industri pariwisata domestik.

Menurut dia, depresiasi kurs telah memengaruhi berbagai komponen biaya yang menjadi tulang punggung industri pariwisata, salah satunya biaya tiket pesawat yang sensitif terhadap pergerakan dolar AS. Terdapat pula kenaikan harga energi dan potensi inflasi yang berisiko meningkatkan biaya operasional hotel, restoran, hingga usaha wisata lainnya.

“Jadi tidak serta-merta ketika nilai kurs rupiah itu tertekan, maka sepenuhnya berdampak positif. Kalau dari sisi wisman-nya mungkin demikian, tetapi tentu bisa berdampak negatif nantinya,” tegas Alan, sapaan akrabnya.

POTENSI WISATA BELANJA

Di sisi lain, kalangan akademisi menyoroti pelemahan rupiah sebagai sinyal menurunnya daya beli wisatawan domestik. Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari menilai hal tersebut merupakan bagian dari tantangan pengelolaan pariwisata nasional.

Kendati demikian, dia memandang bahwa pelemahan rupiah memunculkan momentum daya tarik bagi wisatawan dari negara yang memiliki mata uang lebih kuat, khususnya Singapura. Berdasarkan amatannya, hal ini tecermin dari fenomena yang terjadi di sejumlah kawasan seperti Batam dan Bintan yang semakin ramai dikunjungi wisatawan Singapura untuk berbelanja kebutuhan bulanan.

“Mereka berbelanja karena murahnya, karena nilai tukar mata uang kita anjlok dibandingkan dengan dolar,” kata Azril kepada Bisnis.

Dia menggambarkan bahwa banyak wisatawan Singapura datang ke Batam dengan koper kosong, lalu membeli berbagai kebutuhan lantaran harga barang di Indonesia menjadi jauh lebih murah dibandingkan di negara mereka.

Oleh karena itu, dia menilai bahwa upaya pemerintah menarik wisatawan mancanegara tidak cukup jika hanya mengandalkan momentum sementara dari nilai tukar mata uang. Menurutnya, Indonesia perlu mengembangkan strategi untuk menghasilkan nilai ekonomi pariwisata yang lebih besar.

Dari contoh tersebut, Azril menilai salah satu potensi yang dapat dikerjakan pemerintah adalah wisata belanja atau shopping tourism. Pendekatan ini dinilai lebih relevan karena melibatkan ekosistem kawasan pariwisata secara langsung.

“Nah, kenapa tidak dikembangkan outlet kita menjadi suatu shopping tourism? Tidak pernah Indonesia terpikirkan shopping tourism atau kalau saya menyebutnya retailtainment,” ujarnya.

Tak hanya itu, dia juga menekankan pentingnya pengelolaan pariwisata yang berbasis ilmiah dan berlandaskan nilai-nilai komunitas lokal. Dengan demikian, pariwisata Tanah Air akan lebih tahan terhadap guncangan global.

#nilai-tukar-rupiah #pariwisata-indonesia #wisatawan-mancanegara #daya-tarik-indonesia #kunjungan-wisatawan #depresiasi-rupiah #wisata-belanja #shopping-tourism #wisatawan-asing #biaya-perjalanan #prom

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260602/12/1977683/berkah-semu-pariwisata-dari-depresiasi-rupiah