Pabrik Baja Krakatau Osaka Steel Tutup, Kemenperin Soroti Tekanan Impor Murah
Krakatau Osaka Steel tutup setelah rugi sejak 2022. Kemenperin sebut baja impor murah dan overpasokan global jadi tekanan utama.
(Kompas.com) 06/05/26 16:50 213307
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian menyebut penutupan PT Krakatau Osaka Steel (KOS) dipicu tekanan baja impor murah di pasar domestik.
PT KOS merupakan perusahaan patungan antara PT Krakatau Steel Tbk dan Osaka Steel Co., Ltd.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, KOS sudah mencatat kerugian sejak 2022. Kinerja bisnis terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Tekanan utama datang dari produk impor dengan harga lebih rendah. Produsen dalam negeri menghadapi persaingan harga yang ketat.
“Di satu sisi, produsen dalam negeri berkomitmen menjaga kualitas produk, namun di sisi lain harus menghadapi tekanan harga dari produk impor yang lebih rendah. Situasi ini semakin diperberat oleh melemahnya permintaan domestik, khususnya dari sektor konstruksi,” kata Febri dalam keterangan resmi, Selasa (5/5/2026).
Baja impor dari China memiliki keunggulan skala produksi dan efisiensi biaya. Kondisi ini membuat harga jual lebih kompetitif di pasar global, termasuk Indonesia.
Febri menilai persoalan KOS tidak berdiri sendiri. Tekanan berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Keterbatasan diversifikasi produk menjadi salah satu kendala. Permintaan dalam negeri juga melemah, terutama dari sektor konstruksi.
“Selain keterbatasan diversifikasi produk, penurunan permintaan dan tekanan impor baja murah, kondisi kelebihan pasokan di tingkat global juga turut mempengaruhi daya saing perusahaan,” ujar Febri.
Kemenperin sudah menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga industri baja nasional. Kebijakan mencakup larangan terbatas impor produk baja dan turunannya.
Pemerintah juga mewajibkan Standar Nasional Indonesia untuk baja batangan. Selain itu, tersedia Harga Gas Bumi Tertentu dan tarif bea masuk nol persen untuk bahan baku billet.
Kasus KOS mendorong evaluasi kebijakan yang ada. Pemerintah menilai perlindungan industri masih perlu diperkuat.
“Kami akan melakukan kajian secara komprehensif guna merumuskan strategi yang lebih efektif dalam menjaga keberlanjutan industri baja dalam negeri,” ucap Febri.
Tekanan pada industri baja juga terjadi secara global. Kelebihan pasokan dan harga murah menjadi tantangan utama, terutama dari China.
Sejumlah negara merespons dengan kebijakan proteksi. Langkah yang diambil mencakup tarif bea masuk hingga instrumen trade remedies.
Industri di berbagai negara juga melakukan reformasi. Fokus diarahkan pada efisiensi, pengaturan kapasitas produksi, dan pengembangan teknologi.
“Keberhasilan penguatan industri baja nasional memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan, baik dari pemerintah, pelaku industri, maupun masyarakat. Selain itu, dinamika geopolitik global, struktur biaya produksi, serta tingkat permintaan domestik juga akan sangat memengaruhi efektivitas kebijakan yang dijalankan,” kata Febri.
KOS menghentikan seluruh kegiatan produksi pada akhir April 2026. Seluruh aktivitas bisnis dijadwalkan berhenti pada Juni 2026.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat Dewan Direksi pada 23 Januari 2026.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#pabrik-baja #krakatau-osaka-steel #krakatau-osaka-steel-tutup #krakatau-osaka-steel-bangkrut