Ini Sederet Tantangan Asuransi Umum Dongkrak Pertumbuhan Premi Awal 2026

Ini Sederet Tantangan Asuransi Umum Dongkrak Pertumbuhan Premi Awal 2026

Industri asuransi umum menghadapi tantangan pertumbuhan premi pada 2026 karena perlambatan ekonomi, regulasi baru, dan biaya reasuransi tinggi.

(Bisnis.Com) 10/05/26 14:39 217005

Bisnis.com, JAKARTA — PT Asuransi Asei Indonesia menilai tantangan dalam mendorong pertumbuhan premi di industri asuransi umum pada awal 2026 ini cukup kompleks.

Direktur Utama Asuransi Asei Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe mengatakan pasalnya industri kini menghadapi tekanan baik dari sisidemandmaupunrisk environment.

“Antara lain, perlambatan aktivitas bisnis di beberapa sektor industri, meningkatnya kehati-hatian perbankan dalam penyaluran kredit, tekanan daya beli, volatilitas pasar keuangan, dan tingginya biaya reasuransi global,” ungkapnya kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (10/5/2026).

Tidak sampai di situ, Dody membeberkan industri juga sedang menghadapi fase penyesuaian regulasi dan governance, antara lain implementasi PSAK 117, penguatan manajemen risiko, rencana penerapan New RBC, dan peningkatan ekspektasi kualitas permodalan.

Kemudian, imbuhnya, underwriting juga menjadi tantangan tersendiri karena perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan premi dan kualitas bisnis.

“Saat ini perusahaan asuransi tidak bisa lagi hanya fokus pada ekspansi premi, tetapi juga harus menjagacombined ratio, RBC, kualitas investasi, dan kecukupan cadangan. Karena itu, industri cenderung lebih disiplin dalampricingdanrisk selection,” tuturnya.

Dikatakan Dody, tren pendapatan premi di Asei masih menunjukkan pertumbuhan yang relatif terjaga, meskipun lebih moderat dibanding periodeboomingpascapandemi. Kontribusi terhadap portofolio masih berasal dari kelompok asuransi keuangan, yaitu asuransi kredit/perdagangan.

“Juga fokus padatrade ecosystemsepertitrade credit insurance,suretyship,marine cargo, dan asuransi yang terkait rantai pasok perdagangan. Saat ini perusahaan asuransi, termasuk Asei juga mulai lebih berhati-hati terhadap bisnis dengan volatilitas klaim tinggi,” ucapnya.

Karena itu, lanjutnya, strategi pertumbuhan tidak hanya mengejartop line premium growth, tetapi juga mempertimbangkan kualitas risiko, profitabilitas teknikal, kecukupan reasuransi, dansustainability portofolio.

Adapun, untuk mendorong pertumbuhan premi hingga semester I/2026, Asei mengarahkan pertumbuhan yang lebih selektif dan berkualitas antara lain dengan memperkuat bisnis inti yang memiliki historical profitability baik, memperluas ekosistem distribusi dan digital channel.

Kemudian, memperkuat kolaborasi dengan perbankan, BUMN, dan pelaku ekspor, serta memperbesar penetrasi pada sektor-sektor yang masih bertumbuh seperti perdagangan, logistik, infrastruktur, dan supply chain ecosystem.

“Selain itu, perusahaan juga mulai fokus padacross selling, penguatancaptive market, peningkatanservice level, dan pemanfaatandata analyticsuntukunderwritingyang lebih presisi,” tutur Dody.

Untuk diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat premi asuransi umum dan reasuransi tumbuh sebesar 1,77% (year on year/YoY) pada kuartal I/2026 menjadi Rp 41,24 triliun.

Menilik tren pertumbuhan premi sejak awal 2026, pada kuartal I/2026 ini preminya tumbuh melambat. Pasalnya, pada Januari 2026 premi tumbuh 17,92% YoY menjadi Rp18,42 triliun. Kemudian, pada Februari 2026 pertumbuhannya 7,41% YoY menjadi Rp29,98 triliun.

Menurut Dody, ada beberapa faktor yang memengaruhi hal tersebut.Pertama, adanya pengaruh besar atas account-account pada awal tahun lalu, khususnya dari bisnis korporasi dan proyek-proyek besar yang pada 2025 masih mencatat pertumbuhan cukup agresif.

Kedua, aktivitas ekonomi dan perdagangan global pada awal 2026 cenderung lebih moderat akibat ketidakpastian geopolitik dan perlambatan perdagangan internasional, sehingga memengaruhi prosesunderwriting, terutama pada linimarine cargo,trade credit, danengineering.

Ketiga, industri asuransi juga mulai lebih selektif dalam akseptasi risiko. Saat ini perusahaan asuransi cenderung menjaga kualitas portofolio dibanding mengejar volume premi semata, terutama di tengah tekananloss ratiopada beberapa lini seperti asuransi kredit dan kendaraan bermotor.

Keempat,hardeningmarketreasuransi global masih berdampak terhadap kapasitas danpricing, sehingga memengaruhi ekspansi bisnis di beberapa segmen.

“Jadi, perlambatan ini lebih mencerminkan normalisasi pertumbuhan dan pengetatan underwriting, bukan penurunan fundamental industri,” tegasnya.

#asuransi-umum #pertumbuhan-premi #tantangan-asuransi #risiko-asuransi #premi-asuransi #industri-asuransi #reasuransi-global #manajemen-risiko #regulasi-asuransi #underwriting-asuransi #trade-credit-in

https://finansial.bisnis.com/read/20260510/215/1972706/ini-sederet-tantangan-asuransi-umum-dongkrak-pertumbuhan-premi-awal-2026