Bank DBS: Fundamental ekonomi Indonesia pada awal 2026 sangat solid
Bank DBS Indonesia melalui DBS Group Research menilai fundamental ekonomi Indonesia pada awal 2026 masih sangat solid kendati tantangan volatilitas global ...
(Antara) 14/05/26 00:55 220844
Jakarta (ANTARA) - Bank DBS Indonesia melalui DBS Group Research menilai fundamental ekonomi Indonesia pada awal 2026 masih sangat solid kendati tantangan volatilitas global pada semester II tahun ini tetap perlu diantisipasi secara hati-hati.
“Di tengah eskalasi geopolitik global dan fluktuasi harga energi, ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan kuat dengan pertumbuhan sebesar 5,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal pertama 2026. Angka ini membuktikan pertumbuhan tercepat sejak kuartal ketiga 2022,” kata Senior Economist DBS Bank Radhika Rao dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Rabu.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal tahun 2026 didorong oleh konsumsi domestik yang tetap kuat, stimulus fiskal pemerintah, peningkatan belanja negara, serta momentum musiman selama periode hari besar keagamaan.
Konsumsi rumah tangga dan pemerintah tumbuh hingga 7 persen yoy, sementara investasi tetap solid di kisaran 6 persen yoy.
Menurut Radhika, Indonesia memulai 2026 dengan fondasi ekonomi yang positif, tetapi risiko eksternal membuat proyeksi pertumbuhan tahunan perlu disesuaikan.
“Indonesia memasuki 2026 dengan percaya diri didukung fundamental yang kuat. Namun, proyeksi pertumbuhan setahun penuh tetap perlu disesuaikan menjadi 5,1 persen (dari sebelumnya 5,3 persen) guna mengantisipasi risiko kenaikan harga energi global dan tekanan pada nilai tukar rupiah,” ujar dia.
DBS Research menilai kuartal I-2026 kemungkinan menjadi titik tertinggi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Ke depan, aktivitas ekonomi juga diperkirakan menghadapi tekanan dari tingginya harga energi global, volatilitas pasar keuangan, serta kebutuhan menjaga disiplin fiskal nasional.
Lebih lanjut, stabilitas makroekonomi disebut menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global saat ini.
Sebagaimana dalam pemaparan DBS Research, diperlukan pengendalian inflasi, disiplin fiskal, dan komunikasi kebijakan yang konsisten dalam menjaga stabilitas pasar.
Dari sisi pengambil kebijakan, pemerintah diperkirakan tetap berupaya menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) melalui pengendalian belanja, efisiensi program prioritas, serta optimalisasi penerimaan negara.
Selain itu, implementasi kebijakan yang konsisten, termasuk pelaksanaan Undang-Undang Cipta Kerja dan harmonisasi regulasi pusat-daerah, dinilai penting untuk menciptakan kepastian usaha dan meningkatkan kepercayaan investor.
“Menjaga stabilitas makro ekonomi tetap menjadi faktor kunci dalam menopang pertumbuhan nasional, terutama melalui pengendalian inflasi dan disiplin fiskal yang konsisten. Kepastian serta konsistensi regulasi, didukung komunikasi kebijakan yang jelas dan dapat diprediksi, akan menjadi faktor penting dalam menjaga sentimen pasar dan meningkatkan daya tarik investasi,” ujar dia.
Melihat situasi tersebut, DBS menganggap langkah strategis yang dapat dilakukan yaitu menjaga stabilitas makroekonomi melalui pengendalian inflasi dan disiplin fiskal, menjaga daya beli domestik karena menjadi prioritas utama untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Selain itu pemerintah perlu memastikan stimulus fiskal tetap tepat sasaran dan berkelanjutan.
Kemudian juga pelaku usaha disarankan mulai mengantisipasi potensi perlambatan ekonomi global pada semester kedua 2026, kepastian dan konsistensi regulasi menjadi faktor utama dalam meningkatkan daya tarik investasi, serta komunikasi kebijakan yang jelas dan dapat diprediksi penting untuk menjaga sentimen pasar.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
#bank-dbs #dbs #makro-ekonomi #pertumbuhan-ekonomi #dbs-research #dbs-indonesia