Rupiah Sentuh Rp 17.529 per Dollar AS, Imbas Pertumbuhan Ekonomi RI Diragukan

Rupiah Sentuh Rp 17.529 per Dollar AS, Imbas Pertumbuhan Ekonomi RI Diragukan

Rupiah anjlok! Terdepresiasi akibat debat data ekonomi domestik dan eskalasi konflik di Timur Tengah. Analis soroti perlunya revisi data & dampak geopolitik global.

(Kompas.com) 14/05/26 17:00 221255

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah di pasar spot semakin terdepresiasi pada perdagangan Kamis (14/5/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 53,50 poin atau 0,31 persen ke level Rp 17.529 per dollar Amerika Serikat (AS).

Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan kurs rupiah disebabkan oleh dua faktor, yakni internal dan eksternal.

Untuk internal, adanya perdebatan terkait data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang tercatat 5,61 persen.

SHUTTERSTOCK/RODWORKS Ilustrasi rupiah.

Angka itu berada di luar ekspektasi pemerintah, Bank Indonesia (BI), maupun mayoritas ekonom dan analis.

“Nah dari segi internal ya, kita tahu bahwa ada perdebatan tentang data pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama yang di luar ekspektasi pemerintah, Bank Indonesia maupun para ekonom atau analis yang semuanya itu adalah di bawah 5,61 persen,” ujar Ibrahim saat dikonfirmasi Kompas.com.

Akademisi bahkan mempertanyakan validitas data tersebut melalui berbagai hasil riset yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi domestik hanya berada di level 4,6 hingga 4,8 persen.

“Kemudian ada satu sanggahan pernyataan dari akademisi ya. Jadi melalui riset bahwa sebenarnya ya pertumbuhan ekonomi kalau dihitung-hitung itu hanya di 4,6-4,8 persen,” paparnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih ada hal yang perlu dibenahi dalam metodologi maupun mekanisme penyajian data oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Ibrahim juga menyoroti kontradiksi antara data pertumbuhan ekonomi dengan kondisi sektor manufaktur yang justru mengalami penurunan.

Di sisi lain, tekanan global meningkat akibat lonjakan harga minyak dan terganggunya distribusi energi karena konflik di Timur Tengah.

Namun di tengah tekanan ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru cukup tinggi di posisi 5,61 persen.

Kondisi tersebut lalu memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat karena situasi ekonomi di lapangan dinilai belum sepenuhnya mencerminkan angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Karena itu, Ibrahim mengusulkan agar Indonesia mulai menerapkan mekanisme publikasi data pertumbuhan ekonomi secara bertahap seperti yang dilakukan Amerika Serikat.

Di AS data pertumbuhan ekonomi dirilis dalam beberapa tahap, dimulai dari angka awal, kemudian direvisi pada tahap pertama, hingga revisi kedua yang menjadi angka final.

“Seharusnya Indonesia sudah ada perubahan untuk merilis data pertumbuhan ekonomi per kuartalan mengikuti gaya Amerika. Yang pertama dirilis kemudian dilakukan revisi. Ada revisi pertama, lalu revisi kedua yang menjadi final,” pungkas dia.

Mekanisme revisi penting karena hasil perhitungan ekonomi dapat berubah seiring masuknya data baru maupun proses evaluasi lanjutan.

Angka pertumbuhan ekonomi yang pada awalnya terlihat tinggi bisa saja mengalami penyesuaian setelah dilakukan revisi lebih lanjut.

“Bisa saja pada saat nanti direvisi pertama itu hanya 5 persen. Kemudian revisi kedua final ternyata bukan 5 persen, tetapi hanya 4,6 persen,” lanjut Ibrahim.

Di sisi eksternal, pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh sentimen geopolitik di Timur Tengah.

Ketegangan di Selat Hormuz hingga potensi perang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran dinilai menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak dan penguatan indeks dollar.

“Saya melihat bahwa rupiah hari ini diperdagangkan melemah karena menguatnya dollar AS pada perdagangan hari ini, ya bahkan kemarin pun juga pada memasuki pasar Amerika, indeks dollar terus mengalami penguatan,” ucap Ibrahim.

Di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, masih menjadi momok utama pasar keuangan global.

Ketegangan meningkat setelah muncul informasi mengenai penyerangan terhadap instalasi minyak Iran yang disebut melibatkan Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi.

“Harus diingat bahwa permasalahan gejolak geopolitik di Timur Tengah ini masih terus dijadikan sebagai momok, terutama adalah di Selat Hormuz. Kemudian muncul informasi bahwa yang awalnya Uni Emirat Arab melakukan penyerangan terhadap instalasi minyak Iran di Selat Hormuz, kemudian muncul Arab Saudi,” tukas dia.

Konflik tersebut dinilai membuat Iran melakukan serangan terhadap sejumlah wilayah di Timur Tengah yang dianggap menjadi basis kepentingan Amerika Serikat.

Situasi memanas karena Iran menilai ada keterlibatan AS di balik serangan terhadap fasilitas minyak mereka.

Karena itu, Iran disebut mulai meningkatkan kesiapan menghadapi kemungkinan perang terbuka.

Ibrahim juga menyoroti langkah pemerintah AS yang disebut tengah meminta persetujuan tambahan anggaran perang kepada Kongres.

Hal itu dipahami sebagai sinyal bahwa AS siap menghadapi konflik berkepanjangan dengan Iran.

Di sisi lain, Iran juga disebut telah menggelar latihan militer besar-besaran sebagai bentuk kesiapan menghadapi eskalasi konflik di kawasan.

Potensi perang terbuka di Timur Tengah dapat melibatkan AS bersama sejumlah negara sekutu seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dengan tujuan mengamankan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap distribusi minyak global karena sekitar 20 persen jalur transportasi minyak dunia melewati Selat Hormuz.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#pelemahan-rupiah #harga-minyak #timur-tengah #pertumbuhan-ekonomi

https://money.kompas.com/read/2026/05/14/170000526/rupiah-sentuh-rp-17.529-per-dollar-as-imbas-pertumbuhan-ekonomi-ri-diragukan-