Perang dan Energi: Bagaimana Krisis Timur Tengah Guncang Ekonomi Dunia

Perang dan Energi: Bagaimana Krisis Timur Tengah Guncang Ekonomi Dunia

Ketika ekonomi global memasuki 2026 dengan optimisme hati-hati, momentum tersebut mendadak terhenti oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.

(Kompas.com) 15/04/26 14:24 192041

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketika ekonomi global memasuki 2026 dengan optimisme hati-hati, momentum tersebut mendadak terhenti oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.

Dalam laporan terbaru World Economic Outlook (WEO), Dana Moneter Internasional (IMF) menegaskan bahwa perang di kawasan tersebut telah memicu lonjakan harga energi global dan membuka kembali risiko krisis ekonomi yang lebih luas.

Direktur Riset IMF Pierre-Olivier Gourinchas menyebut, sebelum konflik memanas, ekonomi global sebenarnya menunjukkan ketahanan.

NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.

Sektor swasta mampu beradaptasi terhadap gangguan perdagangan dan ketidakpastian kebijakan, didukung oleh kondisi keuangan yang relatif kondusif dan perkembangan teknologi.

“Terlepas dari gangguan perdagangan besar dan ketidakpastian kebijakan, tahun lalu berakhir dengan catatan yang menggembirakan,” ujar Gourinchas.

Namun, situasi berubah cepat. Penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia, serta kerusakan fasilitas energi di Timur Tengah memicu lonjakan harga komoditas energi secara tajam.

Harga minyak dan gas meningkat, diikuti kenaikan harga diesel, bahan bakar pesawat, pupuk, aluminium, hingga helium.

Kenaikan ini bukan sekadar fenomena pasar energi. IMF menilai, guncangan tersebut memiliki implikasi luas terhadap perekonomian global melalui sejumlah jalur transmisi yang saling terkait.

Tiga jalur guncangan ekonomi menurut IMF

FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi kilang minyak.

IMF mengidentifikasi tiga mekanisme utama bagaimana krisis energi akibat perang dapat mengguncang ekonomi global.

Pertama, kenaikan harga energi merupakan “negative supply shock” atau guncangan dari sisi penawaran. Dalam kondisi ini, biaya produksi meningkat secara luas karena energi menjadi input utama hampir semua sektor.

“Kenaikan harga komoditas adalah contoh klasik guncangan pasokan negatif: menaikkan harga dan biaya, mengganggu rantai pasokan, dan mengikis daya beli,” kata Gourinchas.

Dampaknya langsung terasa pada rantai pasok global. Biaya logistik meningkat, harga barang produksi naik, dan pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.

Kenaikan harga pupuk, misalnya, berpotensi mendorong inflasi pangan, terutama di negara berkembang yang bergantung pada sektor pertanian.

Kedua, efek guncangan ini dapat diperparah oleh respons pelaku ekonomi. Perusahaan yang menghadapi kenaikan biaya cenderung menaikkan harga jual, sementara pekerja menuntut kenaikan upah untuk menjaga daya beli.

Jika kondisi ini tidak terkendali, dapat terjadi fenomena “wage-price spiral”, yakni lingkaran kenaikan upah dan harga yang saling memperkuat.

IMF mengingatkan bahwa risiko ini meningkat terutama di negara-negara dengan ekspektasi inflasi yang belum sepenuhnya stabil.

Ketiga, krisis energi juga dapat memicu pengetatan kondisi keuangan global. Ketidakpastian ekonomi mendorong investor mencari aset yang lebih aman, seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat, yang pada gilirannya memperkuat dollar AS.

Penguatan dollar AS ini berdampak ganda bagi negara berkembang. Selain meningkatkan tekanan inflasi melalui depresiasi mata uang lokal, beban utang dalam denominasi dolar juga menjadi lebih berat.

“Kondisi keuangan dapat memburuk, dengan valuasi aset yang lebih rendah, premi risiko yang lebih tinggi, pelarian modal, penguatan dollar AS, dan penurunan permintaan,” ujar Gourinchas.

SHUTTERSTOCK/D.EE_ANGELO Ilustrasi inflasi.

Dari energi ke inflasi global

Lonjakan harga energi yang dipicu konflik Timur Tengah telah mendorong IMF merevisi proyeksi inflasi global.

Dalam skenario dasar (reference scenario), inflasi global diperkirakan mencapai 4,4 persen pada 2026.

Angka ini meningkat dibanding proyeksi sebelumnya, mencerminkan dampak langsung kenaikan harga energi terhadap harga barang dan jasa secara keseluruhan.

Dalam skenario yang lebih buruk (adverse scenario), inflasi bahkan bisa mencapai 5,4 persen. Sementara dalam skenario terburuk (severe scenario), inflasi global berpotensi melampaui 6 persen dan bertahan hingga tahun berikutnya.

Kondisi ini mengingatkan pada episode lonjakan harga komoditas sebelumnya, termasuk pada 2022. Namun demikian, IMF menilai situasi saat ini memiliki karakteristik berbeda.

Jika pada 2022 tekanan inflasi dipicu oleh permintaan yang kuat pascapandemi, kini tekanan berasal dari sisi penawaran. Di saat yang sama, ruang kebijakan ekonomi juga semakin terbatas.

Risiko terhadap pertumbuhan ekonomi global

Selain inflasi, krisis energi juga berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi global. IMF memangkas proyeksi pertumbuhan menjadi 3,1 persen pada 2026 dalam skenario dasar.

Jika gangguan energi berlanjut, pertumbuhan bisa turun menjadi 2,5 persen. Bahkan dalam skenario terburuk, pertumbuhan global hanya mencapai sekitar 2 persen, level yang secara historis mendekati kondisi resesi global.

THINKSTOCKS Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Gourinchas menegaskan bahwa tingkat ketidakpastian saat ini sangat tinggi.

“Risiko kerugian jelas sangat tinggi,” ujarnya.

Dampak krisis tidak merata antarnegara. Negara-negara importir energi, terutama yang berpendapatan rendah, menjadi kelompok paling rentan karena harus menanggung kenaikan biaya energi tanpa memiliki buffer fiskal yang memadai.

Sebaliknya, negara eksportir energi dapat memperoleh manfaat dari kenaikan harga, meskipun tetap menghadapi risiko perlambatan ekonomi global.

Pelajaran dari krisis energi sebelumnya

IMF juga membandingkan situasi saat ini dengan krisis minyak pada 1970-an. Menurut Gourinchas, dari sisi besaran, gangguan pasokan minyak saat ini setara dengan krisis pada 1974.

Namun, terdapat dua perbedaan penting. Pertama, ekonomi global kini jauh lebih efisien dalam penggunaan energi dan tidak terlalu bergantung pada minyak.

Kedua, kerangka kebijakan moneter telah mengalami kemajuan signifikan. Bank sentral kini lebih independen dan memiliki mandat yang jelas untuk menjaga stabilitas harga.

“Bank sentral telah belajar. Mereka telah membangun kerangka kerja, dan oleh karena itu ekspektasi inflasi tetap relatif rendah,” kata Gourinchas.

Meski demikian, IMF mengingatkan bahwa risiko tetap ada. Lonjakan harga energi dapat dengan cepat mengubah ekspektasi inflasi, terutama jika berlangsung dalam waktu lama.

Dilema kebijakan ekonomi

Dalam menghadapi krisis ini, IMF menilai kebijakan moneter dan fiskal berada dalam posisi yang sulit.

SHUTTERSTOCK/GAS-PHOTO Ilustrasi harga minyak mentah.

Di satu sisi, bank sentral tidak memiliki kendali langsung atas harga energi global. Namun, mereka tetap harus menjaga agar kenaikan harga tidak berkembang menjadi inflasi yang lebih luas dan persisten.

IMF menyarankan bank sentral untuk bersikap hati-hati. Selama ekspektasi inflasi masih terkendali, mereka dapat “wait and see” sebelum mengambil langkah agresif seperti menaikkan suku bunga.

Namun, jika muncul tanda-tanda spiral inflasi, respons kebijakan harus dilakukan dengan cepat dan tegas.

Di sisi fiskal, ruang kebijakan juga semakin terbatas. Banyak negara menghadapi tingkat utang yang tinggi, sehingga tidak memiliki kapasitas untuk memberikan subsidi energi secara luas.

IMF mengingatkan bahwa kebijakan seperti subsidi dan pembatasan harga memang populer, tetapi sering kali mahal dan sulit dihentikan.

“Pembatasan harga, subsidi seringkali dirancang dengan buruk, sulit untuk dicabut, dan sangat mahal,” ungkap Gourinchas.

Sebagai alternatif, IMF mendorong kebijakan yang lebih terarah, yaitu bantuan yang bersifat sementara dan fokus pada kelompok paling rentan.

Dampak jangka panjang dan transisi energi

Di tengah tekanan jangka pendek, IMF melihat bahwa krisis energi juga dapat mendorong perubahan struktural dalam jangka panjang.

Salah satu implikasi penting adalah percepatan transisi menuju energi terbarukan. Ketergantungan pada energi fosil yang rentan terhadap gangguan geopolitik dinilai semakin tidak berkelanjutan.

Selain itu, krisis ini juga menyoroti pentingnya diversifikasi sumber energi dan peningkatan ketahanan sistem energi nasional.

SHUTTERSTOCK Ilustrasi BBM.

“(Perang ini) juga seharusnya mendorong percepatan adopsi energi terbarukan, yang dapat memperkuat ketahanan terhadap guncangan energi,” kata Gourinchas.

Namun, transisi ini tidak terjadi secara instan. Dalam jangka pendek, dunia masih harus menghadapi dampak langsung dari lonjakan harga energi.

Ketidakpastian yang masih tinggi

IMF menekankan bahwa arah ekonomi dunia ke depan sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah.

Jika konflik dapat segera mereda dan pasokan energi kembali normal, dampak terhadap ekonomi global dapat dibatasi. Namun, setiap hari tanpa penyelesaian meningkatkan risiko pergeseran menuju skenario yang lebih buruk.

Gourinchas menyebut, saat ini dunia berada di antara skenario dasar dan skenario buruk.

“Kita berada di suatu tempat di antara skenario referensi dan skenario yang merugikan,” ujarnya.

Dengan kata lain, ekonomi global saat ini berada dalam fase yang sangat rentan. Krisis energi yang dipicu konflik geopolitik tidak hanya menjadi isu regional, tetapi telah menjelma menjadi ancaman sistemik bagi stabilitas ekonomi dunia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#resesi #selat-hormuz #imf #indepth #konflik-di-timur-tengah #ekonomi-dunia

https://money.kompas.com/read/2026/04/15/142422626/perang-dan-energi-bagaimana-krisis-timur-tengah-guncang-ekonomi-dunia