Asosiasi Game Indonesia Berharap Sosialisasi PP Tunas Dilakukan Lebih Masif
Kehadiran PP Tunas memberikan kepastian kepada investor. Namun, informasi tersebut regulasi tersebut perlu lebih jelas
(Bisnis.Com) 14/05/26 11:54 221080
Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Game Indonesia (AGI) menilai sosialiasi PP Tunas pada industri game masih sangat minim. AGI berharap agar sosialisasi dilakukan lebih masif sehingga memberikan kepastian kepada para investor gim yang ingin berbisnis di Tanah Air.
Industri game di Indonesia merupakan salah satu industri yang mengalami perkembangan pesat, hal ini sejalan dengan besarnya jumlah pengguna game di Indonesia yang mencapai lebih dari 72 juta pengguna.
Presiden Asosiasi Game Indonesia Shafiq Husein, mengatakan pelaku industri game masih menghadapi sejumlah tantangan dan hambatan terkait penerapan PP Tunas.
Menurutnya, hambatan utama penerapan PP Tunas bagi para developer game adalah belum adanya kejelasan serta kesiapan implementasi di kalangan developer maupun industri.
“Kabarnya masih simpang siur sekali di luar, sedangkan informasi yang turun ke kami juga memang masih lumayan minim untuk itu,” kata Shafiq dalam acara Bisnis Indonesia Forum di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Selain itu, Shafiq juga menjelaskan sebenarnya banyak potential developer dan potential publisher dari luar negeri yang tertarik berinvestasi di Indonesia. Namun, mereka masih menunggu kepastian aturan terkait PP Tunas.
Tantangan industri game di Indonesia sebenarnya tidak hanya berasal dari PP Tunas semata. Terdapat banyak faktor eksternal lain yang turut mempengaruhi perkembangan industri game lokal.
Salah satu penyebabnya adalah banyak developer lokal yang lebih memilih menjual game mereka ke pasar luar negeri dibandingkan fokus di pasar Indonesia.
Shafiq menjelaskan, salah satu contohnya adalah soal lokalisasi harga. Misalnya, sebuah game dijual di luar negeri dengan harga US$12. Namun ketika dijual di Indonesia, harganya disesuaikan menjadi sekitar Rp108 ribu.
Akibatnya, pendapatan dari satu pembeli di luar negeri bisa setara dengan dua pembeli di Indonesia. Dengan demikian, meskipun jumlah pemain di Indonesia besar, nilai pendapatan per pengguna jauh lebih kecil dibandingkan pasar global.
Selain itu, pasar game Indonesia saat ini juga didominasi oleh game-game besar dari luar negeri seperti Mobile Legends: Bang Bang dan Free Fire. Game seperti ini sangat populer karena memiliki fitur multiplayer dan interaksi sosial antar pemain.
Sementara itu, banyak developer lokal belum mampu membuat game dengan skala dan kualitas serupa. Akibatnya, produk game lokal sering kali kurang diminati oleh pasar Indonesia. Dalam industri game, kebutuhan pasar dan kemampuan produksi lokal dinilai masih belum seimbang.
Developer lokal juga merasa persaingan saat ini belum berjalan secara adil. Perusahaan game asing dapat masuk dan memperoleh keuntungan besar di Indonesia, tetapi kontribusinya terhadap industri lokal dinilai masih minim.
Sebaliknya, developer lokal mempekerjakan tenaga kerja Indonesia dan ikut membangun kemampuan industri dalam negeri. Namun, mereka harus bersaing dengan perusahaan besar yang memiliki dana promosi sangat besar, mulai dari membayar media, menggunakan KOL atau influencer, hingga menggelar event besar di pusat perbelanjaan dan berbagai lokasi lainnya.
“Sedangkan kita bisa mengembangkan game sampai rilis saja itu sudah syukur alhamdulillah sebenarnya,” ujar Shafiq. (Nur Amalina)