Makna Filosofi Legiun Mangkunegaran dalam Jamuan Royal Dinner 2026

Makna Filosofi Legiun Mangkunegaran dalam Jamuan Royal Dinner 2026

Royal Dinner dalam rangka Adeging Mangkunegaran ke-269 digelar di Pendopo Mangkunegaran akhir pekan lalu. Acara tersebut dihadiri sekitar 150 tamu undangan dari... | Halaman Lengkap

(SINDOnews Ekbis) 03/05/26 21:55 209736

SOLO - Royal Dinner dalam rangka Adeging Mangkunegaran ke-269 digelar di Pendopo Mangkunegaran akhir pekan lalu. Acara tersebut dihadiri sekitar 150 tamu undangan dari berbagai kalangan.

Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Adeging Mangkunegaran 269. Sejumlah tokoh hadir, di antaranya KGPAA Mangkunegaran X, GRAJ Ancillasura Marina Sudjiwo, Respati Ardianto, Meliza M. Rusli, Nico Tahir, Aditya Bayunanda, hingga Agus Martowardojo.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegaran X atau yang kerap disapa Gusti Bhre mengatakan, Royal Dinner merupakan malam yang penuh kebersamaan dan kebahagiaan.

Gusti Bhre juga mensyukuri semua pihak yang sudah membuktikan kerja keras dan mendukung satu sama lain bisa menciptakan suatu dampak positif dan keberlanjutan.

“Terima kasih selamat menikmati makan malamnya dan tentunya saya mewakili seluruh keluarga, terima kasih dan selamat menikmati kebersamaan,” ujar Gusti Bhre, Minggu (3/5/2026).

Di acara Royal Dinner, jamuan yang dihidangkan dalam royal heritage dinner selalu menyimpan filosofi. Gusti Raden Ajeng Ancillasura Marina Sudjiwo atau kerap disapa Gusti Sura mengatakan Adeging Mangkunegaran tahun ini digelar pada Tahun Dal, artinya merupakan tantangan.

Lihat video: Ribuan Warga Ramaikan Halal Bihalal di Pura Mangkunegaran Solo



“Ini kita wujudkan dalam tema keprajuritan yang bisa teman-teman lihat di sini. Mangkunegaran melambagkan ini semua dengan ikon kuda,” kata Gusti Sura di Pamedan Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah.

Dalam siklus Windu Jawa, Tahun Dal bukan sekadar penanggalan, melainkan fase penempaan diri. Ibarat seekor kuda pilihan, ketangkasan tidak lahir begitu saja, melainkan dibentuk melalui disiplin dan latihan yang teguh.

Melalui tujuh rangkaian hidangan, sekitar 150 tamu undangan khusus diajak menyelami filosofi Legiun Mangkunegaran yang merupakan simbol manusia yang tahu kapan harus melesat cepat dan kapan harus tenang mengamati tujuan.

Perjalanan dimulai dengan makanan bernama canape savory yaitu Sosis Solo Deconstructed. Sebagaimana kavaleri yang melesat cepat, hidangan ini hadir lugas dengan crispy crepe hasil teknik dehidrasi yang membungkus ayam rempah santan kental, melambangkan langkah awal yang terarah.

Memasuki menu pembuka, Dendeng Age Buntel hadir dengan rupa menyerupai tapal kuda besi yang sedang dipanaskan. Daging cincang berempah yang dibungkus lemak jala ini adalah simbol disiplin dan batasan ketat bagi prajurit Legiun.

Puncak dari narasi malam ini tertuang dalam hidangan utama yakni Slow Cooked Beef Sauce Kluwek. Beef Short Ribs yang dimasak sous-vide selama 48 jam ini adalah metafora penempaan yang sempurna.

Daging yang semula keras menjadi lembut karena waktu dan suhu yang tepat, konsisten seperti langkah kuda yang terarah menuju tujuan bermakna. Saus kluwek yang hitam dan pekat melambangkan fase penempaan diri yang keras namun kaya akan makna.

Sebagai penutup siklus, hadir Mousse Tape Singkong. Menggunakan bahan dasar rakyat yang naik kelas, hidangan ini melambangkan kerendahan hati seorang ksatria. Tekstur mousse yang ringan dipadukan dengan meringue jahe dan coulis nangka memberikan ruang tenang untuk refleksi atas segala ketekunan yang telah dijalani.

Royal Dinner Mangkunegaran merupakan sebuah perjamuan yang bukan sekadar tentang rasa, melainkan penghormatan terhadap sejarah, disiplin, dan langkah yang tak pernah goyah.
(cip)

#makan-malam #daerah-istimewa-surakarta #keraton-solo #pakaian-adat #pura-mangkunegaran-solo

https://daerah.sindonews.com/read/1702829/174/makna-filosofi-legiun-mangkunegaran-dalam-jamuan-royal-dinner-2026-1777817133