Purbaya Sebut Daya Beli Jadi Penopang Ekonomi 5,61 Persen, Bukan Belanja Pemerintah
Purbaya mengatakan konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi 2,94 persen terhadap PDB.
(Kompas.com) 15/05/26 05:34 221460
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada triwulan I-2026 terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga, bukan semata-mata belanja pemerintah seperti yang banyak dipersepsikan pasar.
Purbaya mengatakan konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi mencapai 2,94 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurut dia, hal itu menunjukkan daya beli masyarakat masih cukup kuat di tengah tekanan global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
“Kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap kuat dan tumbuh signifikan,” ujar Purbaya dalam keterangan resmi, Kamis (14/5/2026).
Purbaya menyebut hal ini sekaligus merespons pandangan sejumlah ekonom yang sebelumnya menilai pertumbuhan ekonomi awal tahun lebih banyak ditopang percepatan belanja negara sehingga berisiko melambat pada semester II-2026.
Selain konsumsi rumah tangga, investasi tercatat memberi kontribusi sebesar 1,79 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Sementara kontribusi belanja pemerintah tercatat sebesar 1,26 persen.
Purbaya menjelaskan struktur pertumbuhan ekonomi perlu dilihat dari kontribusi masing-masing komponen terhadap total PDB nasional, bukan hanya dari laju pertumbuhan sektoral semata.
Menurut dia, kontribusi pertumbuhan dihitung berdasarkan pertumbuhan masing-masing komponen yang dikalikan dengan pangsanya terhadap perekonomian nasional. Dari perhitungan tersebut, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama ekonomi Indonesia.
Ia juga menjelaskan pertumbuhan belanja pemerintah pada awal tahun memang dilakukan secara sengaja sebagai bagian dari strategi percepatan belanja negara agar dampak ekonomi dapat dirasakan lebih merata sepanjang tahun.
Pemerintah, kata dia, kini mengubah pola realisasi anggaran yang sebelumnya cenderung menumpuk di akhir tahun menjadi lebih cepat sejak awal tahun anggaran berjalan.
“Pola belanja pemerintah yang sebelumnya cenderung terkonsentrasi pada akhir tahun kini diarahkan agar terealisasi lebih awal sehingga mampu mendukung aktivitas ekonomi secara lebih optimal,” ujar Purbaya.
Di sisi lain, pemerintah juga terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter, termasuk mempercepat realisasi belanja kementerian dan lembaga serta pelaksanaan program prioritas nasional sejak awal tahun.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan. Angka tersebut menjadi pertumbuhan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan berada di atas ekspektasi pasar.
Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi dapat terus dijaga di atas 5,5 persen pada tahun ini sebagai bagian dari upaya menuju target pertumbuhan 8 persen pada 2029.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang