Pertamina Soroti Potensi Kelebihan Solar Akibat Implementasi B50

Pertamina Soroti Potensi Kelebihan Solar Akibat Implementasi B50

Implementasi B50 berpotensi menyebabkan kelebihan stok solar di Indonesia karena kemampuan kilang Pertamina. Meski performa mesin diesel terbukti baik, tantangan mengelola ekses solar jadi fokus utama

(Kompas.com) 30/04/26 19:39 208018

JAKARTA, KOMPAS.com - Vice President Business Development & Subsidiary PT Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan mengungkapkan jika implementasi biosolar B50 berpotensi membuat Indonesia kelebihan stok solar.

Sebab, kilang Pertamina masih mampu menyediakan kebutuhan solar yang dicampur Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sawit untuk menghasilkan B40 lalu kedepannya B50 secara nasional.

Komposisi FAME sawit yang meningkat 50 persen mengakibatkan pemanfaatan porsi solar murni turun.

"Kapasitas kilang kita itu sudah didesain dengan kapasitas sekian. Jika output produk solar diturunkan, maka produk lain seperti gasoline (bensin), elpiji, dan avtur juga akan terdampak. Padahal saat ini posisi solar kita sudah balance, namun kita masih impor bensin sekitar 50 persen," terang Sigit dikutip dari Kontan, Kamis (30/4/2026).

Bila produksi minyak di kilang diturunkan untuk menghindari kelebihan pasokan solar, maka produksi bensin otomatis ikut turun.

Akibatnya porsi impor bensin malah naik, maka hal yang paling masuk akal ialah mengekspor kelebihan solar di dalam negeri meski pasar global terbatas untuk menyerap produk bahan bakar minyak (BBM) jenis ini.

"Besar volume inilah yang harus kita pikirkan bersama, ke mana serapannya akan dialokasikan," jelas Sigit.

Uji coba B50

Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menjelaskan jika performa mesin diesel ketika mengonsumsi B50 dinilai baik.

Mesin diesel mampu menerimanya sebagai bahan bakar minyak (BBM).

"Kalau performa mesin, tadi dari laporannya tim teknis itu sesuai spesifikasi," ujar Eniya dikutip dari Kompas.com, Rabu (22/4/2026).

Pabrikan otomotif yang juga terlibat dalam pengujian melaporkan, kualitas B50 memenuhi standar FAME 49-50 persen, dimana angka setana, viskositas, dan kandungan gliserol memadai untuk disebut sebagai BBM.

Kadar air B50 maksimal 300 ppm dibanding B40 yang mencapai 320 ppm, masih berada di ambang batas yang dipersyaratkan.

Sementara itu, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) yang mengikuti uji coba B50 pada mesin diesel melihat prospek cerah kedepannya.

Mereka berharap agar implementasi B50 jadi alternatif BBM diesel di Indonesia.

"B50 kita mendukung program pemerintah dan itu sudah dilakukan. Sejauh ini hasil sementara yang menunjukkan hal yang cukup bagus. Mudah-mudahan ini juga menjadi alternatif tersendiri, karena mungkin B50 ini yang pertama kali di dunia," kata Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara.

Artikel ini pernah tayang di Kontan dengan judul "Implementasi B50 Menanti, Pertamina Beberkan Tantangan Hingga Potensi Ekses Solar" dan "Uji Coba B50 Pada Mesin Diesel, Dirjen Energi Baru: Sesuai Spesifikasi"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#b50 #performa-mesin-diesel #implementasi-b50 #kelebihan-stok-solar #uji-coba-b50

https://money.kompas.com/read/2026/04/30/193943326/pertamina-soroti-potensi-kelebihan-solar-akibat-implementasi-b50